Rabu, 26 Mei 2010

Sahabat & Cinta (3-Final)

Chapter 3
Perasaan Ini

Setelah aku berbicara dengan Keysha, aku merasa ada yang berbeda. Aku menjadi merasa bahagia dan mempunyai sebuah kekuatan baru.

Aku ingin segera bertemu Fadil, aku ingin pulang bersamanya, aku ingin bercerita dan bercanda dengannya lagi, dan aku juga ingin menyatakan perasaanku padanya. Perasaanku sungguh berbunga-bunga saat ini. Aku menjadi orang yang tidak sabar. Tanpa kutunda-tunda lagi, aku segera menghubungi Fadil dengan handphoneku.

Sebuah nada tunggu dari Ungu “Ku Ingin Selamanya” terdengar ditelingaku, dan lagu tersebut berubah menjadi suara Fadil.

“Hallo!”

“Hallo, Dil! Kamu ada dimana sekarang?” tanyaku tak sabar.

“Masih dikantin. Kenapa?”

“Aku mau kesana? Kamu tunggu aku, ya?”

“Loh, bukannya kamu akan pergi dengan Keysha ke toko buku?” tanyanya heran.

“Gak jadi! Aku mau pulang bareng kamu saja deh! Aku ada perlu dengan kamu. Tolong tunggu aku, ya?” pintaku dengan manja.

“Ok! Cepet ya?”

“Flip!” Fadil menutup handphonenya dan dengan sabar dia menunggu kedatangan Athalia.
“Tha, Aku disini akan selalu menunggumu ... selalu ...”




TAMAT
Copyright Sweety Qliquers
www.mininovel-lovers86.blogspot.com


Sahabat & Cinta (2)

Chapter 2
Cintakah Ini??


“Atha, kok melamun sih? Tanganku sakit nih, sampai kapan kamu pegang tanganku terus?” Suara Keysha membuyarkan lamunanku.

“Duh, sorry banget ya? Aku gak bermaksud nyakitin tanganmu.”

“He eh gak apa-apa! By the way, tadi ada masalah apa sampai aku ikut-ikut diseret nih?” tanya Keysha penasaran.

“Biasa lah! Fadil ngajak pulang bareng lagi,” jawabku seadanya.

“Kenapa sih kamu gak mau diajak pulang sama dia? Biasanya juga kamu pulang bareng dengan dia. Tumben-tumbenan kamu beberapa hari ini gak pulang bareng dia lagi. Apa sedang ada masalah dengannya?”

“Gak ada! Aku hanya pengen pulang sendiri saja.”

“Kamu gak bisa bohongin aku Tha. Aku tahu kamu itu sedang ada masalah dengannya. Iya, kan?”

Keysha tampak penasaran dengan tingkahku ini Dengan berbagai cara dia berusaha membujukku untuk menceritakan perasaanku. Akhirnya aku mengalah juga, kuceritakan permasalahan yang sedang terjadi pada diriku.

“Kamu tentu sudah tahu kalau aku sudah berteman dengan Fadil sejak dari kecil? Pertemanan kami saat ini rasanya ada yang berubah semenjak dia mencoba melindungi aku dari gangguan si Jabrik, preman di sekolah ini.”

“Oh, kasus si Jabrik yang mencoba merayu kamu supaya menjadi pacarnya, kan? Terus apalagi yang terjadi?”

“Nah, semenjak kejadian itu aku menjadi risih dengan kehadiran Fadil. Di satu sisi aku bangga karena dia membelaku dan melindungiku, disisi lain ada perasaan gelisah yang membuatku memandangnya bukan sebagai sahabat lagi. Aku melihat dia sebagai sosok seorang pria yang begitu gagah dan kuat serta rela berkorban demi seorang gadis yang dicintainya. Setiap hari dirinya semakin mempesona, hal ini terus menggangguku.”

“Wah ... wah ... wah ...,” Keysha serius mendengarkan curhatku. “Lalu, perasaanmu padanya jadi berubah, begitu?”

