Senin, 19 Juli 2010

Kado 4 Cewek (3-Tamat)

Chapter 3
Bersaing Secara Sehat


Keesokan harinya, aku melihat keempat cewek itu tampil bersama dan nampak lebih heboh, mereka bergaya bak model-model majalah yang mau fashion show, bahkan sebelum sampai ke sekolah, keempat kembar siam itu, katanya mampir ke salon dulu untuk touch up! Wah, wah...

Di kantin, ketika hendak jajan, aku sempat berpapasan dengan Tasya, dia bilang katanya genk-nya mau bersaing secara sehat dan alamiah, “pokoknya setiap hari tampil kinclong, ‘ntar siapa yang dipilih ama si Edo-cowok cakep, itulah yang beruntung,” terangnya. “Yyyuuukkk ...!“
Aku cuma bisa melongo.


TAMAT
Copyright Sweety Qliquers
www.mininovel-lovers86.blogspot.com

Kado 4 Cewek (2)

Chapter 2
Kado Ultah


Besoknya keempat cewek itu sudah mulai akrab lagi. Tapi pada hari yang sama, tepatnya di sore harinya, cowok yang mereka taksir itu datang kepadaku. Katanya dia mau melelang barang-barang yang merupakan kado-kado dari hasil pemberian beberapa orang. Hasil lelangnya itu akan disumbangkan ke kegiatan OSIS sekolah. Wah, boleh juga, tuh.

“Barangnya apa aja?” tanyaku.

Kemudian aku bersama teman-teman pengurus OSIS, diajak ke sebuah mobil yang terparkir di luar pagar sekolah. Ketika bagasinya dibuka, aku lihat banyak sekali barang yang ia tawarkan tapi masih berupa bungkusan kado.

“Yang mana yang mau dilelang?” tanyaku sedikit terheran.

“Semuanya aj Lun....” jawab Edo si cowok kiyut itu.

Karena semua masih dibungkus dalam kertas kado, kita tidak tahu jangan-jangan ada hadiah yang sangat mahal harganya? Atau jangan-jangan ada yang isinya bom? He he he.

“Nggak diperiksa dulu, atau dipilih-pilih yang mana yang kira-kira bisa dilelang dan yang mana yang bisa digunakan untuk pribadi?”

Si Edo, cowok cakep ini menekankan, “semuanya, dan tidak perlu diperiksa.”

Wah, wah, hebat juga nih cowok. Dalam hatiku, enak sekali jadi cowok ganteng ya, tiap ultah banyak yang ngasih kado. Padahal setahuku si Edo ini nggak bikin pesta, kado terus aja mengalir.

Aku tentu saja beterima kasih padanya. Si Edo ini lumayan sosial. Dia nggak gitu aktif di OSIS, tapi setahuku dia lumayan sering hadir di acara-acara OSIS. Diam-diam aku sempat memperhatikan sosoknya, dan menurutku sih wajar aja banyak orang (terutama cewek-cewek di sekolah ini) yang berusaha menarik perhatiannya dengan memberikan kado pada HUT-nya itu. Selain orangnya cakep, mudah bergaul, murah senyum, nggak sombong, dan ya itu tadi, punya jiwa sosial yang tinggi.

“Aku sudah bilang kepada mereka, bahwa kado-kado ini bebas aku apain aja, dan sekarang aku mau lelang,” ujar si Edo sebelum meninggalkan ruang OSIS. “Kalo dilelang, kita bisa dapat harga lebih tinggi, selain itu uang yang masuk bisa lebih mudah dimanfaatkan daripada kado-kado yang masih berupa barang. Misalnya ada yang ngasih kado jam tangan, nah buat apa jam tangan itu, mau ditaroh di dinding ruang OSIS?” Katanya sambil nyengir.

Aku manggut-manggut. Betul juga. Soalnya aku nggak gitu tahu isi kado-kado itu, sih. Makanya tadi kan aku ngasih saran supaya diperiksa dulu isinya. Ternyata dia berniat untuk melelang semuanya.

Akhirnya aku bersama pengurus OSIS sepakat bikin acara lelang. Semua anak sekolah diperbolehkan datang. Sehari sebelum lelang aku bikin pengumuman.

“Eh, lelang barang kado ultah? Apa maksudnya?” tanya Tasya kaget.

Aku menceritakan kejadiannya, dan tentu saja Tasya makin kaget. “Tapi... nama pengirim kadonya disebutin nggak?” ujarnya sedikit ketakutan.

“Ya, enggak tau juga, ya, soalnya dia sendiri yang mau ngelelang barang-barang itu…” ujarku.

Tasya manggut-manggut.

Pada kenyataanya, si Edo menyebutkan semua barang-barang yang dilelang berikut nama si pemberi barang, karena dia hapal betul nama-nama si pemberi hadiah itu. Misalnya saja ketika ia mengangkat sebuah diary mungil, dia langsung bilang terima kasih pada Anti, yang sudah memberikan buku itu, tapi bukannya bermaksud merendahkan pemberian itu, tapi justru dengan melelangnya, diary ini jadi lebih berarti, “Ya, saya tawarkan diary ini dengan harga awal dua puluh ribu rupiah!” teriaknya lantang.

Maka serentaklah orang-orang (kebanyakan cewek-cewek) mengangkat tangan, yang memberi harga variatif, mulai dua puluh lima ribu, lalu tiga puluh ribu, lalu lima puluh ribu, sampai ada seseorang yang berani membelinya dengan harga, “Seratus ribu!”

“Ada lagi?” pancing si Edo.

Tidak ada lagi yang menunjuk tangan kecuali Anti. Lalu Anti maju ke depan dan menyerahkan uang seratus ribu pada Edo, dan mengambil diary mungil itu. Dia mendekati Edo dan meminta tanda tangan pada diary tersebut. Lalu memeluk diary itu dengan hangat.
Aneh, aku betul-betul geleng-geleng kepala. Bukunya sendiri yang dijadikan kado lalu dibelinya lagi dengan harga tinggi. Hi hi hi.

“Selanjutnya ada jam tangan, ini pemberian dari sahabat saya Tasya... saya lelang dengan memulai penawaran... dua ratus ribu…”

Kejadian selanjutnya mirip dengan yang pertama tadi, meskipun banyak orang yang berebut angkat tangan dengan aneka penawaran harga, tapi ujung-ujungnya justru si pemilik barang itulah yang memberi penawaran harga tertinggi. Sudah bisa dipastikan Tasya mengambil jam tangan itu dengan perasaan senang.

Setelah itu Edo menyebutkan barang pemberian Nadila, Regina, Renata dan yang lainnya. Ya, semua barang akhirnya terjual lebih mahal dari harga aslinya. Perkiraan Edo tepat, uang lebih banyak terkumpul dan lebih mudah digunakan untuk pengembangan kegiatan OSIS serta berbagai macam kegiatan lainnya.

“Terima kasih ya, “ ucapku pada Edo. Edo tersenyum setelah meyerahkan sejumlah uang.

Sementara kulihat keempat cewek kompak itu di pojokan sedang menimang barang-barangnya masing-masing.

“Kamu ternyata ngasih kado ya ke Edo?” ujar Renata ke Tasya.

“Kamu juga,” sergah Tasya.

“Ssst, sudahlah, kamu juga ikutan ngasih kado, kan?” ujar Regina.

“Iya, berarti kita udah nggak kompak lagi. Diam-diam kita masih memperhatikan dia, memberikan kado, untung kadonya dilelang, jadinya ketahuan, coba kalo nggak dilelang, pasti diam-diam kita masih naksir terus ke dia,” beber Nadila.

“Jadi gimana, dong?” tanya Tasya.

“Kita udah nggak jujur lagi. Percuma aja kompak-kompakan selama ini,” imbuh Nadila.

Selanjutnya mereka berempat meninggalkan pojokan itu dengan langkah-langkah gontai. Hmm, apa yang akan terjadi dengan mereka? Apakah mereka akan bubaran setelah kejadian ini? Bercerai-berai untuk meneruskan persaingan mendapatkan perhatian si Edo-cowok cakep itu? Hmm, entahlah, yang jelas keempat cewek kompak itu terus saja melangkah.

Kado 4 Cewek (1)

Chapter 1
Cinta 4 Hati


Keempat cewek ini kompak banget. Tasya, Nadila, Regina, dan Renata ke mana-mana selalu berempat.

Kalo ke kantin pasti ketemu dengan empat cewek ini, ke perpustakaan juga begitu, ke lapangan basket juga, bahkan sampai ke kamar kecil sekali pun pasti ada empat makhluk-makhluk manis ini. Aku sih geleng-geleng kepala aja setiap kali bertemu mereka.

Mereka kerap aku undang ke acara OSIS, dan enaknya, kalau yang satu mau, yang lainnya pasti ikutan. Jadi lumayan, ngundang satu dapat empat. He he he, kayak sale aja.

Tapi belakangan, aku melihat ada perubahan pada keempat cewek kompak itu. Mereka memang masih ke mana-mana berempat, tapi di raut wajah mereka ada yang berubah, tak lagi tersenyum bersama, melainkan seperti menyimpan misteri sendiri-sendiri. Ada apa ya?

Rupanya, setelah aku dapat info dari salah seorang dari mereka, diam-diam empat cewek ini lagi naksir seorang cowok. Salah satu dari mereka yaitu Tasya, bercerita kepadaku.

Katanya, yang awalnya naksir, Renata, tapi karena sudah kebiasaan, yang lainnya ikut memperhatikan sang cowok dan ujung-ujungnya empat-empatnya jadi ikutan naksir. Tentu aja, yang begini nggak bisa dilakukan secara bersamaan. Masalah cinta nggak kenal istilah kompak-kompakan. Karena jatuh cinta adalah masalah hati, dan yang namanya hati punya rahasia sendiri-sendiri. Iya kan?

Dan jujur aja, untuk yang kayak begini aku nggak bisa ngasih solusi apa-apa, wong aku sendiri nggak pernah naksir orang, kok. Apalagi sampe jatuh cinta. Paling aku bilang pada Tasya, sebaiknya konsentrasikan diri pada pelajaran, nanti masalah itu bisa terlupakan dengan sendirinya. Tapi Tasya bilang, justru ia nggak bisa belajar dengan konsentrasi kalau nggak ingat sama cowok itu. Duile segitunya!

