Sabtu, 27 Maret 2010

Dilema Yasmine (Sinopsis)

Dilema Yasmine
Created By Sweety Qliquers
(Samarinda, Kamis <> 280110, 0315PM)



Dilema Yasmine
Chapter 1 Luka ini…
Chapter 2 Menghapus Luka
Chapter 3 Kembalinya Yasmine


Sinopsis
Yasmine Artalyta (Yasmine) perempuan lemah yang patut disayangi. Kecelakkan pesawat yang dialaminya adalah sebuah mimpi terburuk yang pernah ia rasakan sepanjang hidupnya. Yasmine Artalyta (Yasmine) buta total. Hari penuh kecerianya tak lagi terkuak. Hanya ada kelam, hitam yang betul-betul legam ketika ia memandang. Belum lagi ia dikhianati oleh Carissa Ayushita (Carissa)-Adik kandungnya sendiri yang merebut Kekasih hatinya-Dewa Pramudia (Dewa).

Yasmine mengisi hari-hari buramnya di USA bersama Fabian. Tak mudah melalui waktu dua tahun di Amrik. Tak mudah menghapus duka dalam tempo waktu yang singkat, dua tahun itu waktu yang begitu singkat bagi Yasmine untuk menghapus luka. Dengan waktu yang singkat itulah Yasmine melakukan perubahan dan memandirikan sifatnya yang selalu menyusahkan Carissa dan Dewa.


Ia telah kembali seperti dulu. Ia telah pergi meninggalkan luka lama. Kini ia dapat menikmati kembali dunia. Dapat merasakan diri yang tak lagi dilanda pahitnya sakit hati. Yang lebih tepatnya untuk sebuah pengkianatan rasa, cinta.


Yasmine berusaha tegar kembali. Yasmine kembali hanyut dalam rasa luka yang mendalam. Yasmine tak kuat menahan asa yang membara. Setelah bertemu Carissa dan Dewa. Dalam kehampaan rasa ‘sakit’ inilah sosok Fabian dibutuhkannya.

Setelah kembali ke Indonesia, akhirnya Yasmine menemukan Carissa yang sedang hamil besar. Siapakah ayah dari anak yang dikandung Carissa? Mungkinkah Dewa yang ditemukannya duduk, tertawa sendiri, menangis lalu tertawa kembali di pinggir jalan? Masihkan cinta tulus Yasmine akan dipersembahkannya untuk Dewa, Lelaki yang meninggalkannya dalam gelap? Atau ia akan menerima cinta tulus Fabian yang selalu menemaninya, yang selalu ada untuknya?




Karakter Tokoh Dilema Yasmine
Yasmine Artalyta (Yasmine)
Yasmine Artalyta (Yasmine) perempuan lemah yang patut disayangi. Kecelakkan pesawat yang dialaminya adalah sebuah mimpi terburuk yang pernah ia rasakan sepanjang hidupnya. Yasmine Artalyta (Yasmine) buta total. Hari penuh kecerianya tak lagi terkuak. Hanya ada kelam, hitam yang betul-betul legam ketika ia memandang. Belum lagi ia dikhianati oleh Carissa Ayushita (Carissa)-Adik kandungnya sendiri yang merebut Kekasih hatinya-Dewa Pramudia (Dewa).

Carissa Ayushita (Carrisa)
Adik kandung Yasmine Artalyta (Yasmine) yang tega merebut kekasih hati kakaknya. Yang akhirnya mengandung benih Dewa Pramudia (Dewa).


Dewa Pramudia (Dewa)
Dewa Pramudia (Dewa) berada dalam kebimbang, siapakah yang harus dipilihnya? Yasmine Artalyta (Yasmine)-kekasihnya yang memerlukan perjuangan yang sulit untuk mendapatkan cintanya tetapi ia mengalami kecelakaan pesawat dan buta total. Atau Carissa Ayushita (Carissa)-Adik kandung Yasmine Artalyta (Yasmine) yang masih memiliki fisik sempurna.



Fabian Maheswara (Fabian)
Teman semasa SMA Yasmine Artalyta (Yasmine). Demi rasa cintanya pada Yasmine Artalyta (Yasmine), Fabian Maheswara (Fabian) rela menemani Yasmine Artalyta (Yasmine) pergi ke USA untuk mengobati kebutaannya.





Bintang Tak Akan Jatuh (5-End)

Chapter 5
Ultah Chacha


Di pesta ulang tahun Chacha. Aku duduk kecapekan di teras belakang rumah. Nafasku ngos-ngosan. Aku memang capek luar biasa. Dari pagi sampai tadi kerja terus. Nggak ada istirahatnya. Semua memang aku kebut sendirian. Dari mengangkati sofa-sofa ke luar ruangan, mendekor ruangan, sampai mengambil pesanan kue ulang tahun. Aku babat sendirian.

Meski capeknya setengah mati, aku cukup senang bisa membahagiakan Chacha. Setidaknya Chacha jadi tahu kalau aku ini bisa diandalkan. Aku tersenyum bangga. Segera aku bangkit. Kudengar suara-suara dari ruang depan. Tamu-Tamu sudang datang rupanya. Aku harus segera mandi dan tampil maksimal. Biar sebanding kalau nantinya berdiri di samping Chacha saat pemotongan kue.

Untung aku bawa baju dan peralatan mandi. Aku mandi di kamar mandi pembantu. Kedua pipiku kusabuni sampai benar-benar kinclong. Barangkali saja nanti dapat jatah ciuman dari Chacha.

Sehabis mandi aku dandan sebentar. Memakai jas kawin ayahku dulu yang kuambil diam-diam-diam. Sekalian juga memakai dasi kupu-kupu yang kupinjam dari Mas Burhan, tetanggaku. Rambutku yang berantakan kuberi minyak rambut. Biar nggak terlihat seperti sarang tawon. Setelah semuanya cukup pantas, aku masuk ke ruangan tengah yang telah kusulap menjadi arena pesta.

Aku berjalan dengan dada membusung dan wajah terangkat. Kulepas senyum ke segala arah dan sudut. Kurasakan seluruh mata tertuju padaku. Andai aku selebritis, pastinya kilatan blitz akan mengarah padaku saja.

Kudekati Chacha yang tengah berbincang dengan Helen. Duh, aku terpesona melihatnya. Dia terlihat seperti bidadari dengan balutan gaun berwarna biru muda begitu. Bahunya yang terbuka terlihat sangat mulus dan kinclong.

"Yan, bisa tolong aku?"

"Apa yang nggak bisa aku bantu buat kamu. Ryan gitu, loh!"

Chacha tersenyum senang. "Tolong dong, aturin kendaraan di luar. Katanya semrawut. Jadi susah parkirnya. Sekalian kamu jaga juga. Biar nggak ada yang hilang."

"Oke. Itu sih kecil."

"Kamu baik, deh!" Chacha menowel pipi kananku. Aku terkaget karenanya.

Aku keluar. Memang benar mobil parkir semrawut. Ada yang melintang kanan, ada yang melintang kiri. Waduh, baru belajar setir mobil barangkali semuanya. Parkir saja tidak becus.

"Woi, dekorator merangkap jadi tukang parkir juga?"

Aku menoleh. Rendy tertawa terbahak melihatku. Aku mencibir jelek.

"Ngapain kamu datang? Memangnya diundang?"

Tanpa menjawab Rendy mengacungkan undangan di tangannya.

"Bawa kado nggak? Kalau nggak, nggak boleh masuk."

"Tuh ada yang mau parkir."

Aku menoleh. Mobil sedan mulus terlihat masuk. Aku berlari menyongsong. Rendy tertawa-tawa masuk ke dalam.

"Kiri! Kiri! Terus! Ya, Stop!"

Seorang pria keluar dari dalam mobil.

"Lama benar datangnya, Mas! Parkiran sudah semrawut, nih."

Matanya memicing menatapku. "Apa hubungannya parkiran sama aku?"

"Bukannya Mas satpam di rumah ini?"

"Enak saja. Aku ini pilot. Bukan satpam. Baca nih. Nggak pernah naik pesawat, ya?! Kasihan deh, lu!"

Aku garuk kepala. Eh, benar juga. Sial deh. Kirain satpam. Seragamnya mirip sih.

"Maaf deh, Mas."

"Kerja yang benar. Jaga mobil aku. Awas kalau sampai lecet."

"Iya...."

Dia berlalu. Gagah nian gayanya. Kulihat ia membawa seikat bunga.

Kudengar lagu selamat ulangtahun mengalun dari dalam. Aku harus ada di samping Chacha, nih. Segera aku masuk. Kulihat si Pilot tadi berdiri di samping Chacha. Ia membantu Chacha memotong tart tiga tingkat itu. Chacha memberikan potongan itu padanya. Baru sekali para undangan meneriakkan kata cium, si Pilot itu sudah mencaplok bibir Chacha. Anehnya Chacha cuma ketawa saja.

Dadaku terbakar melihatnya.

"Teman-teman, ini namanya Mas Bima. Pacar Chacha. Chacha sangat bahagia, meski sangat sibuk, Mas Bima masih menyempatkan diri untuk datang ke pesta ini."

Aku terperanjat. Pria itu pacarnya? Jadi....selama ini Chacha menganggapku apa?
Kaki kuhentak kesal. Aku berbalik.

"Yan, mau kemana?" Rendy mengejarku.

"Pulang!" sahutku ketus.

Di parkiran kulihat mobil mulus tadi. Aku tersenyum licik. Kukempeskan seluruh ban mobil itu. Biarin deh. Nggak berani mengempeskan orangnya, mobilnya juga jadi.

Rendy cuma angkat bahu. Lantas ia berbalik kembali masuk ke ruangan.

"Ren, tega kamu ya...."

Matanya memicing.

"Teman lagi sedih, malah kamu tinggalkan begitu saja."

Rendy terbahak. "Aku juga bilang apa? Kamu yang kege-eran. Jadi pulang saja sendiri. Gila aja aku tinggalkan makanan-makanan enak di dalam."

Aku terdiam. Lunglai aku melangkah pulang. Tiba-tiba perutku terasa perih, baru terasa laparnya sekarang. Terbayang makanan-makanan enak di ruang pesta tadi. Liurku berlomba keluar. Kebimbangan menyergap. Terus pulang atau berbalik.

Akhirnya aku berbalik. Seperti kata Rendy. Gila aja meninggalkan makanan-makanan enak. Nggak dapat orangnya, dapat makanannya juga jadi. Akan aku habiskan semuanya. Biar si Pilot itu nggak dapat apa-apa. Biar perutnya kempes mirip ban mobilnya. Hahahaha....




TAMAT
Copyright Sweety Qliquers
www.mininovel-lovers86.blogspot.com

Bintang Tak Akan Jatuh (4)

Chapter 4
Permintaan Chacha


Pagi di sekolah. Di ruang kelas, hanya ada aku dan Chacha. Memang semenjak dekat dengan Chacha, aku selalu berusaha untuk datang sepagi mungkin. Biar bisa berduaan. Agar kami semakin akrab dan lebih mengenal pribadi masing-masing.

“Yan, minggu depan aku ulang tahun.”

“Oya?”

“Rencananya mau aku rayain.”

“Di hotel atau cafe?”

“Di rumah aja. Aku bisa minta bantuan kamu nggak?” Tanyanya ragu-ragu.

“Bisa dong!” Sahutku cepat dengan dada membusung. Cowok mana yang tidak berbangga hati jika diminta bantuannya oleh seorang cewek yang sangat dicintainya.

“Bantuan apa?”

“Banyak. Misalnya membagikan undangan, menghias ruangan. Pokoknya kaya’ seksi repot gitu deh!”

“Kalau itu mah kecil. Kebetulan aku sering mendekor ruangan pesta di kompleks rumahku.”

Chacha tersenyum. Manis banget. Aku menelan ludah. Kalau saja aku punya keberanian, sudah kucium pipinya itu.

***

“Bayangkan, Ren! Chacha memintaku untuk terlibat di pesta ulang tahunnya minggu depan.” Ucapku semangat begitu Rendy duduk disampingku.

“Memangnya di pesta Chacha nanti ada badutnya?”

“Apa hubungannya keterlibatanku di pesta ulang tahun Chacha sama badut?”

“Bukannya Chacha minta kamu buat jadi badutnya?”

“Bukan, sialan!”

“Terus?”

“Chacha minta aku buat bagiin undangan dan mendekor ruangan pestanya.”

“Dan kamu bangga dengan permintaannya itu?”

“Tentu saja. Berarti Chacha membutuhkan aku.”

Rendy terbahak. Aku menatapnya jengkel. Karena kupikir tidak ada yang lucu dan pantas untuk ditertawakan.

“Apanya yang lucu?”

“Ya, kamu itu. Sudah dibodohin, bangga lagi. Dia itu Cuma manfaatin tenaga kamu. Kirain dia minta kamu buat jadi pendampingnya.”

Aku mencibir. Dasar Rendy sirik dengan rezekiki. Soalnya aku tahu, kalau dia juga ada hati sama Chacha. Coba kalau dia yang dimintai tolong sama Chacha, pasti dia juga nggak nolak.

“Cemburu?”

“Cemburu sama kamu?” Mata Rendy melotot.

“Yang bener aja. Chacha itu bukan level kita. Kamu aja yang nggak tahu diri dan mau dibodohi sama dia.”

Bintang Tak Akan Jatuh (3)

Chapter 3
Dukun?!?!?!


“Kaya’nya sekarang kamu mulai dekat sama Chacha.”

“Siapa dulu dong, Ryan!” Kataku sambil menepuk dada.

Rendy mencibir. “Kamu pelet dia ya?” Bisiknya kemudian.

Aku melotot sama sahabat karibku itu. “Kamu pikir aku cowok pengecut, yang hanya berani mengambil jalan pintas?!”

Kembali Rendy mencibir. “Kalau nggak mana mungkin Chacha mau dekat-dekat sama kamu. Tampangmu kan kurang komersil.”

“Berapa kali aku harus bilang. Kegantengan bukan segalanya. Masih ada sesuatu yang lebih penting diatas itu.”