“Setiap aku melihat Fadil, yang kulihat bukan Fadilku yang dulu, teman sedari kecil, tetapi Fadil yang mempesona. Aku tidak mau mempunyai pikiran ini, aku hanya ingin menganggap Fadil sebagai sahabat saja, tidak lebih dari itu. Karena itu, aku berusaha menghindarinya agar aku bisa menghilangkan perasaan yang ada dihati ini. Tapi kenyataannya ... aku tetap tidak bisa. Wajahku semakin bersemu merah setiap kali berjumpa dengannya dan aku semakin malu jika dia memperhatikan diriku.”

Keysha tersenyum, kemudian menepuk pundakku halus dan menjabat tanganku dengan wajah ceria. “Itu namanya Cinta, Tha! Kamu sedang jatuh cinta pada Fadil. Selamat, ya? Pertahankan saja perasaan itu dan kamu tidak perlu capek-capek berusaha menghilangkannya. Rugi juga loh kalau kamu harus kehilangan Fadil. Dia cukup tampan, baik dan populer juga kan?“

Keysha berusaha meyakinkanku agar aku tetap mempertahankan rasa ini. Dan aku masih merasa galau.

“Aku rasa jika aku tetap menyimpan perasaan ini, persahabatan kami bisa hancur Key! Seandainya dia menerima perasaanku, aku bisa bahagia. Tetapi jika dia menolakku, persahabatan kami yang sudah lama ini akan bubar dengan membawa beban di pundak. Aku bisa menderita nantinya,” ujarku ketakutan.

“Hei, Non! Begitu saja kok takut! Seorang sahabat sejati pasti akan mengerti perasaan sahabatnya, dan tidak akan membuat sahabatnya itu menderita. Kamu tidak perlu takut, biarkan saja perasaan itu semakin mekar dihatimu.”

Kata-kata Keysha membuatku terpana. Aku semakin ingin mendengarkan nasehatnya. Ya, saat ini aku memang membutuhkan saran dari seorang kawan, agar aku tidak terbebani oleh pikiranku sendiri.

“Walaupun dia nanti menolakmu, kamu tidak perlu kecewa. Jika dia hanya bisa mencintai orang lain dan hidupnya bahagia, kamu tidak perlu iri dan benci. Karena kamu sudah memiliki harta yang tak ternilai harganya, yaitu Cinta dan Pengorbanan. Harta itu membuat kamu bisa mencintai seseorang dan rela berkorban demi kebahagian orang yang kamu cintai.”

Aku menangis dalam hati, apakah saat ini aku bisa melihat Fadil dengan gadis lain? Hal yang selama ini tidak pernah terpikirkan olehku. Selama kami berteman, aku tidak pernah perduli jika dia mengajak gadis lain dengan sepedanya. Aku tidah pernah cemburu sama sekali. Tetapi kali ini, untuk memikirkannya saja aku menjadi miris. Hatiku terasa sakit seakan tertusuk beribu-ribu jarum.

“Cinta ... ,” aku bergumam dalam hati. Aku termenung, dan mencoba memahami arti cinta yang sebenarnya.

Entah kenapa, tiba-tiba aku mempunyai kekuatan. Mungkin ini kekuatan cinta, aku harus menjadi kuat. Aku harus bisa mengalahkan perasaan cemburu ini, dan aku ingin mencoba memelihara dan merawat perasaanku yang baru pada Fadil. Cinta ini akan kusirami, kuberi pupuk dan kubiarkan berbunga serta mekar seperti layaknya mawar.

“Keysha ... ,” ujarku tiba-tiba. “Kamu memang sahabat terbaik yang pernah kukenal. Aku salut padamu. Terima kasih karena kamu telah memberiku saran dan petuah yang berharga sekali. Aku tak bisa membayangkan, akan seperti apa jadinya jika aku tidak bercerita padamu. Mungkin saat ini aku masih dilanda ketakutan dan terombang ambing oleh perasaan ini. Kamu memang hebat!”

Aku peluk Keysha dengan erat. “Terima kasih Keysha!

“It’s ok, friend! Besok, kalau mau curhat lagi, temui aku lagi ya? Aku siap menampung segala keluh kesahmu, loh! Sekalian buka praktek psikolog deh! He ... he ... he ...”