Tapi besoknya aku dengar dari Tasya lagi kalo keempat cewek itu sudah membuat kebulatan tekad.

“Hmm, gini deh, kalo kita mau memepertahankan kebersamaan kita, di antara kita tidak ada yang boleh naksir sama cowok itu lagi!” cerita Tasya padaku.

“Setuju!” teriak tiga lainya, masih menurut cerita Tasya.

Hmm, menurutku hebat. Mereka lebih memilih kebersamaan daripada harus pecah gara-gara seorang cowok ganteng.

Tapi apa iya mereka bisa kompak begitu? Rasanya kalau untuk naksir-naksiran, siapa pun nggak ada yang bisa dipercaya. Buktiin, deh. Soalnya sekarang si Tasya, mendatangiku lagi dan bilang bahwa dia betul-betul tidak bisa melupakan bayangan si cowok itu.

“Lun… Dia ulang tahun, boleh nggak aku ngasih kado?” ujarnya memohon pendapatku.

“Ya, kalo cuma mau ngasih kado sih boleh-boleh aja. Kenapa tidak?” Ucapku.

“Hmm, jadi nggak apa-apa?”

“Emangnya kenapa?” pancingku.

“Ya, kita kan udah janjian nggak mau naksir cowok itu lagi?”

“Memberi kado kan bukan menunjukkan bahwa kita naksir?”

“Tapi,” kata Tasya dalam hatinya (kok aku bisa tau suara hatinya? He he he) “Aku ngasih kado ini karena sebetulnya masih naksir dia, dan sulit sekali melupakannya. Eh kamu janji ya, jangan bilang-bilang ke ketiga temanku itu kalo aku ngasih kado ke cowok itu.” sergah Tasya lagi.

“Apa pernah aku cerita-cerita?” kayaknya dia nggak percaya sama reputasiku.

“Enggak, sih?”

Kado 4 Cewek (Sinopsis)

Kado 4 Cewek
Created By Sweety Qliquers
(Samarinda, Jum’at <> 140510, 0305PM)


Kado 4 Cewek
Chapter 1 Cinta 4 Hati
Chapter 2 Kado Ultah
Chapter 3 Bejuang Secara Sehat


Sinopsis

Keempat cewek ini kompak banget. Tasya, Dila, Gina, dan Renata ke mana-mana selalu berempat.

Kalo ke kantin pasti ketemu dengan empat cewek ini, ke perpustakaan juga begitu, ke lapangan basket juga, bahkan sampai ke kamar kecil sekali pun pasti ada empat makhluk-makhluk manis ini. Aku sih geleng-geleng kepala aja setiap kali bertemu mereka.

Mereka kerap aku undang ke acara OSIS, dan enaknya, kalau yang satu mau, yang lainnya pasti ikutan. Jadi lumayan, ngundang satu dapat empat. He he he, kayak sale aja.

Tapi belakangan, aku melihat ada perubahan pada keempat cewek kompak itu. Mereka memang masih ke mana-mana berempat, tapi di raut wajah mereka ada yang berubah, tak lagi tersenyum bersama, melainkan seperti menyimpan misteri sendiri-sendiri. Ada apa ya?

Rupanya, setelah aku dapat info dari salah seorang dari mereka, diam-diam empat cewek ini lagi naksir seorang cowok. Salah satu dari mereka yaitu Tasya, bercerita kepadaku.

Katanya, yang awalnya naksir, Renata, tapi karena sudah kebiasaan, yang lainnya ikut memperhatikan sang cowok dan ujung-ujungnya empat-empatnya jadi ikutan naksir. Tentu aja, yang begini nggak bisa dilakukan secara bersamaan. Masalah cinta nggak kenal istilah kompak-kompakan. Karena jatuh cinta adalah masalah hati, dan yang namanya hati punya rahasia sendiri-sendiri. Iya kan?

Dan jujur aja, untuk yang kayak begini aku nggak bisa ngasih solusi apa-apa, wong aku sendiri nggak pernah naksir orang, kok. Apalagi sampe jatuh cinta. Paling aku bilang pada Tasya, sebaiknya konsentrasikan diri pada pelajaran, nanti masalah itu bisa terlupakan dengan sendirinya. Tapi Tasya bilang, justru ia nggak bisa belajar dengan konsentrasi kalau nggak ingat sama cowok itu. Duile segitunya!

Tapi besoknya aku dengar dari Tasya lagi kalo keempat cewek itu sudah membuat kebulatan tekad.



Tokoh Kado 4 Cewek

Luna Castavaria (Luna)
Katanya, yang awalnya naksir, Renata, tapi karena sudah kebiasaan, yang lainnya ikut memperhatikan sang cowok dan ujung-ujungnya empat-empatnya jadi ikutan naksir. Tentu aja, yang begini nggak bisa dilakukan secara bersamaan. Masalah cinta nggak kenal istilah kompak-kompakan. Karena jatuh cinta adalah masalah hati, dan yang namanya hati punya rahasia sendiri-sendiri. Iya kan?

Dan jujur aja, untuk yang kayak begini aku nggak bisa ngasih solusi apa-apa, wong aku sendiri nggak pernah naksir orang, kok. Apalagi sampe jatuh cinta. Paling aku bilang pada Tasya, sebaiknya konsentrasikan diri pada pelajaran, nanti masalah itu bisa terlupakan dengan sendirinya. Tapi Tasya bilang, justru ia nggak bisa belajar dengan konsentrasi kalau nggak ingat sama cowok itu. Duile segitunya!


Alfredo Djangkaru (Edo)
Si cowok ini lumayan sosial. Dia nggak gitu aktif di OSIS, tapi dia lumayan sering hadir di acara-acara OSIS. Sepertinya sih wajar aja banyak orang (terutama cewek-cewek di sekolah ini) yang berusaha menarik perhatiannya dengan memberikan kado pada HUT-nya itu. Selain orangnya cakep, mudah bergaul, murah senyum, nggak sombong, dan ya itu tadi, punya jiwa sosial yang tinggi.

“Aku sudah bilang kepada mereka, bahwa kado-kado ini bebas aku apain aja, dan sekarang aku mau lelang,” ujar si cowok sebelum meninggalkan ruang OSIS. “Kalo dilelang, kita bisa dapat harga lebih tinggi, selain itu uang yang masuk bisa lebih mudah dimanfaatkan daripada kado-kado yang masih berupa barang. Misalnya ada yang ngasih kado jam tangan, nah buat apa jam tangan itu, mau ditaroh di dinding ruang OSIS?” Kata Alfredo Djangkaru (Edo) sambil nyengir.


Natasya Permata (Tasya)
“Hmm, gini deh, kalo kita mau memepertahankan kebersamaan kita, di antara kita tidak ada yang boleh naksir sama cowok itu lagi!” cerita Tasya pada Luna Castavaria (Luna).
“Dia ulang tahun, boleh nggak aku ngasih kado?” ujarnya memohon pendapat Luna Castavaria (Luna).
“Hmm, jadi nggak apa-apa?”
“Ya, kita kan udah janjian nggak mau naksir cowok itu lagi?”
“Memberi kado kan bukan menunjukkan bahwa kita naksir?”
“Tapi,” kata Tasya dalam hatinya (kok aku bisa tau suara hatinya? He he he) “Aku ngasih kado ini karena sebetulnya masih naksir dia, dan sulit sekali melupakannya. Eh kamu janji ya, jangan bilang-bilang ke ketiga temanku itu kalo aku ngasih kado ke cowok itu.” sergah Tasya lagi.


Nadila Anastasya (Nadila)
“Iya, berarti kita udah nggak kompak lagi. Diam-diam kita masih memperhatikan dia, memberikan kado, untung kadonya dilelang, jadinya ketahuan, coba kalo nggak dilelang, pasti diam-diam kita masih naksir terus ke dia,” beber Nadila.
“Kita udah nggak jujur lagi. Percuma aja kompak-kompakan selama ini,” imbuh Nadila.
Selanjutnya mereka berempat meninggalkan pojokan itu dengan langkah-langkah gontai. Hmm, apa yang akan terjadi dengan mereka? Apakah mereka akan bubaran setelah kejadian ini? Bercerai-berai untuk meneruskan persaingan mendapatkan perhatian si cowok cakep itu? Hmm, entahlah, yang jelas keempat cewek kompak itu terus saja melangkah.


Regina Tiara Azizah (Regina)
“Ssst, sudahlah, kamu juga ikutan ngasih kado, kan?” ujar Regina.
Selanjutnya mereka berempat meninggalkan pojokan itu dengan langkah-langkah gontai. Hmm, apa yang akan terjadi dengan mereka? Apakah mereka akan bubaran setelah kejadian ini? Bercerai-berai untuk meneruskan persaingan mendapatkan perhatian si cowok cakep itu? Hmm, entahlah, yang jelas keempat cewek kompak itu terus saja melangkah.


Renata Galia Putri (Renata)
“Kamu ternyata ngasih kado ya ke cowok itu?” ujar Renata ke Tasya.
Selanjutnya mereka berempat meninggalkan pojokan itu dengan langkah-langkah gontai. Hmm, apa yang akan terjadi dengan mereka? Apakah mereka akan bubaran setelah kejadian ini? Bercerai-berai untuk meneruskan persaingan mendapatkan perhatian si cowok cakep itu? Hmm, entahlah, yang jelas keempat cewek kompak itu terus saja melangkah.

Selasa, 08 Juni 2010

Big Rival (9-End)

Chapter 9
Perdamaian Bagas & Mitha


Senja habis hujan.

Sebuah Ninja Kawasaki dan sebuah taksi berhenti bersamaan di depan rumah Rianty. Mario turun dari boncengan. Bagas memarkir motornya. Berjarak tiga meter, tampak Mitha tengah membayar ongkos Taksi. Di sampingnya berdiri Maya.

“Mau apa mereka ke rumah Rianty?” bisik Maya.

Mitha menatap dua sosok tubuh itu. “Wah, gimana ya? Kita pulang aja yok. Nggak lucu kalau mereka tahu maksud kedatangan kita, “ Ujarnya gelisah.