“Apa?”

“Cinta dan perhatian. Plus kasih sayang.”

Rendy terbahak. Seolah mengejek ucapanku barusan. Terus terang aku sakit hati mendengar tawanya itu.

“Kalau hanya itu, setiap orang juga punya untuk cewek secantik Chacha. Tapi harta dan tampang tidak semua orang punya.”

“Terserah anggapanmu. Yang pasti Chacha memilih aku sebagai cowok yang paling dekat dengannya untuk saat ini. Itu Karena aku punya keistimewaan, dong!”

“Dukun kamu barangkali, sakti luar biasa.”

Aku menatap Rendy tidak suka. “Terserah apa katamu.”

Bintang Tak Akan Jatuh (2)

Chapter 2
Gara-Gara Novel

“Hai...”

“Hai juga!”

“Nggak ke kantin?”

“Malas.”

Aku mengambil tempat duduk tepat di sebelah Chacha. Kebetulan jam istirahat. Kebetulan lagi Helen teman sebangku Chacha sudah ke kantin.

“Kamu nggak ke kantin?”

“lagi malas juga.”

Chacha tersenyum mendengar jawabanku yang tidak kreatif.

“Asyik banget. Baca apa?”

Chacha menunjukkan buku ditangannya padaku.

“Oh, suka baca novel?”

“Iya. Khususnya Christian Simamora. Ceritanya ringan dan mudah dicerna.”

“Supernova suka nggak?” Tanyaku asal.

“Pernah baca sih. Bukannya terhibur, yang ada kepalaku yang pusing. Ribet banget.”

“Sama dong!”

“Kamu suka baca novel juga?”

“Kadang-kadang, kalau lagi suntuk atau nggak ada kegiatan.”

“Kamu suka siapa? Aghata, ya?”

Aku bingung. Tapi akhirnya kuanggukkan saja kepalaku. Untungnya Chacha tidak bertanya lebih lanjut. Karena aku tidak tahu siapa itu Aghata. Mungkin Agathawati, atau mungkin juga Agatha Dewi.

Chacha terlihat antusias. “Di rumah banyak buku Agatha. Kebetulan abangku ngefans sama dia. Kalau kamu mau datang saja ke rumah.”

“Kapan aku boleh datang?”

“Terserah kamu.”

“Malam minggu, boleh?” Tanyaku ragu-ragu.

Chacha terdiam sejenak. Tapi akhirnya mengangguk.

Aku tersenyum senang. Aku bahagia. Ah, Chacha. Ternyata tidak sesulit dugaanku untuk mendapatkanmu.

Bintang Tak AKan Jatuh (1)

Chapter 1
I Love You... Chacha

Chacha, semua yang ada padamu hanyalah keindahan dan kesempurnaan. Andai saja kamu buatan pabrik, tentulah kamu rakitan seorang maestro dengan komponen pilihan utama. Tidak saja kamu cantik. Tapi juga pintar. Rendah hati, ramah dan baik. Mungkin penilaianku sangat subjektif. Tapi memang begitulah kamu.

Chacha, aku mencintaimu. Bahkan amat sangat mencintaimu. Cintaku padamu melebihi apapun di muka bumi ini. Termasuk diriku sendiri.

Mungkin terdengar gombal. Tapi begitulah adanya. Dan aku yakin aku bukanlah satu-satunya pemuda yang mencintaimu. Tapi aku juga yakin tak ada pemuda yang mencintaimu melebihi aku. Katakan Chacha, apapun akan kuberikan demi mendapatkan cintamu.

Chacha...

“Aduh...”

“Melamun lagi? Kamu tahu tidak, kucingku kebanyakan melamun, sorenya mati kelindas kereta api.”

Aku mengelus kepalaku yang ditimpuk Rendy dengan tasnya. “Itu kucingmu. Kucingku lain lagi ceritanya.”

“Apa?”

“Pagi melamun, sorenya diadopsi sama Luna Maya.”

Rendy terbahak. “Ngarang!”

Aku mesem. Bayangan Chacha hilang dari benak. Namun justru sosoknya yang kini hadir di depan mata. Tanpa menoleh kanan-kiri apalagi ke atas, Chacha melenggang indah menuju bangkunya yang berada paling depan sebelah kanan.

Makin hari Chacha makin cantik saja, Dengan rambut model apapaun, selalu sesuai dengan wajahnya. Andaikan dimodel seperti rambut ‘Giring Nidji’ pun, barangjaki Chacha tetap cantik. Atau bisa jadi semakin cantik.

Chacha, I realy love you. So much.

“Hei...” Rendy mencolek bahuku.

“Apa?”

“Lihat tuh, Chacha makin cantik aja. Tapi sayang...”

“Kenapa?” Tanyaku penasaran.

“Sayang dia nggak mau sama kamu.”

“Habis tampang kamu kurang komersil.” Rendy mencibir.

“Kaya’ tampang kamu lebih bagus aja dari aku.”

“Tampangku memang tidak setampan Tom Cruise atau Brad Pitt. Tapi aku punya percaya diri yang tinggi.”

“Itu bukan percaya diri namanya. Tapi nggak tahu diri.”

“Lihat saja. Aku akan mendapatkan Chacha.”

“Mimpi!” Ejek Rendy, menahan senyum.

Chacha cantik, itu semua orang tahu. Banyak pemuda yang jatuh cinta padanya, itu juga sudah menjadi rahasia umum. Tapi kalau aku terobsesi untuk mendapatkan Chacha, itu hanya aku yang tahu.

Setahuku Chacha belum punya pacar. Tapi seandainya pun sudah punya pacar, langkahku takkan surut. Selagi janur kuning belum menggantung di depan rumahnya, Chacha masih bebas memilih. Apalagi di zaman edan ini, yang punya anak saja masih ada yang mengejar.

Bintang Tak Akan Jatuh (Sinopsis)



Bintang Tak Akan Jatuh
Created By Sweety Qliquers
(Samarinda, Jum’at <> 290110,1131AM)




Bintang Tak Akan Jatuh
Chapter 1 I Love You... Chacha
Chapter 2 Gara-Gara Novel
Chapter 3 Dukun?!?!?!
Chapter 4 Permintaan Chacha
Chapter 5 Ultah Chacha


Sinopsis
...
Chacha, semua yang ada padamu hanyalah keindahan dan kesempurnaan. Andai saja kamu buatan pabrik, tentulah kamu rakitan seorang maestro dengan komponen pilihan utama. Tidak saja kamu cantik. Tapi juga pintar. Rendah hati, ramah dan baik. Mungkin penilaianku sangat subjektif. Tapi memang begitulah kamu.

Chacha, aku mencintaimu. Bahkan amat sangat mencintaimu. Cintaku padamu melebihi apapun di muka bumi ini. Termasuk diriku sendiri.

Mungkin terdengar gombal. Tapi begitulah adanya. Dan aku yakin aku bukanlah satu-satunya pemuda yang mencintaimu. Tapi aku juga yakin tak ada pemuda yang mencintaimu melebihi aku. Katakan Chacha, apapun akan kuberikan demi mendapatkan cintamu.

Chacha... I Love You...
(Adrian Yudhistira_Ryan)

"Teman-teman, ini namanya Mas Bima. Pacar Chacha. Chacha sangat bahagia, meski sangat sibuk, Mas Bima masih menyempatkan diri untuk datang ke pesta ini."
(Rossa Anastasya_Chacha)

“Kaya’nya sekarang kamu mulai dekat sama Chacha.”
“Kamu pelet dia ya?”
“Kalau nggak mana mungkin Chacha mau dekat-dekat sama kamu. Tampangmu kan kurang komersil.”
“Dukun kamu barangkali, sakti luar biasa.”
(Rendy Pratama_Rendy)



Karakter Tokoh Bintang Tak Akan Jatuh


Rendy Pratama (Rendy)
Menurut Rendy Pratama (Rendy), Chacha tidak mungkin mau dekat-dekat dengan Ryan yang menurutnya tampang Ryan itu kurang komersil, kalau Ryan tidak memeletnya. Menurutnya Tidak akan ada cewek yang mau mendekati Ryan, jika Ryan masih tidak memiliki harta yang melimpah dan wajah yang tampan. Kalaupun itu terjadi, pasti itu karena ilmu hitam.


Adrian Yudhistira (Ryan)
Cowok yang tampangnya kurang komersil tapi punya percaya diri yang tinggi. Bagaimana tidak, cowok yang tampangnya di bawah standart dan miskin itu berani-beraninya mendekati Rossa Anastasya (Chacha) anak orang kaya yang cantik dan pintar. Menurutnya mendekati cewek seperti Rossa Anatasya (Chacha) itu tidak perlu kegantengan yang mutlak, tetapi cukup dengan cinta, perhatian dan kasih sayang. (Emang iya? Meragukan...)


Rossa Anastasya (Chacha)
Gadis cantik, pintar, rendah hati dan baik yang sangat digila-gilai Adrian Yudhistira (Ryan). Karena tahu Adrian Yudhistira (Ryan) sepertinya menaruh hati padanya, akhirnya ia memanfaatkan Adrian Yudhistira (Ryan) untuk membantunya mempersiapkan pesta ultahnya.

Sabtu, 13 Maret 2010

Cinta Tertinggal Di Perpustakaan (4-End)

Chapter 4
Ancaman Keysha

Berita kedekatan Dimas dan Aleeya ternyata tidak bisa ditutup-tutupi. Mungkin karena Dimas adalah sosok yang terkenal di kampus. Atau mungkin karena kabar ini ada sangkut pautnya dengan Aleeya, gadis yang tidak diperhitungkan di kampus. Anak-anak kampus menjadi penasaran karena selama ini nama Aleeya hampir tidak pernah disebut-sebut dalam pembicaraan di antara mahasiswa maupun dosen. Cewek seperti apa yang bisa menahan perhatian cowok yang menjadi rebutan gadis-gadis kampus. Begitulah mungkin pertanyaan yang kini beredar dari mulut ke mulut. Akhirnya, Aleeya pun kini banyak dicari orang.

Hanya Aleeya yang tidak mengetahui jika namanya kini jadi bahan pembicaraan di kampus. Hingga suatu hari, saat dia menunggu kehadiran Dimas di perpustakaan, datanglah seorang gadis cantik menghampirinya.

“Namamu Aleeya, kan? Kamu sedang menunggu kedatangan Dimas, ya?” tanya gadis cantik itu to the point, tanpa basa basi dulu.

Ditanya demikian, Aleeya langsung kaget dan merasa ada sesuatu yang tidak beres.

“Iya,” jawab Aleeya lirih tak dapat menyembunyikan kekhawatirannya.

“Aku Keysha, pacar Dimas. Terus terang saja, aku ke sini hanya ingin mengatakan bahwa gosip kedekatanmu dengan Dimas sangat mengganggu diriku, juga hubunganku dengan Dimas. Jadi nggak usah berpanjang lebar lagi, aku ingin kamu menjauhi Dimas. Lagi pula tidak ada yang bisa kamu harapkan dari Dimas. Dimas tidak mungkin jatuh cinta dengan gadis macam kamu. Jangan menyalahartikan perhatian Dimas.”

Gadis bernama Keysha itu berkata-kata dengan ketus dan sinis. Setelah menyelesaikan kalimatnya yang sedikit mengandung ancaman, ia langsung berbalik pergi meninggalkan Aleeya yang terbengong-bengong.

Bagai disambar petir di siang bolong Aleeya mendengar perkataan Keysha. Keysha pacar Dimas? Yah, mengapa selama ini ia tidak berpikir tentang pacar Dimas. Tapi, bukankah selama ini tidak ada yang tahu, Aleeya dan Dimas sering bertemu? Ah, Dimas… mana mungkin cowok sekeren dia belum punya pacar. Mengapa selama ini ia tidak menanyakan siapa pacar Dimas.

Mengapa selama ini ia hanyut oleh perhatian Dimas. Hampir saja aku menjadi pungguk merindukan bulan. Bodohnya aku. Begitu pikiran yang berkecamuk di otak Aleeya.

Lihatlah betapa berbedanya Aleeya dan Keysha. Keysha begitu cantik dengan kulit putih dan rambut pajangnya yang lurus berkilau. Tubuhnya tinggi semampai. Penampilannya seksi dan trendi. Anggun dan indah dipandang mata. Lalu Aleeya? Ah bagai bumi dan langit. Aleeya tidak ada apa-apanya dibandingkan Keysha.

“Heh, kok melamun sih bukannya baca buku.” Tiba-tiba Dimas sudah berada di hadapan Aleeya.

“Maaf aku harus pergi. Ada kuliah,” kata Aleeya sambil bergegas membereskan buku-bukunya di meja.

“Lho, hari ini kamu sudah nggak ada kuliah lagi, kan?” tanya Dimas yang hafal jadwal kuliah Aleeya.

“Pokoknya, aku harus pergi,” buru-buru Aleeya menjawabnya. Ia lalu beranjak pergi, namun baru selangkah kakinya terhenti dan kembali berbalik ke arah Dimas.

“Mulai sekarang kita tidak usah bertemu lagi. Please, jangan temui aku lagi di perpustakaan,” pinta Aleeya dengan sorot mata yang terluka.

“Tapi kenapa? Apa yang terjadi? Aleeya… Aleeya… jangan pergi dulu. Tunggu!” kejar Dimas berusaha menghadang langkah Aleeya. Tiba-tiba sebuah tangan halus mencengkeram lengannya menahannya untuk tidak berlari mengejar Aleeya.

“Keysha?! Ngapain kamu di sini?”

“Aku mencarimu. Ternyata benar gosip yang beredar. Diam-diam kamu sering menemui Aleeya di perpustakaan ini, ya. Buat apa, sih? Apa menariknya gadis itu?” Keysha memberondong Dimas yang menjadi salah tingkah. Namun dengan cepat Dimas menguasai keadaan.

“Apa yang kamu katakan pada Aleeya? Kamu tidak berhak menyakiti gadis itu. Dan bukan urusanmu lagi aku berteman dengan siapa. Kita sudah putus. Ingat itu!” Dimas berkata tegas.