Sahabat & Cinta (1)

Chapter 1
Fadil & Sepedanya


“Tha, kamu mau pulang bareng aku, nggak?”

Sebuah suara yang kukenal menyapaku dari belakang. Kulihat Fadil sedang mengendarai sepeda ontel bututnya menuju ke arahku.

Setiap hari Fadil selalu mengajakku berangkat dan pulang sekolah bersama, dan setiap hari pula aku menolaknya dengan cara halus, “Maaf, Dil! Hari ini aku juga tidak bisa ikut pulang dengan kamu. Aku harus membeli buku dulu.”

“Kalau begitu, aku antar kamu deh! Kamu mau beli buku dimana?”

“A ...a ... aku mau beli buku di Toko Tulip’s. Kamu tidak perlu mengantarku, karena aku pergi dengan ... dengan ... ,” Aku bingung harus mengajak siapa, kucoba lirik kanan lirik kiri mencari-cari siapa yang bisa kujadikan alasan untuk ikut denganku membeli buku. Saat itu juga mataku tertuju pada seorang gadis manis tapi centil, Keysha.

“Nah, kebetulan Keysha akan lewat ke arah sini.”

“Ehm, aku ... aku akan pergi dengan Keysha,” jawabku gugup seraya cepat-cepat menghampiri Keysha dan menggandeng tangannya.

Keysha kebingungan karena ulahku itu. Aku menyeringai kepadanya dan mengedipkan mata padanya agar dia mau mengerti keadaanku.

“Oh ... begitu? Ya sudah, bagaimana kalau besok? Kamu bisa, kan?” Fadil berharap padaku dengan wajah memohon.

Aku tidak tahu harus berkata apa lagi untuk menolaknya. Aku hanya bisa mengucapkan, “Lihat besok aja deh, jika memang tidak ada halangan, aku mungkin bisa pulang bersamamu.”

Sebenarnya aku malu jika harus ikut pulang dengan Fadil. Akhir-akhir ini perasaanku gelisah jika harus dekat-dekat dengannya. Wajahku selalu memerah pada saat kami bertemu pandang dan perhatiannya membuatku merasa risih.

Aku kenal dia sejak dari kecil. Dari tahun ke tahun kami selalu satu sekolah, mulai dari TK, SD, SMP sampai dengan sekarang, SMU. Bosen juga sih lihat tampangnya terus, tapi karena Fadil anak yang enak diajak curhat dan asik, jadi aku agak terhibur juga. Semua anak menyukai Fadil karena dia pintar dan supel. Kalau dilihat-lihat lagi wajahnya lumayan juga kok, gak kalah dengan Robert Pattinson. .

Kerennya lagi, dia tuh jago basket dan suka sekali naik sepeda ontel bututnya. Aku sudah terbiasa naik sepeda ontel dengannya saat ke sekolah atau hanya berkeliling komplek dan pasar. Di sepanjang jalanpun kami sudah terbiasa berceloteh dan bersenda gurau.

Kalau dijaman sekarang anak muda lebih senang naik sepeda motor, mulai dari motor bebek sampai motor otomatis, tapi Fadil lebih senang dengan sepeda ontel bututnya. Kemana pun dia pergi, sepeda itu tidak pernah lepas dari tangannya. Dia tidak malu walau hanya menenteng sepeda butut.

“Ini sepeda warisan dari kakeku. Kakek pernah berpesan agar aku merawat sepeda itu. Jika aku sayang Kakek, maka aku pun pasti sayang pada sepedanya, karena Kakek merawatnya dengan sepenuh hati seperti dia menyayangiku dengan sepenuh hati pula.” Inilah jawaban yang kudapat ketika kutanyakan padanya mengapa dia begitu senang pada sepeda ontelnya.

“Lagipula dari tahun ke tahun, sepeda ini akan semakin berharga. Aku jamin harganya bisa mencapai ratusan juta, karena sepeda ini akan menjadi barang antik. Iya, kan? Pada saat harganya sudah tinggi, aku akan menjualnya. Kan, aku bisa jadi kaya mendadak! He ... he ... he ..., “ candanya kemudian. Kupikir Fadil memang konyol juga ya?