“Eh, jangan dong. Kita ‘kan udah cape-cape kemari. Tunggu aja deh sampai mereka pulang.”

“Mm…… iya deh.” Mitha mengangguk.

Di depan pintu pagar, ke empat remaja itu tertegun. Tangan Maya bersamaan dengan tangan Mario ingin memijit bel, ketika Rianty muncul.

“Hei, ada apa nih?” katanya, “Wah, mau keroyok aku, ya?”

“Bukan Ri, kami….”

“Buka dulu dong pintunya,” tukas Bagas memotong ucapan Maya.

Bergegas Rianty membuka pintu pagar. “Silahkan masuk tuan-tuan dan nona-nona,” katanya lucu.

Di ruang tamu yang sejuk, Mitha duduk diapit Rianty dan Maya. Dihadapan mereka dua buah sofa ditempati Mario dan Bagas.

“Bik, minumnya lima gelas! Yang dingin ya?” teriak Rianty memerintah pembantunya.

“Ngga usah repot-repot Ri. Kami cuma sebentar kok,” Mitha buka suara.

“Sebenarnya, ada apa sih? Kok rame-rame kemari?” Rianty membetulkan posisi duduknya.

“Anu… Ri… Bagas tidak meneruskan kata-katanya. Disenggolnya lengan Mario.

“Aku ingin membicarakan sesuatu tapi, harus empat mata.” Ujar Mario.

“Aku juga Ri,” Maya menukas.

Rianty garuk-garuk kepala. “Waduh siapa duluan nih? Kamu dulu deh, Mario, Maya, sabar ya?”

Maya mengangguk.

“Yuk, Mario! Kita ke halaman belakang,” Ajak Rianty menarik tangan Mario.

Beberapa menit berlalu. Mario kembali ke ruang tamu.

“Miss Maya!” panggil Rianty. Lagaknya sudah seperti suster memanggil pasien yang sedang antre di ruang tunggu. Maya beranjak menemui Rianty.

Tak lama kemudian, Maya dan Rianty sudah berada kembali di ruang tamu.

“Oh, damai di bumi! Damai di hati!” seru Rianty. Tangan kanannya meraih tangan Mitha, tangan kirinya memegang tangan Bagas. Kedua tangan sahabatnya itu dipertemukan.

Bagas tersenyum menjabat tangan Mitha. Mitha balas tersenyum.

“Nah, gitu donk! Jangan cekcok terus,” Rianty tertawa. “Sebagai generasi penerus kita mesti bersatu, karena bersatu kita teguh bercerai kita….”

“Kawin lagi!” potong Mario.

“Hush!” Rianty melotot.

Dan, gelak tawa pun memenuhi ruangan itu. Ah, senja yang membawa damai, mungkin juga cinta bagi Bagas dan Mitha.

TAMAT
Copyright Sweety Qliquers
www.mininovel-lovers86.blogspot.com


Big Rival (8)

Chapter 8
Perasaan Bagas & Mitha


Lama, Mitha merenungkan kata-kata Rianty tempo hari. Sudah damai saja. Yang untungkan kamu sendiri. Lagipula si Bagas cukup tampan. Ugh! Si tomboy itu seenaknya aja bicara. Tapi… akh, mengapa harus menipu diri sendiri? Bagas memang tampan kan? Bah! Persetan dengan ketampanannya itu! Pokoknya aku tidak sudi minta tolong padanya. Apalagi disuruh damai, wuih… nanti dulu ya!

Kamu memang sombong Mitha! Apa sih enaknya musuhan? Bisa peot kamu kalau terus-terusan keki, hanya karena nilai dia lebih tinggi. Uf! Mitha memukul lengan sofa. Dia benar-banar bingung. Ingin baikan dengan Bagas tapi gengsi. Ingin terus musuhan alamat jatuh nilai fisikanya. Lagipula, dia sudah bosan dengan pertengkaran-pertengkaran itu.

Di tempat lain, di kamarnya yang super acak-acakan, Bagas berbaring menatap langit-langit kamar Ditelinganya berdengung ucapan Riabty. Apa sih ruginya minta diajarin Mitha? Ya…. apaaa? batinnya.

Kemudian tanpa disadarinya, wajah Mitha bermain-main di pelupuk matanya. Rianty bilang, Mitha cantik. Uh, apanya yang cantik? Hei, Bagas… jangan membalikkan fakta. Nyatanya, dia memang menarik, cantik dan ..Ops! Bagas memejamkan mata. Ia berusaha mengusir wajah Mitha, tapi semakin dicoba semakin jelas paras cantik itu tergambar di benaknya. Senyumnya, matanya, bibirnya,.. akh, semua ini gara-gara Rianty brengsek itu! Bagas melempar bantal gulingnya. Kesal.

“Apaaaa?! Damaaaiii?!” Melengking suara Maya mendengar kata-kata Mitha.

“Hus! Pelan sedikit kek!” Mitha mengibaskan tangannya. Maya menutup mulutnya.

“Eh, sorry. Abis aku tidak menduga akan begini jadinya,” katanya.

“Menurutmu, gimana?” Mitha minta pendapat.

“Aku sih …ngikutin kamu aja!”

Pada saat yang sama, di rumah Mario.

“Akhirnya runtuh juga pertahananmu, Gas!” Mario meninju bahu Bagas.

“Ya, aku sudah bosan berperang terus. Kalau terlalu lama bisa sakit jantung.”

“Mm, aku sih mau saja. Kalau boss memang ingin damai, anak buah siap mengikuti,” kata Mario seraya membungkuk hormat.

Big Rival (7)

Chapter 7
Usaha Rianty


Hari masih pagi. Jam di pergelangan tangan kiri Rianty baru menunjukkan pukul setengah tujuh. Gadis berambut pendek itu menghampiri Bagas yang duduk termenung di atas sebuah kursi panjang di halaman sekolah.

“Aku bilang juga apa. Coba kalau baikan dengan Mitha, pasti ulangan Inggrismu nggak pas-pasan enam setengah,” katanya sambil duduk di samping Bagas.

“Apa-apaan sih Ri! Kok, datang-datang ngomong begitu?” Bagas memandang Rianty dengan kesal.

“Heh, jangan pura-pura,” Rianty bangkit dari duduknya. Disandarkannya tubuh kurusnya pada sebatang pohon. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku rok abu-abunya. “Kamu lagi mikirin ulangan Inggris yang kemarin, ‘kan?”

“Kalau ya, memangnya kenapa?” serang Bagas ketus. “Kamu pikur aku mau diajarin sama si …”

“Cantik Mitha?” potong Rianty tertawa. “Bagas.. Bagas… apa sih ruginya minta diajarin? Gengsi? Hmm….. kalian berdua memang kepala batu.”

Bagas diam saja. Tangannya dilipat ke dada. Matanya memandang lurus ke arah bebungaan yang mekar di sudut halaman.

“He, Gas,” kata Rianty lagi., “Bersaing sih boleh, tapi jangan gontok-gontokan dong! Akibatnya, kamu jadi malu minta diajarin sama Mitha. Nah, kalau sudah begitu, kamu yang repot sendiri kan? Coba, kalau kalian bersaing secara damai…”

“Ala… sudahlah Ri,” Bagas menukas, “Aku bosan dengar ceramahmu!” Ditinggalkannya Rianty, masuk ke kelas.

“Demi kebaikanmu, Gas! Demi prestasimu,” Rianty mengikuti langkah Bagas.“ Mitha jago bahasa Inggris lho! Bisa kalah kamu nanti.” ujarnya memanasi.

“Aku tidak akan kalah, Ri. Aku pasti manang!” Bagas membalikkan tubuh menatap Rianty tajam, lalu berjalan ke tempat duduknya.

Rianty menghela nafas. Oh, gadis Non Blok jangan sampai usahamu gagal, batinnya.

Big Rival (6)

Chapter 6
Saran Rianty


Rianty baru saja menapakkan kakinya di kelas, ketika dilihatnya Mitha tengah bertopang dagu sambil menatap kertas ulangan.

“Dapat berapa, Mit?” tanyanya menghampiri Mitha.

“Delapan,” jawab Mitha sambil menyodorkan kertas ulangan itu.

“Pasti gara-gara soal kemarin itu,” terka Rianty. Matanya menelusuri jawaban-jawaban yang tertera di kertas putih bergaris hitam itu.

“Eh, Ri... Jangan kasih tahu Bagas, ya?” bisik Mitha tiba-tiba.

“Pokoknya beres!” Rianty tersenyum, ”Tapi, kalau kamu minta pada Bagas agar menerangkan soal itu, nilaimu pasti sepuluh ‘kan?”

“Huh, gengsi dong!” Mitha mencibir. “Delapan juga udah bagus.”

“Dan, itu berarti kamu kalah sama Bagas,” ejek Rianty. ”Tahu nggak? Dia dapat nilai sepuluh!”

“Ah, nanti juga aku bisa menyusulnya. Percaya deh. Mitha pasti menang!”

“Eit, jangan sombong dulu!” tukas Rianty, “Untuk pelajaran fisika, otaknya sulit ditandingi.”

Mitha terdiam. Dia sadar akan kelemahannya. Memang, mata pelajaran yang satu ini tidak boleh dianggap remeh. Apalagi bagi mereka yang mengambil jurusan ilmu-ilmu fisik. Tapi untuk minta tolong pada Bagas… ugh…. nanti dulu ya! Mau taruh di mana ini muka?

“Bagaimana?” tanya Rianty memecah kebisuan Mitha. “Udah damai aja. Kan yang untung kamu juga. Lagipula Bagas cukup tampan untuk menjadi….” Rianty tak meneruskan ucapannya. Gadis itu tersenyum menggoda.

“Menjadi apa Ri?” Mitha bertanya tak sabar.

“Pacar kamu,” pelan suara Rianty di telinga Mitha.

“Rianty! Kamu …”

Tapi Rianty sudah berlari sambil cekikikan meninggalkan Mitha yang jengkel bukan main.