“Tapi aku tidak rela kamu mencari gantiku dengan gadis semacam dia.”

“Ah, sudahlah. Aku tidak mau bertengkar lagi denganmu. Dan ingat ya jangan sekali lagi menemui Aleeya.”

Dimas pergi mengejar Aleeya. Keysha yang ditinggalkannya hanya tertegun kemudian menangis. Mengapa Dimas tertarik dengan Aleeya? Kenapa bukan gadis lain yang lebih cantik dariku? Pertanyaan itu sekali lagi mengganggunya. Keysha merasa terhina.

Setelah kejadian itu Aleeya bagai ditelan bumi. Berkali-kali Dimas bolak balik ke perpustakaan, tapi tak dijumpainya gadis itu. Dimas tidak tahu harus ke mana mencari tahu keberadaan Aleeya. Teman kuliahnya tak banyak yang mengenalnya. Alamat rumahnya, Dimas tak pernah punya karena Aleeya tak perah memberikannya. Apalagi nomor teleponnya. Satu-satunya tempat yang diharapkan bertemu dengan Aleeya adalah perpusatakaan. Hampir setiap hari Dimas duduk di bangku yang biasa diduduki Aleeya sembari berharap gadis itu muncul. Tapi hari berlalu, minggu berlalu, bulan berlalu, Aleeya tak juga muncul. “Ah, Aleeya... di mana kamu? Aku akan tetap menunggumu di perpustakaan ini. Aku ingin menjelaskan sesuatu.... Tentang perasaanku.”




TAMAT
Copyright Sweety Qliquers
www.mininovel-lovers86.blogspot.com

Cinta Tertinggal Di Perpustakaan (3)

Chapter 3
Kedekatan Aleeya & Dimas


Kini Aleeya tidak lagi pendiam seperti dua hari lalu. Ternyata gadis berkacamata ini pandai bicara juga. Wajahnya tampak berekspresi ketika menjelaskan satu per satu buku yang sudah dibacanya. Mata bulatnya yang tersembunyi di balik kacamata tampak berbinar indah. Wajahnya yang tidak terlalu cantik seperti memancarkan sesuatu yang menarik. Yah, wajah itu menyembunyikan kecerdasan. Mungkin tumpukkan ilmu yang diperolehnya dari membaca buku.

Belum pernah Dimas memandangi wajah gadis yang seperti ini. Biasanya saat berbincang dengan gadis-gadis ia hanya bisa menikmati kecantikan dan kemulusan kulitnya yang terkadang bila terlalu lama dipandang jadi membosankan. Berbeda dengan wajah Aleeya yang semakin lama dipandang semakin menarik. Dimas bahkan menebak jika Aleeya mau membuka kacamatanya pasti wajah gadis ini lebih menarik. Matanya bulat dan tatapannya tajam. Tanpa sadar Dimas bergumam sendiri sambil terus mendengarkan Aleeya yang asyik berceloteh.

Aleeya pun tanpa sadar menjadi banyak bicara. Satu hal yang jarang dilakukannya. Selama ini ia hanya berbicara banyak dalam hatinya. Paling banter ia menuliskan kejadian-kejadian menarik yang ditemuinya dalam buku diarinya. Atau membuatnya menjadi sebuah cerita untuk dikirimkan ke majalah. Yah, tak ada teman kampusnya yang tahu bahwa Aleeya adalah penulis cerpen yang karyanya banyak menghiasi majalah-majalah remaja. Hanya keluarganya yang tahu, itu pun setelah Aleeya memberitahukan nama samarannya.

Tak terasa, sudah satu jam lebih Dimas dan Aleeya mengobrol panjang lebar. Seperti yang sudah-sudah, Dimas yang duluan berpamitan karena ada jadwal latihan basket. Sebelum pergi, Dimas sempat mengajak Aleeya untuk menonton latihan basket, tapi segera ditolak oleh gadis itu. Bisa menjadi berita yang menghebohkan di kampus bila ketahuan Aleeya dan Dimas jalan berdua. Aleeya merasa minder.

Dimas dan Aleeya semakin akrab karena sering bertemu dan ngobrol di perpustakaan. Dimas sendiri heran mengapa jadi ketagihan berbincang panjang lebar dengan Aleeya. Ada satu hal dalam diri Aleeya yang tidak ditemukan pada gadis lain. Perpaduan antara kepolosan dan kepintaran.

Sementara itu, bisa dibayangkan bagaimana perasaan Aleeya dengan keakraban yang baru dijalinnya. Kini, tak hanya buku tujuannya ke perpustakaan. Setiap kali datang ke perpustakaan ia merasa deg-degan menunggu kedatangan Dimas. Ia pun tak lagi grogi seperti dulu bahkan kini merasa lebih percaya diri. Dimas pernah dengan terus terang mengatakan bahwa gadis seperti Aleeya yang memiliki pengetahuan luas tentang pustaka sudah sangat jarang dijumpainya. Apalagi saat mengetahui ternyata Aleeya juga pandai menulis cerpen. Kekagumannya pun semakin bertambah. Sikap Dimas yang jujur inilah yang membuat Aleeya merasa tersanjung.

Meskipun merasa bahagia dengan kehadiran Dimas, Aleeya tidak berani berharap banyak. Dia tidak ingin melambung terlalu tinggi karena jika jatuh pasti sakitnya terasa luar biasa.

Beberapa kali Dimas menawarkan diri mengantarkan Aleeya pulang ke rumah bila waktu sudah hampir petang. Tapi dengan halus Aleeya selalu menolaknya. Aleeya juga menolak untuk sekedar diajak makan dan minum di kantin. Aleeya tidak mau keakrabannya dengan Dimas diketahui mahasiswa lain. Bahkan ketika berada di perpustakaan, Aleeya selalu memilih tempat yang agak tersembunyi. Berjaga-jaga kalau Dimas datang, agar keduanya tidak mudah terlihat orang banyak.

Cinta Tertinggal Di Perpustakaan (2)

Chapter 2
Dunia Aleeya


Dua hari kemudian, Aleeya kembali bertemu dengan Dimas di perpustakaan. Saat itu Dimas bermaksud mengembalikan buku sastra yang dipinjamnya tempo hari.

Cowok keren itu mengurungkan niatnya untuk segera meninggalkan perpustakaan ketika melihat gadis berkacamata yang duduk di meja sebelah pojok. Tiba-tiba ia tertarik untuk menghampiri Aleeya.

“Hai, Aleeya,” sapanya ramah sambil menarik kursi di sebelah Aleeya.

“Oh ka-mu…,” sapa Aleeya balik dengan setengah grogi.

“Kamu lagi baca apa sih kok asyik banget. Lagi nggak ada kuliah atau sedang menunggu jam kuliah,” cerocos Dimas berusaha memecah kekakuan Aleeya.

“Barusan saja selesai jam kuliah pertama. A-aku lagi pengin baca buku ini sambil menunggu jam kuliah kedua nanti sore,” tutur Aleeya sekuat tenaga menyembunyikan salah tingkahnya.

“Wih... buku yang kemarin ternyata menarik, ya. Sebenarnya aku pinjam untuk adikku tapi malah jadi tertarik ikutan baca. Adikku seperti kamu, doyan buku-buku he he…,” kata Dimas setengah bercanda membuat Aleeya ikut tertawa.

“Membaca buku itu merupakan kegiatan yang mengasyikkan. Banyak hal yang bisa kita peroleh tanpa harus mengalaminya secara langsung. Seperti membuka jendela saja. Kita dihadapkan pada pandangan yang luas dan bebas menjelajah,” ujar Aleeya tentang dunia yang dicintainya.

Aleeya tak lagi canggung. Saat Dimas membuka pembicaraan tentang dunia buku, Aleeya seolah mendapatkan kepercayaandirinya. Dia merasa buku adalah dunianya dan sesuatu yang sudah tak asing lagi. Menceritakan apa asyiknya membaca sama mudahnya membicarakan tentang dirinya. Dia dan buku seperti tidak bisa dipisahkan.

Pancingan Dimas ternyata mengena. Sengaja Dimas bertanya-tanya tentang buku agar Aleeya tidak banyak diam. Beruntung dia punya adik yang kutu buku juga. Dan beruntung pula beberapa kali dia mengantar adiknya ke toko buku. Setidaknya jadi tahu hal-hal yang menarik bagi pencinta buku.

Cinta Tertinggal Di Perpustakaan (1)

Chapter 1
Pria Pujaan


Gadis berkacamata tebal itu tampak asyik di antara deretan rak buku. Beberapa buku diambilnya lalu dibawanya ke meja yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Di situ sudah ada setumpuk buku yang beberapa menit lalu diambilnya. Entah apa yang akan dilakukannya dengan buku-buku sebanyak itu. Ia terlihat sibuk membuka, membaca, menulis, kemudian membuka buku lainnya, membaca lagi dan menulis lagi. Dia sibuk sendiri dengan dunianya.

“Buku sastra di sebelah mana, ya?” sebuah suara mengalihkan kesibukan gadis itu sejenak. Tanpa menoleh sedikit pun tangan gadis itu lalu menunjuk ke arah sebelah kanan. Pria yang tadi bertanya segera mengikuti arah yang ditunjuk. Gadis itu pun kembali berkutat dengan buku-bukunya.

Tak berapa lama kemudian, “Sorry, kamu kan kayaknya familiar dengan perpustakaan ini, ngngng… bisa bantu nyariin buku ini nggak,” pria itu kembali menghampiri gadis berkacamata sambil menyodorkan secarik kertas.

Masih dengan gaya acuh tak acuhnya, gadis itu membaca coretan dalam kertas yang diberikan oleh si penanya, lalu, “Cari saja di deretan buku sastra, ada di rak buku barisan kedua paling pojok sebelah kanan.”

Laki-laki itu lalu pergi menuruti petunjuk yang dikatakan si gadis yang kelihatannya tak mau diganggu.

“Thanks ya bukunya sudah aku temukan. Dari tadi aku pusing muter-muter nyari buku ini eh nggak tahunya kamu tahu persis di mana letaknya,” ucap laki-laki tadi.

“Namaku Dimas, kamu siapa?” lanjut laki-laki itu seolah tak peduli dengan keacuhan si gadis.

“Aleeya,” jawab gadis itu pendek tanpa menoleh sedikit pun.

“Aku kok nggak pernah melihatmu di kampus ini, kamu anak semester berapa?” tanya pria yang mengenalkan dirinya sebagai Dimas sambil duduk di kursi seberang gadis yang bernama Aleeya. Sebentar kemudian, Dimas memperhatikan wajah si gadis, mencoba mengingat kalau-kalau pernah bertemu dengan gadis di hadapannya.

Merasa diperhatikan, Aleeya menghentikan kegiatannya menulis lalu menatap laki-laki di hadapannya. Sedetik kemudian dia tertegun, mulutnya yang hampir berucap mendadak terhenti hingga melongo. Betapa kagetnya dirinya melihat siapa yang kini duduk satu meja dengannya. Laki-laki yang baru saja menanyakan namanya ini adalah Dimas, mahasiswa tingkat tiga yang digandrungi banyak cewek di kampus ini.

Selain berwajah tampan dan berbadan atletis, cowok ini dikenal dengan segudang prestasi olahraganya. Tak salah bila mahasiswa di kampus ini memilihnya menjadi ketua senat. Dan sudah menjadi rahasia umum bila semua cewek berebut menjadi pacarnya.

“Lho kok malah bengong. Kamu anak semester berapa?” tanya Dimas mengulang pertanyaannya tadi sekaligus membuyarkan lamunan Aleeya.

“Oh eh ngngng… aku?” tanyanya meyakinkan.

“Iya kamu. Emangnya ada orang lain di meja ini selain kita?” senyum Dimas mengembang.

“Aku adik tingkatmu.”

“Lho kamu tahu ya aku semester enam.”

Ups! Kontan wajah Aleeya memerah malu.

“Aku kok nggak pernah melihatmu?” kata Dimas yang tampak kebingungan.

Jelas saja Dimas merasa bingung dan heran karena hampir semua mahasiswa di kampus ini dikenalnya atau paling tidak ia hafal wajah. Maklum dia kan ketua senat.
Sementara dalam hati, Aleeya merasa tak heran bila Dimas tidak mengenalnya. Siapa sih yang mempedulikan keberadaan dirinya. Mahasiswa kutu buku yang menghabiskan sisa waktu kuliahnya di perpustakaan. Hampir tak ada mahasiswa yang mengenalnya dengan akrab. Apalagi cowok-cowok.

“Kamu aktif di kegiatan apa?”

Aleeya hanya menggeleng dan kembali menunduk, pura-pura sibuk kembali dengan buku-bukunya. Padahal saat ini hatinya terasa tidak keruan antara senang, bangga, dan takut bisa ngobrol dengan cowok idola. “Mengapa Tuhan memberiku kesempatan berkenalan dengan cowok idola ini, bikin hatiku nggak keruan saja,” keluhnya dalam hati. Ah, semoga saja tidak ada yang melihatnya sedang duduk bersama Dimas. Aleeya takut diejek. Takut dikatakan tidak pantas duduk satu meja dengan cowok impian gadis-gadis kampus. Takut.…

“Pasti kamu lebih suka di sini, ya. Pantas saja kamu hafal letak buku-buku di sini. Aku sebenarnya juga senang membaca, tapi waktuku nggak banyak. Oke deh kapan-kapan kita ngobrol lagi, ya, aku harus ke ruang senat dulu. Bye Aleeya!”

Dimas meninggalkan senyum simpatiknya. Aleeya pun sekali lagi terbengong-bengong bahkan tak sempat membalas senyum ramah sang cowok pujaan. Dia benar-benar merasa seperti bermimpi bisa duduk dan ngobrol dengan Dimas. Selama ini ia hanya bisa memandangi Dimas dari kejauhan dan buru-buru menunduk, takut ketahuan orang lain. Yah, ia takut dikatakan pungguk merindukan bulan. Ah!