Sahabat & Cinta (Sinopsis)

Sahabat & Cinta
Created By Sweety Qliquers
(Samarinda, Kamis <> 290410, 0342 PM)



Sahabat & Cinta
Chapter 1 Fadil & Sepedanya
Chapter 2 Cintakah Ini??
Chapter 3 Perasaan Ini


Sinopsis

“Setiap aku melihat Fadil, yang kulihat bukan Fadilku yang dulu, teman sedari kecil, tetapi Fadil yang mempesona. Aku tidak mau mempunyai pikiran ini, aku hanya ingin menganggap Fadil sebagai sahabat saja, tidak lebih dari itu. Karena itu, aku berusaha menghindarinya agar aku bisa menghilangkan perasaan yang ada dihati ini. Tapi kenyataannya ... aku tetap tidak bisa. Wajahku semakin bersemu merah setiap kali berjumpa dengannya dan aku semakin malu jika dia memperhatikan diriku.”
(Athalia Ananda_Atha)

“Ini sepeda warisan dari kakeku. Kakek pernah berpesan agar aku merawat sepeda itu. Jika aku sayang Kakek, maka aku pun pasti sayang pada sepedanya, karena Kakek merawatnya dengan sepenuh hati seperti dia menyayangiku dengan sepenuh hati pula.”
“Lagipula dari tahun ke tahun, sepeda ini akan semakin berharga. Aku jamin harganya bisa mencapai ratusan juta, karena sepeda ini akan menjadi barang antik. Iya, kan? Pada saat harganya sudah tinggi, aku akan menjualnya. Kan, aku bisa jadi kaya mendadak! He ... he ... he ..., “
“Tha, Aku disini akan selalu menunggumu ... selalu ...”
(Fadil Andromedha_Fadil)

“Hei, Non! Begitu saja kok takut! Seorang sahabat sejati pasti akan mengerti perasaan sahabatnya, dan tidak akan membuat sahabatnya itu menderita. Kamu tidak perlu takut, biarkan saja perasaan itu semakin mekar dihatimu.”
(Keysha Dinata_Keysha)



Tokoh Sahabat & Cinta

Athalia Ananda (Athalia)
Entah kenapa setelah curhat dengan Keysha Dinata (Keysha), tiba-tiba Athalia Ananda (Atha) mempunyai kekuatan. Mungkin itu kekuatan cinta, kekuatan cinta yang membuatnya menjadi kuat. Ia ingin mencoba memelihara dan merawat perasaannya yang baru pada Fadil Andromedha (Fadil). Cinta itu akan ia sirami, ia beri pupuk dan ia biarkan berbunga serta mekar seperti layaknya mawar.



Fadil Andromedha (Fadil)
Fadil Andromedha (Fadil) anak yang enak diajak curhat dan asyik. Semua teman-temannya menyukai Fadil Andromedha (Fadil) karena dia pintar dan supel. Kalau dilihat-lihat lagi wajahnya lumayan juga kok, gak kalah dengan Robert Pattinson.

Kerennya lagi, dia tuh jago basket dan suka sekali naik sepeda ontel bututnya. Kalau dijaman sekarang anak muda lebih senang naik sepeda motor, mulai dari motor bebek sampai motor otomatis, tapi Fadil Andromedha (Fadil) lebih senang dengan sepeda ontel bututnya. Kemana pun dia pergi, sepeda itu tidak pernah lepas dari tangannya. Dia tidak malu walau hanya menenteng sepeda butut.


Keysha Dinata (Keysha)
Menurut Keysha Dinata (Keysha), Walaupun Fadil Andromedha (Fadil) nanti menolak cinta Athalia Dinata (Atha), Seharusya Atha tidak perlu kecewa. Jika Fadil hanya bisa mencintai orang lain dan hidupnya bahagia, Atha tidak perlu iri dan benci. Karena Atha sudah memiliki harta yang tak ternilai harganya, yaitu Cinta dan Pengorbanan. Harta itu yang membuat Atha bisa mencintai seseorang dan rela berkorban demi kebahagian orang yang ia cintai.