Big Rival (5)

Chapter 5
Kekesalan Mitha


Udara siang itu panas sekali. Mitha membuka pintu pagar rumahnya dengan lesu. Dia melangkah gontai masuk ke ruang tamu. Tubuh semampainya dihempaskannya ke sofa. Pikirannya melayang-layang pada soal-soal fisika yang diberikan Bu Mirna. Sulitnya nggak ketulungan. Tapi, si Bagas brengsek itu enak-enak saja mengerjakannya, membuatnya makin jengkel.

Dasar lagi sial! Bu Mirna menyuruhnya maju ke depan untuk menulis jawaban soal nomor satu. Padahal, nomor itu lah yang paling sulit. Akhirnya dengan menahan malu dia mengatakan, “Tidak bisa bu!”

Dan, batuk-batuk pun dilontarkan oleh anak buah Bagas. Sementara sang Ketua senyam-senyum girang. Kurang ajar! Ingin rasanya dia menampar mulut-mulut itu. Tapi, siapa sih yang berani berbuat begitu di hadapan macan betina segalak bu Mirna?

“Mulut kalian, rupanya mesti dijejali soal-soal tambahan!” ujar bu Mirna menghentikan suara batuk-batuk itu.

Suasana hening seketika melingkupi kelas. Rasain! Mitha bersorak dalam hati. Jengkelnya mereda sedikit. Tapi …

“Bagas, coba kerjakan soal nomor satu itu,” perintah bu Mirna membuat Mitha melongo. Dan kesempatan itu tidak disia-siakan Bagas. Dengan tubuh ditegakkan dia berjalan gagah mengambil spidol dan menuliskan jawabannya. Cepat, rapi dan benar tentunya.

“Bagus sekali, Bagas,” puji bu Mirna senang. Yang dipuji tersenyum bangga. Diliriknya Mitha yang masih bengong. Cepat-cepat Mitha membuang muka dengan sumpah serapah yang hanya terucap di dalam hatinya.

“Mitha, suara mama menyentakkan lamunannya. “Pulang sekolah kok melamun? Ayo, ganti baju, cuci tangan. Kita makan sama-sama. Hari ini, mama masak bistik kesukaanmu.”

“Ogah ah. Masih kenyang,” ujar Mitha seraya bangkit dari duduknya, masuk ke kamar.

“Iya… tapi ganti baju dulu dong.” Mama ikut masuk ke kamar putri tunggalnya itu.

“Sebenarnya ada apa, Mitha? Kok, lesu benar,” tanya mama lembut.

“Nggak ada apa-apa, ma.” Mitha berusaha tersenyum.” Cuma pusing dikit kok. Tadi ulangannya susah sih.”

“O, kalau begitu istirahatlah dulu.” Mama tersenyum bijak.

Mitha mengangguk mengiyakan.

Big Rival (4)

Chapter 4
Lawan Yang Tangguh


Pagi ini cerah sekali, secerah wajah Pak Burhan yang biasa masam. Warga 2 IPA 1 menjadi heran dibuatnya. Tidak seperti biasanya, kali ini tak terdengar suara bentakan beliau.

“Maaf, pak. Bapak tampaknya gembira sekali hari ini,” ujar Rianty yang tak dapat menahan rasa ingin tahunya.

Pak Burhan tersenyum pada Rianty.

“Matamu tajam sekali, Rianty.” Ucap beliau memuji. “Yah, bapak memang sedang gembira, karena di kelas ini ada dua anak yang mendapat nilai tertinggi dalam ulangan minggu lalu.”

“Pasti Mitha dan Bagas!” tebak Rianty.

Pak Burhan mengangguk, “Ya, keduanya memperoleh nilai Seratus.”

“Wih! Benar-benar pasangan yang klop!” sorak Rianty. Diliriknya Mitha dan Bagas. Keduanya memandang geram ke arahnya.

“Betul, lalu bagaimana dengan tugasmu, Rianty?” suara Pak Burhan mulai galak. Wajahnya yang mirip Pak Raden disetel angker kembali. Rianty tersenyum masam. Soal-soal itu memang sudah selesai dikerjakan tapi ia tidak menjamin apakah jawabannya benar semua.

“Bagaimana? Sudah selesai?” tanya Pak Burhan tak sabar, ketika melihat Rianty diam saja.

“Sudah pak,” sahut Rianty pelan. Diserahkannya buku bergambar Micky Mouse. Pak Burhan mengambil buku itu dan memeriksanya sebentar.

“Nah, anak- anak. Sekarang kita mulai pelajaran baru,” kata beliau sambil mengembalikan buku itu pada Rianty. Agak heran, Rianty menerimanya. Mata bagusnya melotot tatkala melihat nilai yang tertera di sana. 100! Uf! Padahal sejak tadi jantungnya sudah berdentam-dentam riuh, takut kalau-kalau ada jawaban yang salah. Nggak rugi deh 3 hari 3 malam kutak-kutik rumus-rumus kimia.

Dan, selama 2 jam pelajaran kimia hari ini, Rianty benar-benar memusatkan perhatiannya ke papan tulis. Ya, mata, ya telinga dipasangnya baik-baik . Ternyata kalau diperhatikan, pelajaran kimia itu tidak sulit.

Sebaliknya, Mitha dan Bagas yang biasa tekun dan serius, hari ini tampak gelisah. Masing-masing tidak rela musuhnya memperoleh nilai 100. Mata mereka melotot ke papan tulis, tapi hati dan pikiran seakan-akan mau meledak. Waktu terasa merangkak lambat.

Kriiing…..!! Bel tanda istirahat berbunyi nyaring.

Bagas menghela nafas lega. Mitha merasa baru saja keluar dari gua pengap. Cepat-cepat, dia memasukkan bukunya ke dalam tas. Maya yang duduk sebangku dengannya memandangnya heran. Tapi dia segera menerka sebabnya.

“Si kunyuk itu hebat juga ya?” bisiknya lirih.

“Hm… boleh bangga dia sekarang, tapi nanti…. lihat saja! Siapa yang lebih unggul,” cibir Mitha.

Di kantin. Bagas mengaduk-aduk mie baksonya tanpa selera.

“Lesu amat sih, Gas!” tegur Mario. “Udah deh kan nilainya seri. Nanti juga kamu menang.”

“Heran, cewek sekarang kok pinter-pinter ya?”

“Ya, berkat ibu Kartini,” sahut Mario.

“Tapi bagaimanapun juga aku harus menang. Malu dong! Masa kalah sama cewek,” tegas suara Bagas. Mario tertawa. Ditepuknya bahu Bagas.

“Aku mendukungmu, Gas. Suatu saat dia pasti KO,” katanya.

Big Rival (3)

Chapter 3
Emosi Jiwa


Rianty tersenyum kecut menerima tugas dari Pak Burhan. 10 soal yang rumit dapat membuatnya tidak tidur tiga hari tiga malam. Otaknya memang bebel untuk pelajaran kimia.

“Oh, gadis Non Blok yang malang!” goda Bagas.

Rianty melotot.

“Iya gara-gara kamu!” omelnya.

“Lho, kok aku. Siapa suruh berteriak kaya orang utan.”

Rianty tersenyum tidak jadi marah.

“Kalian cocok deh kalau …”

“Kalau apa, Ri?” potong Mitha yang tiba-tiba muncul bersama kelompoknya.

“Kalau apa ya?” Rianty pura-pura bego. Ujung telunjuk kirinya menyentuh keningnya.

“Yang bener Ri!” bentak Maya, tangan kanan Mitha.

“Eh, nggak jadi deh!” Rianty cepat-cepat meninggalkan kelas.

Bagas memanggil Rianty, “Ri… Rianty!”

Rianty tidak mengacuhkannya.

“Terlalu! Ngakunya sahabat Rianty, tapi melihat Rianty dibentak diam saja!” kata Bagas pada tangan kanannya, Mario. Tentu saja, kalimat itu ditujukan pada Mitha.

Mithaa mendengus, “Huh! Bilang aja mau menarik Rianty masuk ke dalam grup konyol itu! Pake menyalahkan aku segala!” ujarnya pada Maya tapi…matanya melirik Bagas.

Bagas menghampiri Mitha. Mitha berkacak pinggang.

“Mau apa?” tantang Mitha galak.

“Mau apa kek,, itu urusanku! Ngapain tanya-tanya!” sentak Bagas.

Wajah Mitha merah padam. Bibirnya ingin mengucapkan sesuatu ketika Rianty tiba-tiba masuk ke kelas dan menarik tangannya.

Mitha menepis tangan Rianty.

“Udah deh! Jangan ribut!” Ujar Rianty.

“Gas! Simpan emosimu! Malu, ‘kan udah gede!” serunya kemudian pada Bagas.

Bagas menurut. Mitha meninggalkan kelas dengan kepala mendongak angkuh. Dibelakangnya Maya mengikuti.

Rianty geleng-geleng kepala melihat kedua sahabatnya itu.

Big Rival (2)

Chapter 2
Ulangan Kimia

Bunyi bel tanda pelajaran dimulai, berdering. Pak Burhan yang tersohor galaknya memasuki ruang kelas 2 IPA 1. Suara riuh rendah mendadak lenyap berganti hening.

“Selamat pagi, anak-anak!” suara Pak Burhan yang berwibawa memecah hening.

“Selamat pagi, Pak!” koor siswa-siswi itu sangat sopan.

“Anak-anak, seperti yang pernah bapak katakan bahwa setiap awal bulan akan ada ulangan mendadak. Maka, hari ini bapak akan mengadakan ulangan,” ujar Pak Burhan lalu menuliskan soal-soal kimia di papan tulis.

Bisik-bisik dan sungut-sungut tak senang terlontar seketika itu juga. Namun tak seorangpun berani mengajukan protes. Mereka kenal betul tabiat guru yang satu ini. Sedikit saja memberi komentar yang melawan kehendaknya, pasti diberi bingkisan khusus, soal-soal rumit yang harus dikerjakan tanpa salah.

Bagas dan Mitha tenang-tenang saja menyelesaikan soal-soal itu. Keduanya merasa yakin akan jawaban yang mereka tulis. Mitha selesai beberapa detik lebih dulu. Gadis itu melirik ke arah Bagas. Tepat, saat itu Bagas baru saja menuliskan jawaban nomor terakhir dan melirik ke arah Mitha.