Cinta Tertinggal Di Perpustakaan (Sinopsis)

Cinta Tertinggal Di Perpustakaan
Created By Sweety Qliquers
(Samarinda, Senin <> 080310, 0234PM)



Cinta Tertinggal Di Perpustakaan
Chapter 1 Pria Pujaan
Chapter 2 Dunia Aleeya
Chapter 3 Kedekatan Aleeya & Dimas
Chapter 4 Ancaman Keysha


Sinopsis

“Maaf aku harus pergi. Ada kuliah,”
“Pokoknya, aku harus pergi,”
“Mulai sekarang kita tidak usah bertemu lagi. Please, jangan temui aku lagi di perpustakaan,”
(Aleeya Revalina_Aleeya)

“Lho, hari ini kamu sudah nggak ada kuliah lagi, kan?”
“Tapi kenapa? Apa yang terjadi? Aleeya… Aleeya… jangan pergi dulu. Tunggu!”
(Dimas Anggoro_Dimas)

“Aku Keysha, pacar Dimas. Terus terang saja, aku ke sini hanya ingin mengatakan bahwa gosip kedekatanmu dengan Dimas sangat mengganggu diriku, juga hubunganku dengan Dimas. Jadi nggak usah berpanjang lebar lagi, aku ingin kamu menjauhi Dimas. Lagi pula tidak ada yang bisa kamu harapkan dari Dimas. Dimas tidak mungkin jatuh cinta dengan gadis macam kamu. Jangan menyalahartikan perhatian Dimas.”
(Keysha Dinata_Keysha)


Karakter Tokoh Cinta Tertinggal Di Perpustakaan
Aleeya Revalina (Aleeya)
Siapa sih yang mempedulikan keberadaan Aleeya Revalina (Aleeya). Mahasiswi kutu buku yang menghabiskan sisa waktu kuliahnya di perpustakaan. Hampir tak ada mahasiswa yang mengenalnya dengan akrab. Apalagi cowok-cowok.

Dimas Anggoro (Dimas)
Mahasiswa tingkat tiga yang digandrungi banyak cewek di kampusnya. Selain berwajah tampan dan berbadan atletis, cowok ini dikenal dengan segudang prestasi olahraganya. Tak salah bila mahasiswa di kampus ini memilihnya menjadi ketua senat. Dan sudah menjadi rahasia umum bila semua cewek berebut menjadi pacarnya.


Keysha Dinata (Keysha)
Keysha Dinata (Keysha) merasa terhina, pasalnya Dimas lebih tertarik dengan Aleeya Revalina (Aleeya)? Kenapa bukan gadis lain yang lebih cantik darinya? Pertanyaan itu sekali lagi mengganggunya. Keysha Dinata (Keysha) begitu cantik dengan kulit putih dan rambut pajangnya yang berkilau. Tubuhnya tinggi semampai. Penampilannya seksi dan trendi. Anggun dan indah dipandang mata.



Cinta Sebenarnya (5-End)

Chapter 5
Risalah Hati Yang Terluka


Cahaya itu tak lagi bersinar terangi relung hati
Meredup dalam kelemahan lalu terpadam dalam kekosongan
Senyum itu kian pergi bersama hari – hari yang terus mati
Menghilang bagai senja yang mengatup memeluk awan
Dan percikan air mata ini seakan memecah butir – butir embun pagi …..
Memebasahi celah – celah sanubari yang membelah kesedihan
Disini aku semakin terluka oleh dia yang memberiku CINTA
Disini aku harus kembali terdiam karena kepedihan yang kurasa
Disini aku terus mengenang keindahan yang sirna dan telah tiada
Hampa semakin merona mempesona
Berjalin berkeliling menggenggam duka cita
Luka terus menyebar melumpuhkan jiwa
Lalu mengendap menelusup bersama asa yang tak tersisa
Dan tutur kata bahasa Cinta tak lagi bermakna
Terbenam dalam lentera malam yang tak bersuara

(Dewa Pramudia_Dewa)



TAMAT
Copyright Sweety Qliquers
www.mininovel-lovers86.blogspot.com

Cinta Sebenarnya (4)

Chapter 4
Isyarat Hati


Isyarat hati tak mampu kuresapi
Semilir cinta tak lagi sudi singgah dalam nurani
Hanya ada ketakutan tak berkesudahan
Jiwaku terkapar dalam senja dan berdesakan dengan malam
Apakah mampu berdiri sebelum pagi hari?..entahlah..

Sakitnya hati sampai tangis tak tertahan
Berteriak menikam sunyi
Selalu saja masih tertinggal,
Raut yang membuyarkan angan,
Kepergiannya meluruhkan hidupku
Memapahku menuju jurang kepedihan

Sungguh..saat ini..
Aku tak kuasa lagi berjalan
Beriringan bersama putaran
Aku terkapar dalam ketidakpercayaan
Mimpi tlah tercabik-cabik oleh sang waktu
Basah berlumuran air mata
Teramat sakit dan patah

(Dewa Pramudia_Dewa)

Cinta Sebenarnya (3)

Chapter 3
Patah Hati


Untukmu yang selalu aku cintai
Dengarkanlah puisi curahan hati
Dariku yang akan selalu bertahan
Walau kau kini tinggalkanku

Dengarkanlah karena ini untukmu
Biarkan orang berkata gila
Biarkan mereka tertawakanku

Inilah puisi patah hati
Yang tak semua orang suka
Puisi ini untukmu

Kau yang selalu kucinta
Dan entah sampai kapan rasa ini akan terus ada
Aku yakin akan hadirnya cinta padamu untukku

Dengarlah kasih
Dengarlah sayang
Puisi patah hati tentang diriku yang menderita mencintaimu

(Dewa Pramudia_Dewa)

Cinta Sebenarnya (2)

Chapter 2
Selamanya Cinta


Dewa mengamati permainan biola Yasmine. Tubuhnya ikut berayun mengikuti irama lagu yang sedang mengalun. ‘Selamanya cinta”, karya lagu yang begitu mengagumkan itu sudah puluhan kali dimainkan oleh Yasmine, namun demikian setiap melodinya masih terasa indah di telinga Dewa.

“Bagaimana?” tanya Yasmine setelah berhenti bermain, “Apakah terlalu cepat?”

“Aku pikir jauh lebih baik,“ sahut Dewa seraya mendekati Yasmine.

“Lagu ini indah sekali ya, lagu ini mengingatkan akan cinta yang tragis,“ jawab Dewa.

“Mengenal dirimu adalah anugerah Tuhan yang paling istimewa. Andai kau tau didalam sini aku mencintaimu”, bisik Dewa dalam hati.

“Dewa, aku ingin sekali permainan biolaku ini dapat menjadi popular, dan mungkin bila aku mengikuti lomba biola di Bandung aku dapat menjadi terkenal“, kata Yasmine tajam pada Dewa seolah berharap.

“Kenapa tidak mencobanya?” sahut Dewa.

“Kamu, kan tau sendiri, aku masih menjadi tulang punggung keluargaku sejak Ayah meninggal dan apalagi biaya formulirnya dan juga biaya transportasi dari Surabaya ke Bandung tidak sedikit, uang dari mana?” Yasmine murung dengan wajah terlipat-lipat.

“Untuk keluargamu biar aku yang jaga, kamu tidak perlu khawatir!” sahut Dewa memberi harapan.

“Lalu bagaimana dengan biaya, aku tidak punya uang, untuk beli biola ini saja aku masih punya utang sama kamu,” sahut Yasmine membantah.

Dewa masuk ke dalam kamarnya tanpa mengucap sepatah kata pun pada Yasmine dan kembali dengan amplop coklat agak tebal.

“Memang berapa biaya formulir dan biaya transportasi, mungkin aku bisa membantumu?” tanya Dewa sambil menatap wajah Yasmine ingin memberi harapan.

“Formulirnya sekitar seratus lima puluh ribu dan transportnya aku belum tau berapa?” jawab Yasmine.

“Tapi aku enggak ingin kamu kerepotan karena aku”, sambung Yasmine.

“Ah, ini aku punya sedikit uang, yaa… sekitar enam ratus ribu dan kukira cukup untuk pulang pergi!” ujar Dewa.

“Nggak usah, aku enggak mau jadi beban kamu!” bantah Yasmine menggelengkan kepala.

“Sudahlah, ambil saja uang ini!” seru Dewa sambil menjejalkan amplop itu ke tangan Yasmine.

“Aku kan masih bekerja, nanti aku menabung lagi!”

“Ya, kamu memang sahabat yang paling baik,” ucap Yasmine menatap Dewa dalam-dalam.

“Aku harap kita bisa lebih dari sahabat” bisik Dewa dalam hati.

Seperti biasa sepulang kerja, Dewa selalu mampir ke rumah Yasmine “Besok kamu berangkat jam berapa?” tanya Dewa.

“Aku harus sampai di sana jam enam sore,” jawab Yasmine polos.

“Kamu tampil jam enam sore?” tanya Dewa kurang mengerti.

“Enggak, lombanya mulai jam enam sore, karena pesertanya banyak dan aku dapat nomer terakhir. Jadi sepertinya aku tampil jam sepuluh malam,” kata Yasmine menjelaskan.

“Kamu mau mengantarku?” tanya Yasmine heran.

“Enggak, tapi aku usahakan aku datang sebelum kamu tampil dan aku akan menjadi penonton paling antusias,” jawab Dewa sedikit teroceh.

“Kamu enggak capek nanti, mungkin kamu pulang jam dua belas malam.” sahut Yasmine mencegah.

“Sudahlah aku masih punya uang.” bantah Dewa.

“Aku enggak yakin aku bisa menang!” Seru Yasmine pada Dewa.

“Yakinlah kamu bisa,” kata Dewa meyakinkan Yasmine.

“Eh Wa, kamu tau nggak cowok yang barusan lewat, dia itu bintang basket dan banyak cewek yang ngincer dia termasuk aku,” kata Yasmine tertawa kecil.

“Yaa, kamu cocok dengan dia!” sahut Dewa murung.

Jam satu siang, Dewa berada di dalam bus perjalanan ke Bandung. ”Kali ini aku akan me,buatnya bangga,” bisik Dewa dalam hati.

Di gedung penuh sesak penonton. Yasmine mulai berdiri di atas panggung dengan memegang biola tuanya pemberian Dewa sambil melihat sekeliling penonton. “Dewa, dimana kamu,” desis Yasmine.

Yasmine mulai menggesek biolanya. Sekejap saja para penonton terpukau akan permainan Yasmine. Nada-nada mengalun di dalam gedung penuh penghayatan. Hingga selesai, penonton bertepuk tangan dan berdiri mengagumi permainan Yasmine. Yasmine mulai turun dari panggung dengan hati senang karena keinginannya terpenuhi. Ia bergegas keluar gedung untuk mencari-cari Dewa.

Dewa yang telah sampai didepan gedung berlari ketika melihat Yasmine di depan pintu gedung. Tiba-tiba sebuah mobil melesat cepat dari arah kanan. Dewa terkejut dan menjerit keras, tetapi terlambat, sang supir tidak sempat mengerem. “Bruakk!!!”

Ketika Yasmine tersadar ternyata yang tertabrak sahabatnya ia berlari kencang menuju tubuh Dewa yang telah mengeluarkan darah. Yasmine menjerit keras tak ia sangka bahwa sahabatnya harus meninggalkannya terlalu cepat.

Entah hasutan darimana, Yasmine mengambil kertas putih yang Dewa pegang. Sambil disaksikan banyak orang. Yasmine membaca kertas yang berlumuran darah itu yang berbunyi…

To Yasmine
Cinta yang sebenarnya adalah ketika dia menitikan air mata dan masih peduli terhadap kamu. Adalah ketika kamu tidak mempedulikannya dan dia masih menunggumu dengan setia. Adalah ketika kamu mencintai orang lain dan dia masih bisa tersenyum dan berkata “Aku turut berbahagia untukmu”. Kadang kala orang yang paling mencintai adalah orang yang yang tak pernah menyatakan cinta kepadamu karna takut kau berpaling dan memberi jarak dan suatu saat dia pergi kau akan menyadari bahwa dia adalah cinta yang tak kau sadari.
From Dewa

Pelangi sadar akan keegoisannya tapi sayang nasi telah menjadi bubur dan kini ia hanya bisa menangis. Menangis dalam ketidakpastian yang tak akan mengembalikan kenangan bersama Dewa..

Cinta Sebenarnya (1)

Chapter 1
Aku Ingin


Aku ingin pergi jauh
Agar tubuhku jauh dari tatapmu
Agar tak teraih halus sentuhmu
Agar aku luput dari mimpimu
Agar aku tidak hiasi pagimu
Agar aku tidak terangi malammu
Agar aku hilang

Percuma…
Kau adalah sepercik jiwaku
Cintaku
Abadi adanya

(Dewa Pramudia_Dewa)

Cinta Sebenarnya (Sinopsis)

Cinta Sebenarnya

Created By Sweety Qliquers
(Samarinda, Senin <> 080310, 0928AM )


Cinta Sebenarnya
Chapter 1 Aku Ingin
Chapter 2 Selamanya Cinta
Chapter 3 Patah Hati
Chapter 4 Isyarat Hati
Chapter 5 Risalah Hati Yang Terluka


Sinopsis

“Enggak, tapi aku usahakan aku datang sebelum kamu tampil dan aku akan menjadi penonton paling antusias,”
(Dewa Pramudia_Dewa)

“Kamu, kan tau sendiri, aku masih menjadi tulang punggung keluargaku sejak Ayah meninggal dan apalagi biaya formulirnya dan juga biaya transportasi dari Surabaya ke Bandung tidak sedikit, uang dari mana?”
(Yasmine Artalyta_Yasmine)



Karakter Tokoh Cinta Sebenarnya

Dewa Pramudia (Dewa)
Menurut Dewa Pramudia (Dewa), Cinta yang sebenarnya adalah ketika dia menitikan air mata dan masih peduli terhadap kamu. Adalah ketika kamu tidak mempedulikannya dan dia masih menunggumu dengan setia. Adalah ketika kamu mencintai orang lain dan dia masih bisa tersenyum dan berkata ‘Aku turut berbahagia untukmu’. Kadang kala orang yang paling mencintai adalah orang yang yang tak pernah menyatakan cinta kepadamu karna takut kau berpaling dan memberi jarak dan suatu saat dia pergi kau akan menyadari bahwa dia adalah cinta yang tak kau sadari.