Sabtu, 15 Mei 2010

Rokok (8-End)

Chapter 8
Hypnoteraphy


Clara memasuki ruangan sederhana bergaya minimalis itu. Ia telah membicarakan penyebab ia sering menghilang pada jam kantor kepada Pak Marvel beberapa hari yang lalu. Pimpinannya itu memberikan alamat di salah satu kota besar dekat kota mereka bekerja. Tempat yang dapat Clara kunjungi setiap hari Sabtu sehingga tidak mengganggu jam kantor.

Clara menghela nafas.

"Iih... ngapain sih ke sini?" Bayangan Clara bertanduk merah dengan trisula ditangannya tampak cemberut di sebelah kiri.

"Teruskan Clara, jalanmu sudah benar!" Bayangan Clara berjubah putih dengan lingkaran emas melayang di atas kepala menyemangati di sebelah kanan. "Ayo, jangan ragu!" desaknya lagi bijak, lalu tersenyum penuh kemenangan saat Clara asli mengetuk pintu masuk.

"Selamat pagi, Clara," sapa dr. Wiguna, "Sudah siap menjalani sesi hypnoteraphy yang pertama?"



TAMAT
Copyright Sweety Qliquers
www.mininovel-lovers86.blogspot.com


Rokok (7)

Chapter 7
Kecanduan Rokok


"Hai, hai...." Clara menyapa para sahabatnya pada janji temu di cafe resto langganan mereka.

"Cuti atau skorsing cara halus?" Melati bertanya sambil lalu seraya memanggil pelayan agar mencatat pesanan mereka.

"Kamu kelihatan kuyu, kusam," Chacha menelaah penampilan temannya. "Kenapa sih mesti ngerokok lagi? Padahal, aku sendiri kepingin banget bisa berhenti, lho?"

Clara mengangkat bahu. Tidak bisa dipungkiri, Chacha benar. Mata dan wajahnya tidak sebening dulu. Nafas pun terasa lebih sesak, belum lagi tenggorokan yang sering gatal tiba-tiba.

Pelayan datang. Mereka memesan makanan kesukaan masing-masing. Clara kemudian menceritakan kebiasaan lamanya yang kembali dilakoni.

"You are addicted, My Friend," kata Helen, ketika caffe latte-nya datang lebih dulu. "Semua kecanduan makin lama dosisnya makin besar. You name it... ciggarette, alcohol, drugs, gambling, sex..."

"Kecanduan bisa sembuh, kan ?" Clara mencoba mencari jalan keluar dengan argumentasi yang lemah. "Toh aku pernah stop."

"Iya, tapi terus balik lagi," tampik Melati sambil sembari menyomot kentang goreng dari piringnya yang baru saja diletakkan di atas meja. "Lagian, ngapain sih pakai ngumpet-ngumpet? Pakai menghabiskan bensin bolak-balik dari kantor ke kost, lalu memasang exhaust fan segala. Ya, sudah... enjoy saja lagi!" jelasnya. "Hm... atau mungkin karena kucing-kucingan itu barangkali, kamu merasa jadi semakin suspense dan menantang, tambah nggak bisa lepas. Seperti orang selingkuhlah kira-kira. Setiap saat yang dilalui bersama menjadi amat sangat berharga dan anything will be done to have that moment...."

"Ya, benar banget tuh, Ra," tambah Helen. "Cuek saja lagi. Just be yourself-lah. Jangan sok munafik," ujarnya enteng dengan mulut mengunyah makanan.

"Kalian bisa ngomong begitu karena di sini sudah umum melihat perempuan dengan rokok di tangan. Kalau kalian di kantor butuh refreshing tinggal pergi ke daerah tangga darurat dan merokok. Just like that," Clara menjentikan jari tengah dan ibu jarinya. "There, I really am against the environment, against the rules." Clara membela diri. "Lagian, aku kan mulai lagi karena sebel sama Arjuna."

"Please, deh...." Helen mulai bete. Ia paling tidak suka sahabatnya menjadi lemah karena patah hati. "Nggak ada hubungannya antara rokok dan Arjuna. Rokok ya rokok. Arjuna ya Arjuna. Masih bagus ketahuan dari sekarang dia bohongi kamu ketimbang setelah kalian menikah!"