Mitha terkejut menerima lirikan Bagas. Bagas juga tidak kalah kagetnya. Segera, keduanya membuang muka. Tidak lama, mata keduanya bertumbukkan kembali. Sinar kebencian terpancar dari mata mereka.

“Atika!” tegur Pak Burhan memergoki Atika yang berusaha melihat lembar jawaban teman sebangkunya.

Bagas dan Mitha cepat-cepat menunduk. Teguran Pak Burhan yang ditujukan pada Atika membuat jantung mereka dag-dig-dug. Takut ketahuan sedang berpandang-pandangan.

Detik demi detik berlalu meresahkan. Mitha dan Bagas sudah tidak sabar menanti kata ‘kumpulkan’ yang biasanya diucapkan Pak Burhan setelah waktu yang ditentukan habis. Mereka hanya membutuhkan waktu 20 menit untuk mengerjakan soal-soal itu. Sisa waktu yang ada sudah mereka gunakan untuk memeriksa kembali, sampai mata terasa pegal. Tapi, sang waktu lambat sekali jalannya.

Kesal menunggu, Mitha memperhatikan teman-temannya. Dia merasa geli melihat anak buah Bagas yang kurang pandai mengerutkan kening seolah berpikir, Padahal, mereka tengah mencari jalan untuk menembus benteng pertahanan Pak Burhan yang luar biasa ketat. Nyontek. Itu yang ada di benak mereka.

Bagas dirayapi perasaan yang sama. Dia merasa ingin tertawa melihat anak buah Mitha mencoret-coret kertas buram, seakan tengah menghitung. Padahal, mereka menulis surat minta tolong pada kawan sebangkunya. Kasihan, surat permohonan itu takkan pernah sampai ke tangan sang teman. Mata Pak Burhan terlalu tajam untuk dikelabui.

Puas menyaksikan tingkah anak buah musuhnya, Mitha mengalihkan pandangan pada sang ketua. Opps! Bagas pun sedang memandangnya. Pandangan mereka beradu lagi, lalu seolah sudah sepakat mereka memeletkan lidah bersamaan.

Pak Burhan berjalan melewati bangku Bagas. Uf! Bagas cepat-cepat menunduk. Mitha ikut menunduk.

Pak Burhan membelakangi bangku Bagas. Mitha menjulurkan lidahnya. Bagas melotot. Mitha ganti turut melotot. Mata keduanya melotot seperti kodok.

Pak Burhan membalikkan tubuh. Bagas berhenti melotot. Ditatapnya Mitha sebal, Mitha balas menatap.

“Bagas! Mitha! Kalau mau pacaran nanti saja!” gelegar suara Pak Burhan mengejutkan keduanya.

“Cihuy!” sorak Rianty lupa diri, lupa waktu.

“Siapa itu teriak-teriak?!” Pak Burhan memutar tubuhnya menatap ke arah Rianty dan Sandra, teman sebangkunya.

“Sa.. saya pak..” Rianty mengaku.

“Istirahat nanti, harap ke kantor. Ada tugas untukmu.”

“ I.. i….iya.. pak,” sahut Rianty pelan dan gugup.

Big Rival (1)

Chapter 1
Bagas vs Mitha


Mereka satu kelas. Sama-sama warga Kelas 2 IPA 1. Wajah, kepandaian dan penampilan keduanya sama menariknya. Pendek kata, merekalah Raja dan Ratu dari seluruh siswa di sekolah itu.

Bagas, cowok bertubuh atletis dengan wajah indo, dambaan setiap gadis. Mitha, dara ayu turunan Solo-Jerman, idaman setiap pemuda. Bagas-Mitha pemegang juara pertama ketika mereka kelas satu. Bagas mewakili kelas I B. Mitha mewakili kelas I C. Mereka tampil sebagai juara umum pertama mengalahkan juara-juara kelas lainnya. Indeks prestasi mereka sama jumlahnya. Mereka juga sama-sama berbakat di bidang seni. Bagas berkali-kali meraih juara melukis. Mitha biangnya juara dalam lomba menyanyi.

Sayang beribu sayang, mereka sama-sama keras kepala dan tak mau kalah. Masing-masing ingin lebih pandai, lebih dikagumi dan lebih dalam segalanya. Tidak heran, mereka berdua bagai anjing dengan kucing. Terlebih lagi, setelah mereka menempati kelas yang sama. Perang mulut, perang otak dan seratus macam perang lainnya senantiasa meliputi keduanya.

Mereka juga mempunyai kelompok pendukung. Anehnya, tidak semua cowok memihak Bagas dan tidak semua cewek memihak Mitha. Tentu ada sebabnya. Cowok pendukung Mitha iri pada Bagas. Sebaliknya, cewek pendukung Bagas dengki pada Mitha. Kekuatan kedua kelompok itu seimbang. Anggotanya sama banyaknya. Jumlah siswa yang 41 orang terbagi dua. 20-20. sisa satunya bersikap netral, yakni Rianty, sang juru damai yang sering dijuluki ‘Gadis Non Blok’.

Rianty, si gadis Non Blok memang anti terhadap perang. Gadis manis berkacamata itu merupakan sahabat Bagas dan Mitha. Tapi tak pernah sekalipun dia mengadu domba. Adil dan damai, itu prinsipnya.

Sudah berbagai akal diterapkan Rianty untuk mendamaikan kedua sobatnya itu. Mulai dari akal bulus akal kancil, akal buaya sampai akal Sherlock Holmes, tapi hasilnya nol besar. Kedua musuh itu tetap saja bersitegang urat kawat… eh, urat leher.

Big Rival (Sinopsis)

Big Rival
Created By Sweety Qliquers
(Samarinda, Rabu <> 120510, 0412PM)



Big Rival
Chapter 1 Bagas vs Mitha
Chapter 2 Ulangan Kimia
Chapter 3 Emosi Jiwa
Chapter 4 Lawan Yang Tangguh
Chapter 5 Kekesalan Mitha
Chapter 6 Saran Rianty
Chapter 7 Usaha Rianty
Chapter 8 Perasaan Bagas & Mitha
Chapter 9 Perdamaian Bagas & Mitha


Sinopsis

Mereka satu kelas. Sama-sama warga Kelas 2 IPA 1. Wajah, kepandaian dan penampilan keduanya sama menariknya. Pendek kata, merekalah Raja dan Ratu dari seluruh siswa di sekolah itu.

Bagas, cowok bertubuh atletis dengan wajah indo, dambaan setiap gadis. Mitha, dara ayu turunan Solo-Jerman, idaman setiap pemuda. Bagas-Mitha pemegang juara pertama ketika mereka kelas satu. Bagas mewakili kelas I B. Mitha mewakili kelas I C. Mereka tampil sebagai juara umum pertama mengalahkan juara-juara kelas lainnya. Indeks prestasi mereka sama jumlahnya. Mereka juga sama-sama berbakat di bidang seni. Bagas berkali-kali meraih juara melukis. Mitha biangnya juara dalam lomba menyanyi.

Sayang beribu sayang, mereka sama-sama keras kepala dan tak mau kalah. Masing-masing ingin lebih pandai, lebih dikagumi dan lebih dalam segalanya. Tidak heran, mereka berdua bagai anjing dengan kucing. Terlebih lagi, setelah mereka menempati kelas yang sama. Perang mulut, perang otak dan seratus macam perang lainnya senantiasa meliputi keduanya.

Mereka juga mempunyai kelompok pendukung. Anehnya, tidak semua cowok memihak Bagas dan tidak semua cewek memihak Mitha. Tentu ada sebabnya. Cowok pendukung Mitha iri pada Bagas. Sebaliknya, cewek pendukung Bagas dengki pada Mitha. Kekuatan kedua kelompok itu seimbang. Anggotanya sama banyaknya. Jumlah siswa yang 41 orang terbagi dua. 20-20. sisa satunya bersikap netral, yakni Rianty, sang juru damai yang sering dijuluki ‘Gadis Non Blok’.

Rianty, si gadis Non Blok memang anti terhadap perang. Gadis manis berkacamata itu merupakan sahabat Bagas dan Mitha. Tapi tak pernah sekalipun dia mengadu domba. Adil dan damai, itu prinsipnya.

Sudah berbagai akal diterapkan Rianty untuk mendamaikan kedua sobatnya itu. Mulai dari akal bulus akal kancil, akal buaya sampai akal Sherlock Holmes, tapi hasilnya nol besar. Kedua musuh itu tetap saja bersitegang urat kawat… eh, urat leher.

Mitha dan Bagas adalah murid-murid terpandai yang selalu mendapat juara umum di sekolah. Tetapi, mereka tidak pernah akur dan selalu bersaing. Mereka juga punya kelompok yang selalu mendukung mereka. Hanya 1 orang di kelas mereka yang bersifat netral dan tidak memihak salah satu dari mereka. Rianty,cewek tomboy ini berusaha mendamaikan mereka. Apakah usaha Rianty berhasil?


Tokoh Big Rival

Rianty Arnelita (Rianty)
Rianty, sang juru damai yang sering dijuluki ‘Gadis Non Blok’. Rianty, si gadis Non Blok memang anti terhadap perang. Gadis manis berkacamata itu merupakan sahabat Bagas dan Mitha. Tapi tak pernah sekalipun dia mengadu domba. Adil dan damai, itu prinsipnya.
Sudah berbagai akal diterapkan Rianty untuk mendamaikan kedua sobatnya itu. Mulai dari akal bulus akal kancil, akal buaya sampai akal Sherlock Holmes, tapi hasilnya nol besar. Kedua musuh itu tetap saja bersitegang urat kawat… eh, urat leher.
Mitha Anindya Pasha (Mitha)
Lama, Mitha merenungkan kata-kata Rianty tempo hari. Sudah damai saja. Yang untungkan kamu sendiri. Lagipula si Bagas cukup tampan. Ugh! Si tomboy itu seenaknya aja bicara. Tapi… akh, mengapa harus menipu diri sendiri? Bagas memang tampan kan? Bah! Persetan dengan ketampanannya itu! Pokoknya aku tidak sudi minta tolong padanya. Apalagi disuruh damai, wuih… nanti dulu ya!
Kamu memang sombong Mitha! Apa sih enaknya musuhan? Bisa peot kamu kalau terus-terusan keki, hanya karena nilai dia lebih tinggi. Uf! Mitha memukul lengan sofa. Dia benar-banar bingung. Ingin baikan dengan Bagas tapi gengsi. Ingin terus musuhan alamat jatuh nilai fisikanya. Lagipula, dia sudah bosan dengan pertengkaran-pertengkaran itu.