Yasmine Artalyta (Yasmine)
Karena Yasmine Artalyta (Yasmine) masih menjadi tulang punggung keluarganya Sejas ayahnya meninggal, membuatnya berpikir 2x kali untuk mengeluarkan biaya formulir dan transportasi untuk menikuto lomba biola di Bandung. Ia ingin permainan biolanya dapat membuatnya terrenal dan otomatis itu akan menambah pundi-pundi keuangannya. Akhirnya dengan biola tua dan biaya pemberian Dewa Pramudia (Dewa), Yasmine Artalyta (Yasmine) berangkat ke Bandung mengikuti perlombaan pencarian bakat pemain Biola.


Lagu Cinta Buat Tasya (5-End)

Chapter 5
Undangannya Mana??


Beby keluar dari dalam kamarnya, setelah dia yakin dengan dandanannya. Malam yang dinanti-nanti oleh Virgo dan Indra tiba. Hari ulang tahun Tasya. Beby akan pergi ke acara itu. Tapi langkah kakinya berhenti di depan pintu, saat didengarnya suara ngjrang-ngjreng dari kamar Virgo. Beby segera melihat ke kamar kakaknya itu. “Bang Virgo masih ada di kamarnya ya? Bukannya dia mau pergi ke pestanya Tasya?” hati Beby bertanya-tanya.

“Bang elo kok masih pakai singlet gitu sih? Bukannya mau ke pestanya Tasya?” Virgo diam saja. Dia malah nyanyi-nyanyi nggak jelas.

“Bang Virgo mau bareng Beby nggak?”

“Nggak!” jawabnya ketus.

“Bang Virgo nggak jadi berangkat?”

Virgo memutar kepalanya kearah Beby. Adiknya itu jadi shock sampai-sampai ketawa terbahak-bahak melihat Virgo berlinangan air mata. Dengan wajah persis jalan raya sesudah hujan reda, cowo jangkung itu berkata, “Gue nggak diundang, Beb…. hik hik hik…..”

Di tempat lain, Indra duduk termenung memandangi sekuntum mawar yang dia petik dari sebuah taman di perumahan dekat tempat tinggalnya, sambil meratap sedih. Sampai detik itu dia masih berharap , Tasya akan menghubunginya via telfon, untuk mengundangnya datang ke pestanya. “Apa dia lupa ya?”




TAMAT
Copyright Sweety Qliquers
www.mininovel-lovers86.blogspot.com

Lagu Cinta Buat Tasya (4)

Chapter 4
Cinta Oh Cinta


Hampir setiap hari Virgo nampak selalu melamun sambil memeluk gitar akustiknya. Dia lagi cari inspirasi . Bahkan ke sekolah pun dia bawa-bawa gitar, mirip Roma irama. Kelakuannya itu jelas bikin resah para pengamen yang biasa beroperasi di angkot. Soalnya Virgo juga suka ngjrang-ngjreng pas lagi naik angkot menuju sekolah nya. Dan ajaibnya, para penumpang suka sama suaranya yang cempreng. Mereka nggak segan-segan memberi uang demi memberi penghargaan pada Virgo setiap selesai menyanyi. Virgo mah nggak tau-menau. Pikirannya dipenuhi oleh wajah imutnya Tasya. Tapi para pengamen itu…. Mereka jadi nggak laku!

“Emang bokap nyokap elo udah nggak sanggup ngasih uang saku ya , sampai-sampai lo harus ngamen buat ongkos ke sekolah?” tegur Indra , saat melihat Virgo asyik ngelamun sambil memetik gitar ditaman sekolah, pas pelajaran pertama. Dan tempat itu, membuat pandangan Virgo leluasa menikmati wajah imutnya Tasya, yang kelasnya persis berada di samping taman sekolah.

“Gue lagi bikin lagu cinta buat Tasya,” jawab Virgo tanpa meninggalkan keasyikannya memetik gitar.

“Lagu cinta?”

“Iya. Buat kado ulang tahunnya.”

“Romantis abis, tuh! Dari mana elo dapat ide brilian begitu? Otak lo kan cetek. Pasti nggak bakalan nyampe mikir sehebat itu!”

“Dari intel gue donk.”

“Beby?”

“Yoa…!”

“Wah, bisa kalah ne gue….”

“Emang siapa yang bilang lo bakalan menang?”

“Ah, kalau cuma sama lagu cinta aja mah gue gak bakalan kalah! Biar bagaimana pun, bunga lebih memberi makna,” ujar Indra, sambil matanya meneranwang kearah kelas Tasya.

“Kita liat aja nanti!” Virgo juga menatap ke arah yang sama dengan Indra.

“Aduh, ucap Indra, “liat sih liat…. Tapi nggak usah pake ngejewer kuping gue donk!”

“Siapa yang ….aduh!” Virgo dan Indra saling berpandangan sebelum memutar kepala kebelakang, dan menemukan Pak Burhan, kepala sekolah mereka berdiri persis di belakang mereka, dengan kedua tangan yang masing-masing menjewer kuping Virgo dan Indra.

“Hmm,,,, bagus ya, jam pelajaran malah keluyuran di taman sekolah!”

“He he he …” Virgo dan Indra nyengir sama-sama.

Gara-gara itu, keduanya harus berlari keliling lapangan sambil teriak-teriak… ”kami nggak akan membolos lagi saat pelajaran!” sampai bel istirahat pertama berbunyi. Plus jadi bahan tontonan anak-anak satu sekolahan!

Lagu Cinta Buat Tasya (3)

Chapter 3
Ide Dari Beby


Beby lagi celingukan di beranda depan rumahnya, saat Virgo mencolek pundaknya. Adik kandungnya itu cuek bebek. Bibirnya dimaju-majuin, biar jadi mirip sama bebek.

“Beby….!!!“ Virgo memperdengarkan suara geledeknya di telinga Beby. Membuat Beby melonjak kegirangan. Saking girangnya, dia mengambil sapu lidi buat dilemparkan ke jidat kakak nya itu.

“Ampun! Ampun! Gue menyerah kalah!” Kalau aja Virgo nggak segera mengibarkan bendera putih, mungkin bakal terjadi pembantaian sadis di tempat itu.

“Makanya jangan iseng!” Beby mengembalikan sapu lidi pada tempatnya semula.

“Siapa yang iseng… elo aja yang cuek bebek sama gue.”

“Bang Virgo tau nggak?!” Ucap Beby sambil tolak pinggang. “Ada pepatah barat yang mengatakan, lebih baik menghadapi seribu orang yang lagi marah, dari pada harus menghadapi satu orang yang lagi kelaparan!”

“Apa hubungannya?”

“Gue lagi lapar tau! Mama mana sih?!”

“Yah, bilang donk dari tadi!”

“Emangnya Bang Virgo tau kemana Mama pergi?”

“Kalau cuma lapar nggak perlu nunggu Mama datang.”

“Terus, nunggu apaan?”

“Tuh!” jari telunjuk Virgo mengarah pada gerobak bakso yang mangkal di dekat rumahnya.

“Bang Virgo mau beliin? Gue lagi nggak ada duit sama sekali, neh!”

“Pesan aja!”

“Cihuuuyyy!”

“Sekalian gue pesanin, ya!”

“Sip!”

Tidak berapa lama kemudian, Beby sudah kembali lagi bersama 2 mangkok bakso. Dia memberikan yang semangkok pada Virgo. Lalu keduanya segera membantai bakso-bakso yang berenang di dalam mangkok itu.

“Beb, elo tau nggak kesukaan Tasya?” Beby menghentikan aktifitas pembantaiannya.

“Oo….jadi karena itu…”

Virgo hanya manggut-manggut. Beby memang sekelas dengan Tasya. Bukan Cuma sekelas ,tapi juga semeja! Makanya, Virgo merasa perlu memperalat gadis itu untuk membocorkan kegemaran cewe’ imut itu.

“Tau nggak?”

“Of course donk!”

“Apa?”

“Ngobat.”

“Hah ???” Virgo sampai tersedak mendengar keterangan Beby itu, “Sumpe loe ?”

“He he he…. Just kidding, bro.”

“Ah, gue kira benrran…..”

“Mang kenapa sih, Bang Virgo pake tanya-tanya segala?”

“Gue mau beliin kado ultah buat dia.”

“Nah, ketahuan, ya! Bang Virgo naksir sama Tasya?” Virgo Cuma cengar-cengir sambil garuk-garuk kepala. Wajah kepiting rebusnya udah menjawab pertanyaan Beby barusan.

“Tasya itu paling suka dengar musik, Bang.” jawab Beby ,”Jadi kado yang cocok buat dia …”

“Kaset!” sambar Virgo cepat sebelum Beby menuntaskan kalimatnya.

“Ah, norak Bang! Cupu alias kuno!”

“Emangnya elo ade ide yang lebih OK?” Virgo meletakan mangkok baksonya yang sudah tak tersisa.

“Kalau saran gue nich, Bang Virgo jangan ngsih dia kaset,tapi lagu!”

“Maksudnya?” Tanya Virgo, sambil tanganya yang masih mengenggam garpu, bergerilia ke mangkok bakso Beby. Sebutir bakso gagal dia makan, karena sendok Beby lebih dulu mendarat di jidadnya.

“Bang Virgo kan jago main gitar, terus suara Bang Virgo juga masih jauh lebih merdu dari pada ayam tetangga. Nah, Bang Virgo buatin lagu aja buat Tasya. Nyanyiin deh pas acara ultahnya langsung di depan Tasya! Dijamin Tasya bakalan suka deh!”

“Ugh….” Virgo mencubit kedua pipi Beby yang mirip bakpau. “Gue nggak rugi punya elo!”

“Ihhh…!! Beby menepis tangan kakaknya itu, “Apa-apaan sih! Sakit tau!”

“Thank’s ya, Beb !”

“Eh, mau kemana Bang?”

“Bikin lagu cinta buat Tasya!”

“Baksonya siapa yang bayar neh?”

Virgo mengangkat bahu.

“Lho, tadi kan Bag Virgo ….”

“Gue kan Cuma nyuruh pesan aja. Nggak mau beliin.”

“Hhah?!?” Bola mata Beby membulat, sebulat bakso yang dimakannya. Alarm tanda bahaya dikepala Virgo berbunyi. Cepat-cepat dia angkat kaki, sebelum mangkok bakso di tangan Beby berpindah ke kepalanya.

“Cabuuuuutttttzzzzz….!!”

Lagu Cinta Buat Tasya (2)

Chapter 2
Kado Untuk Tasya


Ponsel Indra menjerit-jerit, layar LCD nya menampilkan nama Virgo. Indra segera menekan tombol OK. “Ada apa ?“

“Gue cuma mau nanya, elo mau ngasih kado apa ke Tasya?”

“Rahasia perusahaan donk!” jawab Indra, “ntar elo niru-niru lagi !”

“Yee… gue nanya elo, justru biar kado kita nggak samaan. Gue udah cukup menderita di bilang kembar sama elo , gara-gara tubuh kita yang sama-sama jangkung.”

“Benar juga ya….,” Indra manggut-manggut,“Rencananya sih gue mau ngasih dia sekuntum bunga mawar. Biar romantis!”

“Hah? Kayak lagu dangdut donk!” Virgo tertawa terbahak-bahak, sambil bernyanyi, “sekuntum mawar merah …yang kau berikan kepadaku….di malam itu… hua ha ha!”

“Ah, kabel loe!” Indra sewot.

“Kabel? Apaan tuch?”

“Kadal belang!”

”Huaaaahaha…” lagi-lagi Virgo ngakak.

“Kalau elo mau ngadoin apa ke Tasya?” Tanya Indra setelah tawa Virgo mereda.

“Hmm…” Virgo nggak langsung menjawab.

“Apaan?”

”Rahasia donk!” sahut Indra, segera memutus teleponnya, sebelum Indra sempat memaki-maki dirinya. Indra Cuma bias ngomel-ngomel.

Lagu Cinta Buat Tasya (1)

Chapter 1
Naksir Tasya


Siang itu adalah siang yang sangat cerah. Panas matahari menyengat 2 sahabat yang bernama Indra dan Virgo. “Udah punya rencana buat malam mingguan nanti ?“ Tanya Indra pada Virgo , dalam perjalanan pulang ke rumah di sebuah angkutan kota.

“Ehm… belum, tuh,,” jawab cowo’ jangkung itu tanpa meninggalkan keasyikan goyang-goyang kepala, mengikuti irama music dari I-POD, melalui headset yang menyumbat telinga kanannya. Sebelah lagi, menyumpal telinga kiri Indra yang duduk di sebelahnya.

“Kalau gue mau datang ke pestanya Tasya.“

“Tasya?” Virgo segera memalingkan wajah-nya ke arah Indra.

“Iya, Anak kelas 1 yang imut itu.”

“Wah, kalau gitu bakalan malam mingguan sama-sama.”

“Maksud loe?”

“Gue juga mau datang ke pestanya Tasya! Udah lama gue naksir dia!”

“Sejak kapan?”

“Sejak MOS (Masa Orientasi Siswa) dulu.”

“Yah… tau gitu gue nggak kabar-kabarin deh , kalau Tasya mau ngerayain ulang tahunya pas tahun baru.”

“Emangnya kenapa?” kening Virgo mengkerut .

“Udah dari MOS dulu gue pengen nembak dia!”

“Hua ha ha… salah sendiri kenapa elo nggak cek dulu.”

“Jadi kita saingan nih?”

“Siapa takut!”

“Oke, kita bersaing!”

Ciiiitttt…. Jdug!

“Aduh !” ucap Indra dan Virgo nyaris bersamaan, sambil megangin jidatnya yang beradu gara-gara sopir angkot ngerem mendadak.