"Tapi... for your information, Ladies, rokok itu sudah seperti teman baik, di bawah satu level dari kalianlah. Selalu ada saat aku sebal, hampa, bosan, sakit perut, senang, excited, dan banyak lainnya deh!" Clara tetap berusaha membela diri.

Chacha menginjak Helen yang asyik dengan spaghetti-nya. "Iya, Neng. Tapi kalau sudah sampai mengganggu pekerjaan sih namanya bukan teman lagi!" sanggahnya. Piring kedua berisi kentang goreng mendarat di hadapannya. "Tell you a secret, ya? Kami ini senang banget waktu kamu berhenti merokok, dan kepingin banget bisa kayak kamu."

"Iya, bener !" helen dengan mulut penuh melanjutkan. "Memang sih level niat berhentiku paling rendah dibanding mereka berdua... tapi at least ada niatlah...."

Clara tercenung. Mereka benar. Ini pertikaian antara ego melawan tawaran menjadi lebih baik dan lebih sehat. Pergulatan antara membuat keputusan serta komitmen versus keengganannya melepas kebiasaan. Arjuna? Kalau dipikir, ditimbang, dan dirasa lagi, Arjuna sebenarnya sudah 'ke laut'. Stop, jangan, stop, jangan. Clara tak berdaya. Tetap tak ada kancing yang dapat dihitung.

Rokok (6)

Chapter 6
Teguran Big Boss


Dua bulan berlalu. Sakit hati Clara belum sembuh. Arjuna belum hilang dari hati dan benak. Satu batang tiap siang kian bertambah menjadi tiga sampai empat batang tiap pagi, siang, sore dan malam serta di setiap kesempatan yang ada. Total sehari bisa hampir satu bungkus.

Sepertinya batangan-batangan itu lebih cepat habis terhisap dibandingkan dulu. Pekerjaan pun sering terbengkelai karena waktu yang tercuri dan terbuang untuk pulang pergi kost untuk merokok pada jam kantor. Otak Clara lebih sering digunakan untuk mencari alasan dan cara agar ia bisa menikmati batang-batang rokoknya. Hingga suatu siang, Clara dipanggil oleh Pak Marvel.

"Clara, apa kamu ada masalah akhir-akhir ini?" Pak Marvel memandang dengan serius namun prihatin.

"Tidak, Pak." Clara menggeleng sambil mengaktifkan tampang lugu gadis desa tanpa dosa, berusaha meyakinkan pimpinannya itu. Segaris rasa bersalah menoreh hati Clara. Pak Marvel sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri. Baik, perhatian, sekaligus tegas dan sangat percaya padanya. Sempat tergelitik untuk menceritakan kebiasaan barunya itu, tapi urung dilakukannya.

"Terus terang, kinerjamu menurun akhir-akhir ini dan sangat mengganggu sekali." Pak Marvel menarik nafas berat terngiang teguran dari Big Boss karena laporan audit yang tidak akurat. "Hampir seluruh laporanmu salah dan terlambat! Banyak keluhan, sulit sekali mencari kamu dan sudah berapa kali rapat penting kamu tidak hadir!" Pak Marvel diam sejenak kemudian nadanya melembut. "Kalau ada masalah bilang saja. Siapa tahu Bapak bisa bantu mencarikan jalan keluarnya."

Clara tetap mematung. Kali ini ekspresi penuh sesal dan maaf yang terpampang di wajahnya.

Pak Marvel menghela nafas lagi, "Ada baiknya kamu cuti dulu, Clara. Toh jumlah cutimu juga masih banyak. Bapak harap apa pun yang kamu hadapi sekarang, dapat segera terselesaikan. Biar nanti Dita yang meng-handle pekerjaanmu sementara."

"Bu-bukan skorsing kan, Pak?" Clara ketar-ketir.

"Bukan," Pak Marvel menenangkan. "Bapak rasa kamu butuh refreshing sejenak. Siapkan form cutimu dan segera Bapak tandatangani."