Bagas Natadipura (Bagas)
Di tempat lain, di kamarnya yang super acak-acakan, Bagas berbaring menatap langit-langit kamar Ditelinganya berdengung ucapan Riabty. Apa sih ruginya minta diajarin Mitha? Ya…. apaaa? batinnya.

Kemudian tanpa disadarinya, wajah Mitha bermain-main di pelupuk matanya. Rianty bilang, Mitha cantik. Uh, apanya yang cantik? Hei, Bagas… jangan membalikkan fakta. Nyatanya, dia memang menarik, cantik dan ..Ops! Bagas memejamkan mata. Ia berusaha mengusir wajah Mitha, tapi semakin dicoba semakin jelas paras cantik itu tergambar di benaknya. Senyumnya, matanya, bibirnya,.. akh, semua ini gara-gara Rianty brengsek itu! Bagas melempar bantal gulingnya. Kesal.

Maya Agraciana (Maya)
Tangan kanan Mitha Anindya Pasha (Mitha)
“Apaaaa?! Damaaaiii?!” Melengking suara Maya mendengar kata-kata Mitha.
“Eh, sorry. Abis aku tidak menduga akan begini jadinya,” katanya.
“Aku sih …ngikutin kamu aja!”

Mario Dewantara (Mario)
Tangan Kanan Bagas Natadipura (Bagas)
“Akhirnya runtuh juga pertahananmu, Gas!” Mario meninju bahu Bagas.
“Mm, aku sih mau saja. Kalau boss memang ingin damai, anak buah siap mengikuti,” kata Mario seraya membungkuk hormat.

Sabtu, 29 Mei 2010

Sepi Malam Minggu Yang Indah (4-End)

Chapter 4
Keputusan Yasmine


Yasmine memandang tubuh Dewa yang melangkah gontai. Maafkan aku, Dewa….batinnya. Cinta memang tidak bisa dipaksa. Dan, aku nggak ingin pura-pura mencintaimu hanya untuk membuang sepi malam mingguku.

Biarlah malam minggu tetap begini. Mungkin belum saatnya dewi amor singgah di hatiku. Toh, usiaku masih muda. Masih banyak waktu. Aku yakin, suatu hari nanti aku pasti menemukan dia, sang kekasih pujaan.

Dan, malam minggu Yasmine tetap sunyi. Tapi dia tidak sedih lagi. Dia menikmati sepi itu, sepi yang indah.


TAMAT
Copyright Sweety Qliquers
www.mininovel-lovers86.blogspot.com


Sepi Malam Minggu Yang Indah (3)

Chapter 3
Perang Batin Yasmine


Malam sudah larut. Yasmine merebahkan tubuhnya menghadap dinding. Dia berusaha memejamkan mata tapi tidak bisa. Kantuknya belum datang juga. Sementara perang batin berkobar terus, antara menerima atau menolak Dewa.

Hhhh! Yasmine mendesah. Posisi tubuhnya kini terlentang. Ditatapnya langit-langit kamar. Ada bayang-bayang Dewa di sana, lengkap dengan segala keurakannya. Tuhan, aku nggak bisa mencintainya. Aku….aku harus menolaknya. Ya, harus! Berpikir begitu, Yasmine merasa lega. Perang itu telah usai.

Dan kala jam berdentang satu kali, Yasmine tertidur pulas.

Sepi Malam Minggu Yang Indah (2)

Chapter 2
Perasaan Yasmine


Sudah jam tujuh kurang sepuluh menit, Indy belum datang juga. Yasmine duduk gelisah di bangkunya. Sebentar-sebentar ia melongokkan kepalanya ke jendela yang terletak di samping tempat duduknya. Tidak biasanya Indy terlambat. Apalagi ini hari Senin, harinya upacara bendera. Sebagai anggota pasukan pengibar bendera, seharusnya Indy datang agak pagi. Tapi, bukan karena itu Yasmine menunggu Indy. Dia hanya ingin cepat-cepat menceritakan kejadian malam minggunya.

Yasmine melirik jam di pergelangan tangan kirinya. 5 menit lagi bel berbunyi. Anak-anak sudah berhamburan ke lapangan siap mengikuti upacara. Bahkan, anak-anak kelas 3 IPA 1 yang terkenal tertib sudah mengatur barisan. Ah, Yasmine merasa kecewa. Percuma saja dia menunggu Indy. Toh, tidak ada waktu lagi untuk bercerita.

Di lapangan, mereka harus tekun mengikuti jalannya upacara. Payahnya, pelajaran pertama sesudah upacara adalah Matematika yang gurunya terkenal killer. Nah,mana ada kesempatan ngobrol? Padahal, Yasmine sudah tidak sabar ingin cerita.

Tepat jam 7, saat anak-anak sudah berbaris. Indy datang dengan nafas terengah-engah. Untung upacara baru akan dimulai. Tergesa, gadis itu menggabungkan diri dengan kelompok Pengibar bendera. Seorang gadis yang sudah siap menggantikannya kembali masuk ke barisannya.

Di barisannya, Yasmine menghela nafas lega. Dia sudah takut saja, Indy tidak hadir.

Upacara pagi itu terasa berlangsung berjam-jam. Pikiran Yasmine tidak terpusat pada jalannya upacara. Kata-kata Dewa terus mengiang di telinganya. O, betapa ingin dia mendengar komentar Indy bila gadis itu tahu apa yang diucapkan Dewa. Indy pasti terkejut. Matanya yang bulat pasti terbelalak. Ah, Yasmine tersenyum sendiri. Untung tidak ada yang melihat. Kalau tidak, mungkin dia disangka tidak waras.

“Aduh, kukira kamu nggak datang.” Yasmine menghampiri Indy setelah upacara selesai.

“Hm, biasanya kalau aku terlambat, kamu nggak ngomong begitu. Kok, sekarang?” Dengan curiga, Indy menatap Yasmine. “Memangnya ada apa sih?”

“Ada….,” Yasmine tidak meneruskan ucapannya. “Istirahat nanti aku ceritain deh. Yuk, masuk ke kelas. Ntar si killer ngamuk lho.” Ditariknya tangan Indy.

Dua jam dijejali aneka perhitungan rumit membuat kepala Yasmine pening. Terlebih lagi bila ingat kejadian malam minggu. Uh, rasanya mau pecah! Yasmine melirik jam tangannya. 1 menit lagi istirahat.

Teng…teng..teng..! Lonceng berbunyi tanda istirahat tiba. Barengan, Yasmine dan Indy menarik nafas lega.

“Fiuh! Gila tuh si killer!” Indy melap keningnya yang dihiasi butiran keringat dengan tissue.

“Ngasih soal nggak tanggung-tanggung. Emangnya kita Einstein,” Yasmine menyambung. “Ke kantin yok!” Ajaknya, menggamit lengan Indy.

“Wah, ada kabar seru ya? Kok baru istirahat pertama sudah ngajak ke kantin.” Indy penasaran.

“Bukan seru lagi, tapi super seru!” Yasmine memasukkan dompet mungilnya ke saku rok abu-abunya.

Di kantin, Yasmine memesan es jeruk 2 gelas.

“Waktu malam Minggu Dewa ke rumahku,“ Kata Yasmine setelah pesanan mereka datang.

“Enggak heran. Dari dulu dia naksir kamu kan?” Indy mengaduk-aduk esnya.

“Tapi kamu pasti heran kalau malam itu juga dia….,” Yasmine menggantung kalimatnya. Dia menunggu reaksi Indy.

“Dia kenapa?” Desak Indy, semakin penasaran.

Yasmine tersenyum. “Dia bilang, mau nggak kamu jadi pacarku?”

“Wow, berani juga tuh anak!” Setengah melongo Indy berseru.”Terus, apa jawaban kamu, Yas?”

“Beri aku waktu.” Sahut Yasmine pendek.

Indy meneguk esnya yang sudah mencair. Ditatapnya Yasmine lama-lama.

“He, kok menatapku terus?” Yasmine mengibaskan tangannya di depan wajah Indy.

“Yas, gimana perasaanmu terhadap Dewa?” Pelan suara Indy seolah takut ada yang mendengar.

“Perasaanku? Mm….gimana ya?” Yasmine mengerutkan kening “Akh, biasa aja tuh.”

“Kalau biasa aja, kenapa kamu bilang ‘beri aku waktu’? Tolak aja. Kan beres!”

Yasmine diam. Benar juga apa yang dikatakan INdy. Toh, sebenarnya dia tidak menyukai Dewa. Tapi, Dewa lumayan juga kok. Dia tampan, baik, walau agak urakan.

“Aku rasa, aku menyukainya.” Ujar Yasmine kemudian. “Sedikit, tapi lambat laun kan jadi bukit.”

“Gila! Kamu pikir, cinta itu mainan? Kalau kamu nggak mencintainya, ya…jangan dipaksa.”

Sekali lagi Yasmine terdiam. Dia jadi bingung. Kalau dia menolak Dewa, berarti malam minggunya akan tetap sepi. Atau…. menerimanya….akh…..apa betul dia bisa pelan-pelan belajar mencintai Dewa?

“Pikir baik-baik, Yas. Jangan memainkan perasaan orang lain.“ Indy menasihati. Yasmine manggut-manggut. Makin bingung deh.

Sepi Malam Minggu Yang Indah (1)

Chapter 1
Malam Minggu


Pukul 7 malam. Yasmine duduk termangu di teras rumahnya. Angin malam mengelus wajah mulusnya, mesra. Sepertinya ingin mengajak gadis itu bercumbu. Tapi Yasmine tidak peduli dengan angin genit itu. Rambutnya yang lembut dan tergerai sebahu dibiarkannya menutupi sebagian wajahnya. Yasmine memang sedang kesal. Betapa tidak, di malam Minggu seindah ini dia hanya berteman dengan sepi. Padahal, dia ingin seperti Indy, sahabatnya yang juga teman sebangkunya.