“Kalau ngerem bilang-bilang donk, bang!” tegur Indra sewot.

“Tau nich !” Indra nggak kalah sewot , “iseng banget. Nggak ada apa-apa ngerem.”

“Sori dech, Dek,” jawab si abang sopir sambil cengar-cengir, “Abis kaki saya bosan ngijekin pedal gas mulu !”

Lagu Cinta Buat Tasya (Sinopsis)

Lagu Cinta Buat Tasya
Created By Sweety Qliquers
(Samarinda, Sabtu <> 060310, 1018AM)


Lagu Cinta Buat Tasya
Chapter 1 Naksir Tasya
Chapter 2 Kado Untuk Tasya
Chapter 3 Ide Dari Beby
Chapter 4 Cinta Oh Cinta
Chapter 5 Undangannya Mana??


Sinopsis

“Yee… gue nanya elo, justru biar kado kita nggak samaan. Gue udah cukup menderita di bilang kembar sama elo , gara-gara tubuh kita yang sama-sama jangkung.”
“Hah? Sekuntum mawar merah? Kayak lagu dangdut donk! …sekuntum mawar merah …yang kau berikan kepadaku….di malam itu… hua ha ha!”
(Virgo Perdana_Virgo)

“Romantis abis, tuh! Dari mana elo dapat ide brilian begitu? Otak lo kan cetek. Pasti nggak bakalan nyampe mikir sehebat itu!”
(Indra Danuatmadja_Indra)

“Bang Virgo kan jago main gitar, terus suara Bang Virgo juga masih jauh lebih merdu dari pada ayam tetangga. Nah, Bang Virgo buatin lagu aja buat Tasya. Nyanyiin deh pas acara ultahnya langsung di depan Tasya! Dijamin Tasya bakalan suka deh!”
(Beby Galia Putri_Beby)



Karakter Tokoh Lagu Cinta Buat Tasya
Virgo Perdana (Virgo)
Hampir setiap hari Virgo Perdana (Virgo) nampak selalu melamun sambil memeluk gitar akustiknya. Dia lagi cari inspirasi. Bahkan ke sekolah pun dia bawa-bawa gitar, mirip Roma irama. Kelakuannya itu jelas bikin resah para pengamen yang biasa beroperasi di angkot. Soalnya Virgo Perdana (Virgo) juga suka ngjrang-ngjreng pas lagi naik angkot menuju sekolah nya. Dan ajaibnya, para penumpang suka sama suaranya yang cempreng. Mereka nggak segan-segan memberi uang demi memberi penghargaan pada Virgo Perdana (Virgo) setiap selesai menyanyi. Virgo Perdana (Virgo) mah nggak tau-menau. Pikirannya dipenuhi oleh wajah imutnya Tasya. Tapi para pengamen itu…. Mereka jadi nggak laku!

Indra Danuatmadja (Indra)
Biar romantis Indra Danuatmadja (Indra), berniat memberi Tasya sekuntum mawar merah untuk kado ulang tahunnya. Walaupun sering diejek Virgo Perdana (Virgo) kadonya itu norak dan seperti lagu dangdut, tetapi Indra danuatmadja (Indra) yakin kalau bunga itu lebih memberi makna daripada lagu cinta buatan Virgo Perdana (Virgo).


Beby Galia Putri (Beby)
Karena tahu abangnya itu jago main gitar dan suara Abangnya (Virgo) itu juga masih jauh lebih merdu dari pada ayam tetangga, Beby Galia Putri (Beby) mengusulkan Abangnya (Virgo) untuk buat lagu cinta untuk kado ulang tahun Tasya dan nyanyi langsung di acara pesta ulang tahun Tasya.



Dimana Bahagia Itu?? (13-End)

Chapter 13
Batin Dira

Tania, maafkan aku. Selama sifatmu yang pendengki itu belum berubah, aku tidak mungkin bisa menikahimu. Aku tidak pernah membayangkan istriku nanti menjadi sumber bencana bagi aku dan anak-anakku dengan sifat pendengkinya itu. Aku hanya ingin keluargaku nanti bahagia dunia akhirat, itu saja, dan itu tidak mungkin didapat bila hati penuh dengan racun sepertimu. Maaf aku, Tania.




TAMAT
Copyright Sweety Qliquers
www.mininovel-lovers86.blogspot.com

Dimana Bahagia Itu?? (12)

Chapter 12
Surat Untuk Bella Yang Takkan Pernah Sampai

Bella, mengapa ya kamu selalu setingkat lebih baik di atasku. Bahkan saat kamu menderita pun seperti sekarang, aku masih merasa kau lebih beruntung dibandingkan aku. Dari dulu Bell, dari dulu. Aku tak pernah bisa mengalahkanmu. Mengapa.

Kamu dicintai oleh seseorang dengan begitu tulus dan sayang. Jika kamu tidak bodoh dan naif, mungkin kamu sudah bahagia sekarang dengan Raks. Kenapa Bell, kenapa aku tidak seberuntung kamu. Apa salahku??????

Aku tidak kalah cantik dibandingkan kamu, bahkan aku lebih cantik. Gayamu yang terkesan kuno dan nggak ada modis-modisnya sungguh berbeda sekali denganku yang selalu memperhatikan penampilan. Bahkan kamu tak pernah berdandan, Bell. Kamu hanya gadis lugu yang tertipu oleh kata-kataku hingga akhirnya Raka memutuskanmu. Namun, hingga detik ini aku masih merasa kamu lebih beruntung dibandingkan aku.

Laki-laki memang aneh, ya seperti Raka. Dia mencintai wanita yang naif dan sederhana seperti Bella.

Heeh… hidup ini kadang-kadang tak bisa dilogika. Kamu tidak sebanding denganku Bell, tapi mengapa kamu selalu lebih beruntung dibandingkan aku.

Saat ini, saat kamu sedih dan terluka, seharusnya aku datang tuk memberikan semangat buatmu. Namun, aku tak mungkin melakukannya. Kau sudah tahu isi hatiku dan aku tak mungkin bisa berpura-pura lagi. Ini kenyataan, bukan sinetron atau film yang pada akhir episode keduabelah pihak yang bertikai berbaikan dan bersatu kembali.

Bell, andai saja kau tahu selamanya aku akan terus menjadikanmu sebagai rival sejatiku dalam hal apapun, walau untuk itu akau harus kehilangan ketenangan hatiku, namun setidaknya aku ingin kau merasakan sedikit apa yang aku rasakan, yaitu ketidakbahagiaan.

Aku bersumpah Bell….

Dimana Bahagia Itu?? (11)

Chapter 11
Kesepian Di Tengah Keramaian

“Tapi kenapa, Dir? Kenapa kamu masih berfikir ulang untuk menikahi aku? Kenapa?”, kataku pada laki-laki yang berada di hadapanku saat ini.

Dia tak bisa berkata-kata. Hanya kulihat wajahnya yang pucat dan terus menunduk sedari tadi. Rasa sakit yang kini merasuki rongga dadaku semakin kuat dan tak mau menghilang.

“Bukankah penghasilanmu sudah lebih dari cukup untuk menikah dengan aku?”, itulah kataku waktu itu.

Sejujurnya aku malu mengatakan ini pada laki-laki. Seperti tidak punya harga diri saja rasanya. Inginku seperti Bella yang tidak perlu susah-susah melakukan hal melakukan ini seperti ku.

Bella, Bella, setiap mengingatmu hatiku selalu sakit, walau kini kau telah menderita, namun aku belum puas, entah kenapa.

“Menikah itu tidak cukup hanya bermodal uang banyak Tan, itulah yang belum aku miliki, aku belum siap. Kamu bisa ngerti kan. Menikah itu penuh dengan konsekuensi yang harus kita hadapi, dan itu tidak mudah.” kata laki-laki itu.

Dasar Pengecut. Batinku. Laki-laki memang selalu mencari pembenaran atas tindakan yang dilakukannya. Dulu kau bilang ingin mencari pekerjaan yang mapan dulu. Sekarang semua sudah kau dapatkan kau bilang juga masih belum siap. Alasan yang terkesan mengada-ada. Aku tidak sanggup kau gantung terus Dir, lebih baik kita putus. Itulah yang sebenarnya ingin aku katakan, namun rasa sayangku mencegahku tuk mengatakannya.

“Baiklah, bila itu memang maumu”, kataku mengakhiri pembicaraan dengannya.

Aku pun berlalu pergi dan tak peduli entah dia berfikir seperti apa.

Tania, Tania, bodoh sekali kamu. Kamu cantik, pintar, dan kaya. Apa yang kamu inginkan akan terwujud, tetapi mengapa untuk urusan semacam ini saja kamu harus bertekuk lutut dan merendahkan harga dirimu di depan laki-laki tak berguna itu. Mengapa kamu tak bisa lepas darinya Tania. Sisi hatiku mengatakan itu kepadaku, namun aku seperti tak mau mendengarkannya dan terus bertahan dengan cintaku pada laki-laki itu.

Dimana Bahagia Itu?? (10)

Chapter 10
Bahagia itu Pergi Lagi


Ya Tuhan, aku benar-benar tidak mengerti apa maksud semua ini. Mengapa Kau mempermainkan aku Ya Tuhan. Apa maksud dari kejadian ini. Ibuku pingsan, ayahku dilarikan ke rumah sakit karena serangan jantung, para undangan yang datang berhamburan tak karuan, mungkin mereka sedih melihatku terdiam terpaku tanpa tangis meratapi nasibku, dan kulihat di ujung sana seseorang memandangku dengan culas, entahlah mengapa kau bersikap seperti itu kepadaku, Tania.

Alvin, calon suamiku meninggal dunia. Kecelakaan merenggut nyawanya. Sebuah truk yang melaju kencang menabrak mobil pengantin yang ditumpangi Alvin. Berbagai cara dilakukan, namun Alvin tidak bisa diselamatkan, sedangkan supir truk melarikan diri entah ke mana.

Acara pernikahan yang penuh dengan canda tawa berubah menjadi upacara kematian yang penuh dengan tangis air mata…

Diam….
Itu yang aku lakukan…
Menangis????? Percuma
Mending Tertawa…..
Menertawakan diriku….
Iya, hari ini aku bahagia….
Karena tidak jadi menikah… dengan orang yang tidak aku cintai….
Aku bahagia…
Aku bersuka cita di tengah derai air mata
Buat apa menangis……
Sesungguhnya aku tertawa dalam tangisan
Dan bersuka cita dalam duka
Mungkin aku sudah ditakdirkan seperti ini oleh-Nya
jadi buat apa aku berduka
Duka yang tiada habisnya……

Dimana Bahagia Itu?? (9)

Chapter 9
Menuju Hari Bahagia

Hari ini, tepatnya jam 10 Pagi acara akad nikah akan dilangsungkan. Di rumah ini. Dihadiri oleh sanak saudara dan teman-teman dekat, termasuk Tania. Tak apalah, meski luka itu masih ada dan aku mencoba untuk menghapuskannya. Toh, sebentar lagi aku juga akan bahagia karena akan segera menikah. Meskipun sesungguhnya saja aku tidak tahu, apa definisi kebahagiaan itu. Menikah dengan orang yang kita cintai ataukah menikah dengan orang yang mencintai kita. Mencintai atau dicintai. Mana yang lebih enak. Mana yang kita pilih. Apakah aku akan membuat dia bahagia ataukah sebaliknya. Aku juga tak tahu. Lihat saja nanti, kemana waktu akan membawaku. Tapi saat ini aku bahagia karena bisa membuat kedua orangtuaku bahagia, setelah beberapa waktu yang lalu sempat frustasi karena pernikahan anaknya dibatalkan begitu saja. Aku harus bahagia… itulah yang berkali-kali aku katakan dalam hati….

Hingga akhirnya…..

Dimana Bahagia Itu?? (8)

Chapter 8
Memori Bella

”Aku ingin pernikahan kita dibatalkan saja,” suara laki-laki di seberang sana.

”Ta…tapi Kenapa Raka? Aku hanya minta pernikahan kita diundur, bukannya dibatalkan, kenapa kamu langsung memutuskan seperti itu?” jawabku kaget mendengar apa yang barusan dikatakan oleh laki-laki yang berada di seberang sana.

”Harusnya kamu tanyakan itu pada dirimu sendiri, mengapa aku bersikap seperti ini. Ya, aku memang mencintaimu, oleh sebab itu aku ingin segera menikahimu Bell. Aku ingin hubungan kita legal dan halal, ” balas laki-laki itu dengan nada mulai meninggi.

”Tapi…” Lanjutnya.

”Kamu yang membuat aku mengatakan seperti ini. Dengan sikapmu yang tarik ulur-tarik ulur membuat harga diriku sebagai seorang laki-laki terinjak-injak. Hari ini bilang siap jadi istri besok bilang takut menghadapi pernikahan yang terlalu dini, ” Ucapnya dengan keras sampai-sampai orang-orang seisi rumah melihat ke arahku. Mungkin dalam hati mereka berpikir, apa yang dibicarakan oleh orang di seberang sana hingga membuat suaranya terdengar samar-samar di telinga mereka.

“Sikap seperti apa itu Bell,” katanya dengan nada mulai menurun.

”Mungkin aku memang merampas kebahagiaanmu dan masa mudamu. Ya, hati orang siapa yang tahu. Meskipun niatku tulus padamu namun ternyata niat tulusku dibalas dengan sikap penuh ragu. Dalam hal ini aku yang salah, Bell. Aku yang memaksamu untuk menikah denganku. Aku rasa tidak terlalu dini bila pernikahan kita dibatalkan saja. Toh pertemuan antar keluarga juga belum terjadi, hanya pertemuan antara aku dan ayahmu saja. Masalah orang tuamu aku akan menjelaskan semuanya kepada mereka. Kamu tidak usah khawatir, ” kata- kata terakhirnya sebelum kami mengakhiri pembicaraan di telpon.

Bla bla bla… Aku tidak ingat apa yang dia katakan sesaat sebelum dia mengucapkan salam dan menutup telpon. Aku hanya dengar PERNIKAHAN DIBATALKAN. Hanya itu yang memenuhi ruang pikiranku.

Tak ada lagi yang bisa aku pikirkan saat itu. Mau menangis juga sia-sia. Mau memohon-mohon juga tidak mungkin. Aku hanya ingin menceritakan ini pada Tania, mungkin saja bisa mengurangi beban di hati. Selama ini, Dia yang selalu mengerti dengan apa yang aku rasakan…

Namun selang sehari setelah aku bercerita pada Tania. Semua kebusukannya selama ini terungkap. Tidak mungkin sebuah diari bisa berbohong. Bukankah diari itu adalah ungkapan isi hati. Aku membaca diari Tania ketika bertandang ke rumahnya. Mungkin aku memang lancang membuka-buka barang yang bukan milikku. Tapi, suasana sepi dan rasa penasaran melihat sebuah buku harian berwarna putih yang akhirnya mendorong aku untuk mengambilnya dan melihat isinya. Tak disangka, selama ini Tania menganggap aku sebagai musuhnya. Dia pura-pura sedih padahal bahagia. Ketika aku sedih dia senang dan ketika aku senang dia sedih. Ya Tuhan… selama ini aku begitu tulus menganggap dia sebagai seorang sahabat sekaligus saudara, tapi mengapa dia seperti ini. Lengkap sudah semuanya. Ditinggal oleh orang yang dicintai dan dikhianati orang yang dianggap sahabat sejati.

Maafkan aku Tania.

Hanya itu yang aku tulis dalam buku harian dia sesaat sebelum aku pergi meninggalkan rumahnya… tanpa pamit dan aku tidak peduli… Maaf…

Dimana Bahagia Itu?? (7)

Chapter 7
Sinar Terang Dalam Hati Bella

Besok…. ya besok…. aku akan menikah dengan Alvin. Alvin Wiguna, kerabat jauh yang ternyata sudah memendam perasaan cinta sejak lama kepadaku. Entah mengapa, aku juga tak tahu… mengapa dengan mudahnya aku menerima lamaran Alvin, padahal aku sama sekali tidak cinta. Tapi aku tahu dia mencintai aku sedari dulu. Aku tidak bisa membayangkan kehidupan macam apa yang akan aku lalui nanti bersama dengan orang yang tidak aku cintai sama sekali.

Sudahlah, takdir inilah yang harus aku lalui. Aku tidak bisa membiarkan diriku berlama-lama seorang diri. Aku butuh pendamping yang setiap hari bisa menemaniku. Aku tidak mau hidup sendiri terlalu lama. Aku juga tidak mau membiarkan orang tuaku terus menerus sedih meratapi pernikahan anaknya yang tidak jadi. Biarlah, cinta bisa dipelajari. Mungkin suatu saat nanti aku akan bisa mencintai Alvin seperti aku mencintai Raka.

Dimana Bahagia Itu?? (6)

Chapter 6
Kegelisahan Tania


Bella…. mengapa kamu selalu beruntung. Setelah Raka membatalkan pernikahanmu, datang Alvin yang ingin mencoba hidup bersamamu. Dan kau pun dengan mudahnya menerima lamarannya. Benar-benar tidak seperti yang aku bayangkan. Aku kira kamu akan menangis meratapi kisah cintamu yang berakhir tragis. Tapi ternyata mudah sekali hatimu berpaling. Sesungguhnya kamu cewek macam apa sih., mungkin benar kata Raka Plin Plan, mana mungkin kamu semudah itu melupakan seseorang yang sangat kau kagumi dan cintai. Aku benar-benar tidak tahu Bell, jalan pikiranmu seperti apa. Tapi yang jelas hatiku kini semakin terpuruk saja. Sebagai wanita tentunya. Dunia ini memang aneh, di satu sisi ada seorang wanita yang begitu mudahnya dicintai oleh pria…ya itulah kamu Bell. Di sisi lain, ada seorang wanita yang dari hari kehari semakin terpuruk meratapi nasibnya yang tidak jelas ujung pangkalnya. Andai saja nasib manusia bisa ditukar.

Dimana Bahagia Itu?? (5)

Chapter 5
Ketegaran Bella

Mungkin hal ini memang menyakitkan. Pernikahan dibatalkan. Persahabatan yang penuh dengan intrik dan pengkhianatan. Namun, Masa-masa itu sudah aku lewati kini. Masa-masa suram dalam hidupku. Berusaha bangkit meski tertatih-tatih. Memang harus bagaimana lagi… Hidup ya hidup. Kita harus bertanggung jawab dengan apa yang kita lakukan.

Dimana Bahagia Itu?? (4)

Chapter 4
Ruang hati Tania

Aku bahagia, akhirnya Bella tidak jadi menikah dengan Raka…. Entah mengapa aku bersikap seperti ini aku juga tak tahu. Bukan karena aku mencintai Raka, bukan… jelas dia bukan tipeku. Tapi aku juga tak tahu pasti, hatiku berbunga-bunga ketika aku tahu Raka membatalkan pernikahannya dengan Bella. Mungkin dia sudah nggak tahan dengan sikap Bella yang plin plan. Ya, aku mengerti, seharusnya Bella tidak bersikap seperti itu. Jelas saja Raka tersinggung dan kecewa sampai akhirnya membatalkan pernikahannya. Tapi, jujur saja aku bahagia banget. Entahlah…. hati manusia memang tidak akan ada yang bisa tahu.

Mungkin saat ini Bella stres, dikhianati sahabat dan orang yang paling dicintai. Tapi, inilah dunia…. kadang tak seindah yang kita bayangkan. Sekali-sekali kamu perlu merasakan pahitnya dunia ini, Bell…

Dimana Bahagia Itu?? (3)

Chapter 3
Luka Hati Bella

Hatiku kini berselimut duka
Tak ada seorangpun yang mau mengerti
Perih dan luka bercampur menjadi satu
Harapan itu kini telah hilang berganti dengan penyesalan
Kebahagiaan yang dulu sempat terbayang
Kini hilang menjadi serpihan luka yang begitu mendalam
Andai saja waktu bisa berputar
Ingin rasanya aku kembali
Terlalu sakit bila diingat
Peristiwa itu
Selamat tinggal kenangan
Selamat tinggal semuanya
Dia telah pergi meninggalkan luka yang tak terperi dalam hati
Menyesali diri ataukah berserah diri
Tidak ada yang sejati di dunia ini

Aku akan menata hidup baruku. Memungut serpihan-serpihan luka ke dalam untaian-untain doa agar hidupku kembali bersinar seperti dulu kala. Raka, berbahagialah engkau di sana. Mungkin semua ini memang salahku yang tidak bisa mengerti dirimu. Tania…. terimakasih telah menjadi temanku selama ini, meski akhirnya kau torehkan luka di atas tali persahabatan yang telah kita bina selama ini. Aku tidak tahu mengapa kau bisa berbuat seperti ini. Tapi yang pasti aku yakini, aku sudah sakit hati Tania…

Dimana Bahagia Itu?? (2)

Chapter 2
Diary Tania

Sebagai wanita tentu saja aku menginginkan pernikahan. Siapa sih yang nggak bahagia bila ada seorang lelaki yang dengan penuh keyakinan melamar kita dan menginginkan kita untuk menjadi istrinya. Seenak-enaknya tidak menikah masih enak menikah (lebih legal dan dilindungi hukum). Tak bisa aku pungkiri bahwa di sudut hatiku yang paling dalam aku iri banget dengan Bella. Betapa beruntungnya dia, tiga bulan lagi dia akan dipersunting oleh seorang laki-laki yang begitu mencintainya. Dia akan memasuki dunia baru. Sedangkan aku, status juga masih menggantung, entah sampai kapan…

”Maaf Tan, bukannya aku nggak mau menikahimu, tapi kita harus realistis, hidup itu nggak mudah butuh biaya, dan kita juga masih muda masih banyak hal yang bisa kita lakukan. Justu karena aku sayang kamu, makanya aku nggak mau membelenggumu dalam sebuah institusi bernama pernikahan. Aku pengen kita benar-benar siap. Menikah itu tidak mudah.” Kata Dira waktu itu saat aku tanya kapan hubungan kami diresmikan.

Heran sekali aku, padahal usia Dira dan Raka sama, 26 tahun, tapi mengapa mereka berdua memiliki pola pikir yang berbeda. Andai saja Dira seperti Raka.

Betapa beruntungnya engkau Bell, tidak seperti diriku…

***

Segitu banget sih Raka sama Bella. Khawatir banget. Padahal perginya juga bareng-bareng nggak sendiri dan itupun cewek semua. Khawatir banget sama Bella. Belum jadi suaminya aja udah Care banget.

Kenapa sih Bell, kamu selalu membuat aku iri sama kamu. Tahu nggak, aku juga pengen diperhatikan oleh orang yang aku cintai, tapi sampai detik ini itu tidak pernah aku dapatkan. Kenapa sih selalu Bella, Bella dan Bella.

Aku sebel banget sama kamu, Bell. Entah kenapa aku berharap agar pernikahanmu itu tidak akan pernah terjadi, mungkin aku jahat tapi aku tidak bisa menutupi rasa sakitku bila kau menikah, Bell.

Kenapa aku tidak bisa sepertimu sih. Mengapa Raka bisa suka dengan cewek seperti kamu yang cupu dan lugu. Dunia ini benar-benar membuat hatiku kesal. Kau musuh dalam selimutku, Bell. Ingat itu, aku tidak akan pernah membiarkan hidupmu bahagia.

Bodoh banget dirimu yang tidak menyadari bahwa selama ini aku tidak pernah menyukaimu. Aku Cuma berpura-pura baik padamu. Bagiku, kamu adalah duri dalam daging.

Dimana Bahagia Itu?? (1)

Chapter 1
Diary Bella

Entah kenapa keraguan itu masih saja terus merasuki jiwaku. Padahal tanggal pernikahan sudah ditentukan. Tiga bulan lagi aku akan menikah, memulai hidup baru dengan seseorang yang aku cintai. Harusnya aku bahagia, tapi entah kenapa bukannya bahagia tetapi ragu, keraguan yang tak tahu ujung pangkalnya. Apalagi kata Tania sahabatku pernikahanku ini dianggap tidak wajar di zaman sekarang.

”Terlalu dini Bell, apa kamu nggak nyadar, kamu cantik dan pintar, masih banyak belahan bumi yang belum kamu kunjungi dan masih banyak rahasia Illahi yang belum kamu pelajari. Rugi banget kalau waktumu hanya dihabiskan untuk mengabdi kepada seseorang yang notabene baru kenal, ” Kata Tania beberapa hari yang lalu.

”Tapi Tan, aku nggak pernah berpikir seperti itu. Bukankah menikah itu dianjurkan untuk menghindari kemaksiatan. Aku juga masih bisa berkarya kok. Aku yakin suamiku nanti memberi izin asalkan untuk sesuatu yang baik,” jawabku dengan polosnya.

”Iya Bell, tapi…..aduh…gimana ya menjelaskannya kepada orang yang lugu dan polos seperti kamu. Intinya menikah itu hanya dipergunakan laki-laki sebagai alat untuk berbuat semena-mena kepada wanita (istrinya), ya kalaupun mau menikah harusnya tidak sekarang, dimana energi masih melimpah ruah dan kita masih bisa melakukan apapun yang kita inginkan,” kata Tania dengan penuh antusias.

Aku tak tahu, mengapa ya di saat ingin melakukan sesuatu hati ini selalu ragu. Oh, my diary… apa yang harus aku lakukan…

***

Mengapa keraguan itu bertambah besar. Saat aku minta waktu pada Raka untuk memikirkan kembali keputusan menikah, dia malah marah besar. Telpon dibanting sepertinya. Kenapa dia tidak mengerti perasaanku sih. Ya jelas sebagai wanita aku cukup stres. Seharusnya dia lebih paham dan berpikir lebih moderat. Sungguh enak Tania, nampaknya Dira cukup moderat dan tidak memaksa Tania untuk segera menikah dengannya. Dia masih diberi kebebasan untuk menikmati hari-harinya. Tidak seperti aku, kenapa sih Raka terus saja memaksaku untuk menikah. Apakah ini strategi laki-laki agar bisa menguasai wanita dengan dalih menikahinya padahal sebenarnya ingin menindasnya.

Apa yang dikatakan Tania mungkin banyak benarnya, bahwa ketika sudah menikah seorang wanita tidak akan bisa berbuat apa-apa. Dia harus patuh dan tunduk kepada suaminya entah suka atau tidak. Sungguh menggenaskan sekali.

Diary, menurutmu bagaimana… apa yang harus aku lakukan. Raka marah banget sama aku hari ini. Belum jadi suami aja sikapnya udah seperti itu, gimana jadi suami nanti… ngeselin banget…

Tan, aku pengen banget sepertimu yang bisa bebas pergi kemana-mana tanpa harus ada yang mengomel.

”Bella, Aku seperti ini karena Aku sayang. Sebentar lagi kita juga akan menikah. Aku tidak mau terjadi sesuatu dengan kita. Kalau Kamu mau ke luar kota, ntar ya tunggu Aku. Tunggu aku kalau sudah nggak terlalu sibuk. Jangankan ke luar kota, ke luar negeri juga nggak apa-apa kok, tapi please… sekarang jangan pergi jauh-jauh dulu dari rumah,” begitulah kata Raka ketika aku ingin pergi ke Bali menghadiri wisuda temanku. Padahal perginya juga nggak sendiri, sama teman-teman yang semuanya cewek. Itupun tidak boleh. Sekali lagi, belum jadi istrinya saja udah kayak gini, gimana nanti.