Indy tidak pernah kesepian bila malam minggu tiba. Ada Edo, pacar setianya yang selalu menemani dan mengajaknya pergi menikmati malam minggu.

Dulu, ketika Yasmine baru saja menginjakkan kakinya di bangku SMA, dia tidak pernah merasa sepi seperti ini. Hobinya membaca dan menulis cerpen telah menghabiskan waktu malam minggunya. Bahkan dia selalu merasa kekurangan waktu.

Ilham yang muncul di kepalanya terus mengalir seperti air bah. Sampai-sampai dia merasa kewalahan. Apalagi, kalau lagi musim ulangan. Wah, Yasmine sampai bingung. Soalnya, dia harus memilih belajar atau menulis cerpen? Padahal dia ingin keduanya berjalan lancar.

Tidak heran, bila malam minggu tiba, Yasmine selalu menyambutnya dengan gembira. Sebab dia ingin lekas-lekas menumpahkan sang ilham itu di atas kertas folio. Malam Minggu memang waktu yang paling tepat karena dia dapat mengetik tanpa ada yang menganggu. Dan, Yasmine menikmati semua itu.

Tapi itu dulu. Sekarang, Yasmine mulai merasakan betapa menjemukan malam minggunya. Hanya bergelut dengan buku dan Laptop. Lagian, dia juga ingin menceritakan tentang kencan malam minggunya pada Indy, seperti yang dilakukan Indy setiap hari Senin tiba.

Malam kian merangkak. Jam di ruang tamu berdentang. Suaranya mengusik Yasmine yang masih melamun. Gadis itu mendesah. Tangannya menyibak rambut hitamnya yang dipermainkan angin. Perlahan, ia bangkit dari duduknya, masuk ke dalam rumah.

Di ruang tengah, Yasmine melanjutkan lamunannya. Ia berkhayal, andai saja ada pemuda tampan yang mengunjunginya malam ini. O, betapa bahagianya!

Sedang asik-asiknya berkhayal begitu, terdengar suara motor sport meraung-raung. Yasmine segera beranjak ke depan. Dari balik tirai jendela, dia melihat seorang pemuda tengah mencopot helmnya. Mendadak, Yasmine merasa dadanya berdebar-debar. Apalagi pemuda itu kini memijit bel yang terletak di samping pintu pagar.

Sesaat, nada-nada manis yang ditimbulkan oleh bel itu menggema di seluruh ruangan. Yasmine menenangkan dirinya, lalu melangkah keluar.

“Hai, Wa! Kok, tumben kemari?” Sapa Yasmine setelah ia tahu siapa pemuda itu. Dewa adalah kakak kelasnya. Cowok tampan bertubuh jangkung itu sudah lama naksir Yasmine. Yasmine tahu itu. Cuma, dia merasa kurang sreg dengan cowok itu. Baginya, Dewa terlalu urakan. Pakaiannya tidak pernah rapi. Selalu jins belel dengan kaos tanpa lengan. Sepatunya apalagi, ampun dekilnya! Padahal, Yasmine adalah gadis yang menyukai kerapian.

“Ah, cuma iseng aja. Daripada bengong di rumah.” Ujar Dewa membalas sapaan Yasmine.

“Ayo masuk deh,” Yasmine membuka pintu pagar.

“Kok, sepi Yas?” Dewa mengedarkan pandang sambil mengikuti Yasmine masuk ke ruang tamu.

“He eh,” Yasmine mengangguk. “Papa dan mama pergi menghadiri pesta pernikahan putri sahabat papa.

“Kak Sony sudah sejak sore sibuk dengan pacarnya.”

“Kamu kok nggak sibuk seperti Sony?” Tanya Dewa memancing seraya duduk di sofa.

“Ah, gimana mau sibuk. Pacar aja belum punya kok. “ Yasmine tersipu.

“Kalau ada yang mau jadi pacarmu, diterima enggak?” Pancing Dewa lagi.

Yasmine diam. Dia mulai dapat meraba ke arah mana pembicaraan Dewa. Terlebih lagi melihat tatapan mata Dewa yang menusuk.

“Aku ambilin minum dulu ya?” Kata Yasmine akhirnya berusaha mengelak. Dewa mengangguk. Dipandanginya tubuh semampai Yasmine yang masuk ke ruang dalam.

Beberapa saat kemudian, Yasmine muncul dengan dua gelas sirup merah.

“Silakan minum, Wa.” Katanya.

“Manis sekali sirup ini,” Dewa tersenyum setelah meneguk minuman itu. “Semanis orang yang membuatnya.”

“Wah, Bik Inah pasti senang dipuji begitu.” Yasmine tertawa kecil. Dia tahu, sebenarnya pujian itu ditujukan untuknya. Tapi, bukankah bik Inah yang disuruhnya membuat minuman itu? Sedang dia sendiri, cuma ingin menghindar dari tatapan Dewa, lalu berpura-pura masuk membuat sirup.

Dewa ikut tertawa kecut. Dia tidak menyangka kalau minuman itu dibuat pembantu Yasmine.

“Yas, boleh nggak setiap malam Minggu aku kemari?” tanyanya kemudian.

Yasmine ingin mengangguk, tapi entah kenapa dia menjawab “Boleh saja tapi….,”

“Tapi apa?”

“Tiap hari kan kita ketemu di sekolah.”

“Betul. Cuma kalau di sekolah rasanya enggak bebas.”

Yasmine terdiam. Keheningan menyergap.

“Yas, kamu mau kan jadi pacarku?” pertanyaan Dewa membuyarkan hening. Ditatapnya Yasmine dengan mata penuh pijar bintang.

Yasmine menunduk. Rasanya terlalu cepat Dewa mengucapkan kalimat itu. Terlalu tiba-tiba meski dia mendambakan seorang cowok tapi bukan begitu caranya. Lagipula, dia tidak merasakan adanya debar-debar manis mendengar kalimat itu. Padahal Indy pernah bilang, kalau kita jatuh cinta sama seseorang, pasti kita merasa berdebar-debar bila dia mengucapkan kata cinta atau kata lainnya yang menjurus ke situ. Tapi, aku tidak merasakan hal itu, pikir Yasmine. Aku ragu, apakah aku juga menyukai Dewa.

“Dewa….,” Yasmine mengangkat kepalanya setelah membisu beberapa saat. “Aku…eh, beri aku waktu untuk menjawabnya.”

“Oh, tentu Yas.” Dewa tersenyum. “Aku akan menanti jawabanmu.”

Sepi Malam Minggu Yang Indah (Sinopsis)

Sepi Malam Minggu Yang Indah
Created By Sweety Qliquers
(Samarinda, Rabu <> 120510, 1140AM)



Sepi Malam Minggu Yang Indah
Chapter 1 Malam Minggu
Chapter 2 Perasaan Yasmine
Chapter 3 Perang Batin Yasmine
Chapter 4 Keputusan Yasmine


Sinopsis

“Waktu malam Minggu Dewa ke rumahku,“ Kata Yasmine setelah pesanan mereka datang.
“Tapi kamu pasti heran kalau malam itu juga dia….,” Yasmine menggantung kalimatnya. Dia menunggu reaksi Indy.
Yasmine tersenyum. “Dia bilang, mau nggak kamu jadi pacarku?”
“Beri aku waktu.” Sahut Yasmine pendek.
“He, kok menatapku terus?” Yasmine mengibaskan tangannya di depan wajah Indy.
“Perasaanku? Mm….gimana ya?” Yasmine mengerutkan kening “Akh, biasa aja tuh.”
Yasmine diam. Benar juga apa yang dikatakan Indy. Toh, sebenarnya dia tidak menyukai Dewa. Tapi, Dewa lumayan juga kok. Dia tampan, baik, walau agak urakan.
“Aku rasa, aku menyukainya.” Ujar Yasmine kemudian. “Sedikit, tapi lambat laun kan jadi bukit.”
Sekali lagi Yasmine terdiam. Dia jadi bingung. Kalau dia menolak Dewa, berarti malam minggunya akan tetap sepi. Atau…. menerimanya….akh…..apa betul dia bisa pelan-pelan belajar mencintai Dewa?
(Yasmine Artalyta_Yasmine)

“Enggak heran. Dari dulu dia naksir kamu kan?” Indy mengaduk-aduk esnya.
“Dia kenapa?” Desak Indy, semakin penasaran.
“Wow, berani juga tuh anak!” Setengah melongo Indy berseru.”Terus, apa jawaban kamu, Yas?”
Indy meneguk esnya yang sudah mencair. Ditatapnya Yasmine lama-lama.
“Yas, gimana perasaanmu terhadap Dewa?” Pelan suara Indy seolah takut ada yang mendengar.
“Kalau biasa aja, kenapa kamu bilang ‘beri aku waktu’? Tolak aja. Kan beres!”
“Gila! Kamu pikir, cinta itu mainan? Kalau kamu nggak mencintainya, ya…jangan dipaksa.”
“Pikir baik-baik, Yas. Jangan memainkan perasaan orang lain.“ Indy menasihati. Yasmine manggut-manggut. Makin bingung deh.
(Indy Inarosamaya_Indy)

“Kok, sepi Yas?” Dewa mengedarkan pandang sambil mengikuti Yasmine masuk ke ruang tamu.
“Kamu kok nggak sibuk seperti Sony?” Tanya Dewa memancing seraya duduk di sofa.
“Kalau ada yang mau jadi pacarmu, diterima enggak?” Pancing Dewa lagi.
“Yas, boleh nggak setiap malam Minggu aku kemari?” tanyanya kemudian.
“Yas, kamu mau kan jadi pacarku?” pertanyaan Dewa membuyarkan hening. Ditatapnya Yasmine dengan mata penuh pijar bintang.
“Oh, tentu Yas.” Dewa tersenyum. “Aku akan menanti jawabanmu.”
(Dewa Pramudia_Dewa)



Tokoh Sepi Malam Minggu Yang Indah
Yasmine Artalyta (Yasmine)
Dulu, ketika Yasmine baru saja menginjakkan kakinya di bangku SMA, dia tidak pernah merasa sepi seperti ini. Hobinya membaca dan menulis cerpen telah menghabiskan waktu malam minggunya. Bahkan dia selalu merasa kekurangan waktu.