Dimana Bahagia Itu?? (Sinopsis)

Dimana Bahagia Itu???
Created By Sweety Qliquers
(Samarinda, Rabu <> 240210, 0302PM)


Dimana Bahagia Itu???
Chapter 1 Diary Bella
Chapter 2 Diary Tania
Chapter 3 Luka Hati Bella
Chapter 4 Ruang Hati Tania
Chapter 5 Ketegaran Bella
Chapter 6 Kegelisahan Tania
Chapter 7 Sinar Terang Dalam Hati Bella
Chapter 8 Memori Bella
Chapter 9 Menuju Hari Bahagia
Chapter 10 Bahagia Itu Pergi Lagi
Chapter 11 Kesepian Di Tengah Keramaian
Chapter 12 Surat Untuk Bella Yang Takkan Pernah Sampai
Chapter 13 Batin Dira


Sinopsis
...
”Tapi Tan, aku nggak pernah berpikir seperti itu. Bukankah menikah itu dianjurkan untuk menghindari kemaksiatan. Aku juga masih bisa berkarya kok. Aku yakin suamiku nanti memberi izin asalkan untuk sesuatu yang baik,”
(Bella Raflesia_Bella)

”Mungkin aku memang merampas kebahagiaanmu dan masa mudamu. Ya, hati orang siapa yang tahu. Meskipun niatku tulus padamu namun ternyata niat tulusku dibalas dengan sikap penuh ragu. Dalam hal ini aku yang salah, Bell. Aku yang memaksamu untuk menikah denganku. Aku rasa tidak terlalu dini bila pernikahan kita dibatalkan saja. Toh pertemuan antar keluarga juga belum terjadi, hanya pertemuan antara aku dan ayahmu saja. Masalah orang tuamu aku akan menjelaskan semuanya kepada mereka. Kamu tidak usah khawatir, ”
(Raka Samudera_Raka)

”Terlalu dini Bell, apa kamu nggak nyadar, kamu cantik dan pintar, masih banyak belahan bumi yang belum kamu kunjungi dan masih banyak rahasia Illahi yang belum kamu pelajari. Rugi banget kalau waktumu hanya dihabiskan untuk mengabdi kepada seseorang yang notabene baru kenal, ”
(Tania Aryani_Tania)

”Maaf Tan, bukannya aku nggak mau menikahimu, tapi kita harus realistis, hidup itu nggak mudah butuh biaya, dan kita juga masih muda masih banyak hal yang bisa kita lakukan. Justu karena aku sayang kamu, makanya aku nggak mau membelenggumu dalam sebuah institusi bernama pernikahan. Aku pengen kita benar-benar siap. Menikah itu tidak mudah.”
(Adira Aryasatya_Dira)
...

Apakah Bella jadi menikah? Apakah Bella masih tetep lugu dan polos ataukah dia akan mengetahui siapa sebenarnya Tania? Atau mungkin Tania akan menyadari kesalahannya?


Karakter Tokoh Dimana Bahagia Itu???

Bella Raflesia (Bella)
Entah mengapa keraguan itu masih saja terus merasuki jiwa Bella Raflesia (Bella). Padahal tanggal pernikahan sudah ditentukan. Tiga bulan lagi ia akan menikah, memulai hidup baru dengan seseorang yang ia cintai. Harusnya ia bahagia, tapi entah mengapa bukannya bahagia tetapi ragu, keraguan yang tak tahu ujung pangkalnya. Itu semua mungkin dikarenakan otak Bella Raflesia (Bella) telah didoktrin oleh Tania sahabatnya, bahwa ketika sudah menikah seorang wanita tidak akan bisa berbuat apa-apa. Dia harus patuh dan tunduk kepada suaminya entah suka atau tidak.

Raka Samudera (Raka)
Raka Samudera (Raka) merasa sikap Bella Raflesia (Bella) yang tarik ulur-tarik ulur membuat harga dirinya sebagai seorang laki-laki terinjak-injak. Raka Samudera (Raka) merasa kecewa ketika niat tulusnya untuk menikahi Bella Raflesia (Bella) dibalas dengan penuh keraguan.


Tania Aryani (Tania)
Tania Aryani (Tania) selalu merasa iri pada Bella Raflesia (Bella)- gadis cupu dan polos yang gampang sekali dicintai oleh semua orang termasuk laki-laki. Bella Raflesia (Bella) juga ingin diperhatikan oleh orang yang ia cintai, tapi sampai detik ini itu tidak pernah ia dapatkan.



Adira Aryasatya (Dira)
Selama sifat Tania Aryani (Tania) yang pendengki itu belum berubah, Adira Aryasatya (Dira) tidak mungkin bisa menikahinya. Ia tidak pernah membayangkan istrinya nanti menjadi sumber bencana bagi dirinya dan anak-anaknya dengan sifat pendengki Tania Aryani (Tania) itu. Ia hanya ingin keluarganya nanti bahagia dunia akhirat, itu saja, dan itu tidak mungkin didapat bila hati penuh dengan racun sepertimu Tania Aryani (Tania).




Love Is (5-End)

Chapter 5
Hidup Itu Cinta

Cinta Adalah
Kaki-Kaki Yang Melangkah
Membangun Samudera Kebaikan

Cinta Adalah
Tangan-Tangan Yang Merajut
Hamparan Permadani Kasih Sayang

Cinta Adalah
Hati Yang Selalu Berharap
Mewujudkan Dunia & Kehidupan Yang Lebih Baik

Cinta Selalu Berkembang
Cinta Seperti Udara Yang Mengisi Ruang Kosong
Cinta Seperti Air Yang Mengalir Ke Dataran Yang Lebih Rendah

(Hidup Itu Cinta_Suami)



TAMAT
Copyright Sweety Qliquers
www.mininovel-lovers86.blogspot.com

Love Is (4)

Chapter 4
Cinta Adalah Berkorban


Cinta Adalah Berkorban
Bagai Lilin Yang Setia Menerangi Dengan Setitik Nyalanya
Meski Tubuhnya Habis Terbakar, Hingga Titik Terakhirnya
Lilin Pun Masih Berusaha Menerangi Manusia Dari Kegelapan

Cinta Adalah Berkorban
Bagai Sang Mentari
Meski Terkadang Dikeluhkan Karena Sengatannya
Namun Senantiasa Mengunjungi Alam
& Segenap Makhluk Dengan Sinarannya

Cinta Adalah Berkorban
Seperti Bandung Bondowoso
Yang Membangunkan Seluruh Jin Dari Tidurnya
& Menegakkan Seribu Candi Untuk Lorojonggrang Seorang

Cinta Adalah Berkorban
Seperti Sangkuriang
Yang Mengukir Tanah
Menjadi Sebuah Telaga & Perahu Yang Megah Dalam Semalam
Demi Dayang Sumbi Terkasih Yang Ternyata Ibu Sendiri

Karena Cinta Apapun Bisa Terjadi
Taj Mahal Yang Indah Di India
Di Setiap Jengkal Marmer Bangunannya
Terpahat Nama Kekasih Buah Hati Sang Raja
Yang Terbangun Karena Cinta

(Cinta Adalah Berkorban_Suami)

Love Is (3)

Chapter 3
Cinta Adalah Menceriakan


Cinta Adalah Menceriakan
Seperti Bunga-Bunga Indah Di Taman
Yang Membawa Kenyamanan Bagi Yang Memandang

Cinta Adalah Menceriakan
Seperti Rerumputan Hijau Di Padang Luas
Yang Kehadirannya Bagai Kesegaran Yang Menghampar

Cinta Adalah Menceriakan
Seperti Taburan Pasir Di Pantai
Yang Menghantarkan Kehangatan Seiring Tiupan Angin
Yang Menawarkan Kesejukkan

Cinta Adalah Menceriakan
Seperti Keelokkan Seluruh Alam
Yang Menghadirkan Kekaguman Terhadapnya

(Cinta Adalah Menceriakan_Suami)

Love Is (2)

Chapter 2
Cinta Adalah Memberi


Cinta Adalah Memberi.
Dengan Segala Daya & Keterbatasannya
Seorang Pecinta Akan Memberikan Apapun
Yang Sekiranya Akan Membuat Yang Dicintainya Senang

Bukan Balasan Cinta Yang Diharapkan
Bagi Seorang Pecinta Sejati
Meski Itu Menjadi Sesuatu Yang Melegakannya

Bagi Pecinta Sejati
Senyum & Kebahagiaan Yang Dicintainya Itulah
Yang Menjadi Tujuannya

(Cinta Adalah Memberi_Suami)

Love Is (1)

Chapter 1
Pengorbanan Untuk Cinta

Dia adalah tetesan embun pagi yang jatuh membasahi kegersangan hati, hingga mampu menyuburkan seluruh taman sanubari dalam kesejukkan. Dia adalah bintang gemintang malam di angkasa raya yang menemani kesendirian rembulan yang berduka, hingga mampu menerangi gulita semesta dalam kebersamaan. Dia adalah pohon rindang dengan seribu dahan yang memayungi dari terik matahari yang tak tertahankan, hingga mampu memberikan keteduhan dalam kedamaian.

Dia adalah kumpulan mata air dari telaga suci yang jernih mengalir tiada henti, hingga mampu menghapuskan rasa dahaga diri dalam kesegaran. Dia adalah derasnya hujan yang turun yang menyirami setiap jengkal bumi yang berdebu menahun, hingga mampu membersihkan mahkota bunga dan dedaunan dalam kesucian. Dia adalah untaian intan permata yang berkilau indah sebagai anugerah tiada tara, hingga mampu menebar pesona jiwa dalam keindahan.

Ya, dia adalah belahan jiwaku. Dia adalah suamiku, hidup dan matiku. Aku mencintai sifatnya yang alami dan aku menyukai perasaan hangat yang muncul di hatiku, ketika kubersandar di dadanya yang bidang.

Tiga tahun dalam masa perkenalan, aku rasa cukup untuk memulai hidup baru mengarungi bahtera rumah tangga. Dan dua tahun dalam masa pernikahan, harus kuakui membuatku mulai merasa lelah. Alasan-alasanku mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.

Aku seorang perempuan yang sentimental dan benar-benar sensitif serta berperasaan halus. Dan kini dia sungguh berbeda, aku merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak kecil yang merengek pada ibunya untuk dibelikan permen. Tetapi semua itu tak pernah aku dapatkan. Suamiku kini sungguh jauh berbeda dari yang aku harapkan. Rasa sensitifnya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami, telah mementahkan semua harapanku akan cinta yang ideal.

Suatu hari, aku beranikan diri untuk mengatakan keputusanku padanya, bahwa aku menginginkan perceraian.

“Mengapa?”, dia bertanya dengan terkejut.

“Aku lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang aku inginkan.” Jawabku.

Dia terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.

Kekecewaanku semakin bertambah, seorang lelaki yang bahkan tak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa kuharapkan darinya? Dan akhirnya dia bertanya, “Apa yang dapat kulakukan untuk merubah pikiranmu?”.

Aku menatap matanya dalam-dalam dan menjawab perlahan, “Aku punya pertanyaan, jika kamu dapat menemukan jawabannya di dalam hatiku, aku akan merubah pikiranku. Seandainya, aku menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung yang curam dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan melakukannya untukku?”.

Dia termenung dan akhirnya berkata, “ aku akan memberikan jawabannya besok.”

Hatiku langsung gundah mendengar responnya.

Keesokkan paginya, dia sudah tidak ada dirumah, dan aku menemukan selembar kertas dengan tulisan tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan…

“Sayang, aku tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan aku menjelaskan alasannya.”

Kalimat pertama ini menghancurkan hatiku. Aku melanjutkan untuk membacanya…

“Kamu bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya menangis di depan monitor, dan aku harus memberikan jari-jariku supaya bisa membantumu dan memperbaiki programnya.”

“Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan aku harus memberikan kakiku supaya bisa mendobrak pintu dan membukakan pintu untukmu ketika pulang.”

“Kamu suka jalan-jalan ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi, dan aku harus menunggu di rumah agar bisa memberikan mataku untuk mengarahkanmu.”

“Kamu selalu pegal-pegal pada waktu ‘teman baikmu’ datang setiap bulannya, dan aku harus memberikan tanganku untuk memijat kakimu yang pegal.”

“Kamu senang diam di rumah, dan aku selalu kuatir kamu akan menjadi ‘aneh’ [apaan ya? tiba-tiba suka marah-marah sendiri gitu kali ya.artiin sendiri deh hi…hi…]. Dan aku harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami.”

“Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu, dan aku harus menjaga mataku agar ketika kita tua nanti, aku masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu.”

“Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu, menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warni bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu.” [duh, so sweet]

“Tetapi sayangku, aku tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Karena aku, tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku.” [hiks…hiks…jadi sedih nih]

“Sayangku, aku tahu ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari aku mencintaimu.” [owww…]

“Untuk itu sayang, jika semua yang telah diberikan tanganku, kakiku, mataku, tidak cukup bagimu. Aku tidak bisa menahan dirimu mencari tangan,kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakanmu........”

Air mataku jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi aku tetap berusaha untuk membacanya.

“Dan sekarang sayangku, kamu telah selesai membaca jawabanku. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal di rumah ini. Tolong bukakan pintu rumah kita, karena sekarang aku sedang berdiri disana menunngu jawabanmu.”

“Jika kamu tidak puas sayangku, biarkan aku masuk untuk membereskan barang-barangku dan aku tidak akan mempersulit hidupmu. Dan percayalah satu hal ‘bahagiaku bila kau bahagia’.”

Aku segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaanku. Oh, kini aku tahu tidak ada orang yang pernah mencintaiku lebih dari dia mencintaiku.

Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari hati kita karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu.

Karena cinta itu menceriakan seperti bunga-bunga indah di taman yang membawa kenyamanan bagi yang memandang. Seperti rerumputan hijau di padang luas yang kehadirannya bagai kesegaran yang menghampar. Seperti taburan pasir di pantai yang menghantarkan kehangatan seiring tiupan angin yang menawarkan kesejukkan. Seperti keelokkan seluruh alam yang menghadirkan kekaguman terhadapnya.

Karena cinta itu seperti kaki-kaki yang melangkah membangun samudera kebaikan dan seperti tangan-tangan yang merajut hamparan permadani kasih saying.

Because love is not always has been formed flowers ‘karena cinta tidak selalu harus berwujud “bunga”.