Ilham yang muncul di kepalanya terus mengalir seperti air bah. Sampai-sampai dia merasa kewalahan. Apalagi, kalau lagi musim ulangan. Wah, Yasmine sampai bingung. Soalnya, dia harus memilih belajar atau menulis cerpen? Padahal dia ingin keduanya berjalan lancar.

Tidak heran, bila malam minggu tiba, Yasmine selalu menyambutnya dengan gembira. Sebab dia ingin lekas-lekas menumpahkan sang ilham itu di atas kertas folio. Malam Minggu memang waktu yang paling tepat karena dia dapat mengetik tanpa ada yang menganggu. Dan, Yasmine menikmati semua itu.Tapi itu dulu. Sekarang, Yasmine mulai merasakan betapa menjemukan malam minggunya. Hanya bergelut dengan buku dan Laptop.


Indy Inarosamaya (Indy)
Indy Inarosamaya (Indy) adalah sahabat yang juga teman sebangkunya Yasmine Artalyta (Yasmine). Indy tidak pernah kesepian bila malam minggu tiba. Ada Edo, pacar setianya yang selalu menemani dan mengajaknya pergi menikmati malam minggu. Dan tidak pernah lupa untuk menceritakan tentang kencan malam minggunya pada Yasmine Artalyta (Yasmine) setiap hari Senin tiba.



Dewa Pramudia (Dewa)
Dewa Pramudia (Dewa) adalah kakak kelas Yasmine Artalyta (Yasmine). Cowok tampan bertubuh jangkung itu sudah lama naksir Yasmine Artalyta (Yasmine). Yasmine Artalyta (Yasmine) tahu itu. Cuma, dia merasa kurang sreg dengan Dewa Pramudia (Dewa). Bagi Yasmine Artalyta (Yasmine), Dewa Pramudia (Dewa) terlalu urakan. Pakaiannya tidak pernah rapi. Selalu jins belel dengan kaos tanpa lengan. Sepatunya apalagi, ampun dekilnya! Padahal, Yasmine Artalyta (Yasmine) adalah gadis yang menyukai kerapian.

Biarkan Waktu... (4-End)

Chapter 4
Biarkan Waktu Yang Menjawabnya


Ketika pulang sekolah, Kamila langsung lari ke toko buku tempat ia janjian dengan Dimas.

Lima belas menit ia menunggu.

Akankah Dimas benar-benar muncul seperti janjinya?

Buk!

Sebuah pukulan kecil dengan buku mengenai punggung Kamila. Kamila menengok. Dimas!!!!

“Hai, udah lama nunggu?” Dimas menebarkan senyum manisnya yang sangat memukau bagi Kamila….

“Aduh, usil banget sih. Gue kaget….” Hati Kamila panas dingin nggak karuan.

“Sorry….”

“Ada apa? Kayaknya penting?”

Dimas tersenyum.

“Nggak papa kok… cuman pengen ketemu aja….”

Ah, hati Kamila terbang setinggi langit.

Hingga siang terasa begitu sempit.

“Mil….” Tiba-tiba Dimas menatap Kamila dengan tajam. Kamila salah tingkah. Pipinya merah. Tatapan Dimas begitu dalam.

“Ada yang mau gue omongin sama lo….”

“Apa sih?” Tanya Kamila. Entah kenpa, jantung Kamila berdebam keras. Suasana terasa sangat romantis baginya. Apa kira-kira yang akan Dimas katakan padanya?

Tapi Dimas terdiam.

Dimas nggak bicara apa-apa kecuali hanya diam seribu bahasa. Menatap lembut Kamila.

Keduanya akhirnya terdiam.

“Kita pulang aja?” Tanya Dimas.

Kamila mengangguk.

“Gue anter?”

Kamila menggeleng.

“Nggak usah. Gue bisa sendiri….” Ah, itulah Kamila. Selalu aja gengsi untuk berkata “iya” akan semua tawaran Dimas.

“Bener? Ati-ati ya? Makasih udah mau datang…. Sekedar lihat wajah elo, gue udah bahagia. Lo cantik, smart… Lo ikut pemilihan miss-miss-an pasti bakalan menang….”

“Pemilihan bintang misteri gunung berapi maksudnya?” Kamila mencoba ngocol. Dimas tersenyum.

Kaku sekali keduanya bertatatapan.

Yang jelas, keduanya berjalan dengan saling berbeda arah.

Tapi tahukah kita tentang cinta?

Cinta itu memang misteri yang tidak dapat terpecahkan oleh siapa pun. Andai Kamila tahu, sebenarnya pertemuan tadi, Dimas ingin mengatakan pada Kamila, bahwa ia sangat mencintai Kamila. Andai mungkin Dimas lebih memilih Kamila daripada Stella. Tapi Dimas mencoba tetap setia pada komitmennya dengan Stella.

Berhari-hari Dimas kepikiran sosok Kamila yang di mata Dimas sangat mandiri dan smart.

Dimas hanya ingin Kamila tahu bahwa ia, sangat mencintai Kamila.

Walau Dimas tahu, saat ini keduanya nggak mungkin bisa bersatu….

Tapi ternyata hari itu mulut Dimas terasa terkunci.

Ia tak mampu mengutarakan isi hatinya.

Sama persis seperti yang dirasakan Kamila.

Ketika ia hanya ingin ucapkan, Dimas I love U, itu juga sangat berat baginya.

Dalam hati Dimas berkata, andai Kamila tahu betapa ia merasa kurang nyaman dengan Stella karena Stella bukan cewek idamannya. Stella bener-bener seperti kucing anggora yang hanya suka dandan dan sangat manja. Sementara cewek idaman Dimas adalah cewek yang mandiri dan nggak manja-manja amat.

Sementara Kamila sangat suka cowok yang energik, nggak males, care dengan dia. Dan semua itu nggak pernah ia dapetin dari Andhika yang terlalu asyik dengan dirinya sendiri.

Tapi keduanya mencoba bertahan, menjaga komitmen masing-masing yang sudah terbangun terlebih dahulu.

Tanpa diucapkan secara langsung melalui kata-kata, keduanya memiliki sikap yang sama.

Mencoba setia dengan apa yang sudah dijalani. Mengorbankan perasaan dan rasa cinta yang lebih kuat tercipta.

Andai keduanya tahu saat itu keduanya sama-sama dalam konflik batin yang amat dalam….

Ingin menyatukan cinta dalam satu kebersamaan, namun dipupuskan agar tidak menyakiti hubungan yang sudah lebih dahulu terbangun….

“Mil… lo satu-satunya cewek di hati gue yang sudah menempati kisi batin gue yang paling dalam. Belum ada yang menggantikan, Mil…. Sahabat cewek gue banyak, tapi lo adalah yang terbaik bagi gue….” Itu kata-kata yang terucap dari batin Dimas.

“Dimas, I love U… gue cinta elo dengan tulus…. Biarlah waktu yang mempertemukan kita, Dim….” Desah Kamila sambil mengusap airmata yang menetes di pipinya. Ia berjalan dalam alunan lagu Nidji, HAPUS AKU.

Kutuliskan kesedihan
Semua tak bisa kau ungkapkan
Dan kita kan bicara dengan hatiku

Buang semua puisi
Antara kita berdua
Kau bunuh dia sesuatu
Yang kusebut itu cinta

Yakinkan aku Tuhan
Dia bukan milikku
Biarkan waktu waktu
Hapus aku

Sadarkan aku Tuhan
Dia bukan milikku
Biarkan waktu waktu
Hapus aku….
(Nidji_Hapus Aku)


Sementara itu di rumahnya yang bergaya Timur Tengah, Syafa baru saja selesai sholat, masih pake mukena, berdoa dengan khusyu’ untuk sahabatnya, “Ya Allah, jika Dimas adalah yang terbaik bagi Kamila, fertemukan mereka dalam naungan cinta sejati-Mu….”

Dan Syafa pun juga tak kalah menangis, tergugu.

Kini masing-masing hanya mampu menunggu waktu….





TAMAT
Copyright Sweety Qliquers
www.mininovel-lovers86.blogspot.com

Biarkan waktu... (3)

Chapter 3
Harapan Kamila


“Gue kan cewek biasa, Sya. Gue butuh disayang. Gue butuh diperhatiin….”

“Ssst… Masyaallah. Gue juga butuh. Nggak hanya lo….”

“Sya…. Gue capek selalu jadi hero bagi Andhika…. Andhika sangat manja…. Tapi gue nggak mungkin putus sama Andhika. Mami papi gue dan mami papi Andhika udah kompakan mo ngejodohin gue….” Kata Kamila lagi.

“Lalu apa mau lo, Mil….”

“Gue hanya ingin Dimas tahu kalau gue sayang sama dia…. Itu saja, Sya…. Tanpa harus jadian sama Dimas, gue udah bahagia….”

“Subhanallah. Sederhana sekali mimfi lo. Fercaya sama gue, Mil. Tanfa lo ngomong sama Dimas, Dimas sudah tahu…. Trust me, Mil….”

“Sungguh?”

“Ya. Dan elo musti makin kuat nanamin rasa cinta pada Dimas…. Lo bisa jadian sama Dimas kalau Dimas udah futus dengan Stella. Tapi lo nggak mo doain Dimas futus dengan Stella kan? Mereka berdua udah klop. Nggak ada froblem…”

Kamila tertunduk sedih.

“Jadi?”

“Jadikan Dimas jadi seberkas sinar yang menyinari hati lo. Tanfa lo harus memiliki sinar itu…”

Kamila mengangguk. “Makasih, Sya. Kata-kata lo puitis banget….”

Dan esoknya pagi-pagi Kamila jadi hepi nggak kepalang. Baru bangun, buka mata, ia melihat ada sms dari Dimas di hape-nya.

Kamila, have a nice day ya! Pulang sekolah, gue tunggu di toko buku seperti biasa.

Wah, Kamila jadi mabuk kepayang nggak kepalang.

Sepanjang hari, di sekolahan Kamila jadi semangat banget. Wajahnya penuh senyum. Membayangkan hari ini bertemu dengan cowok yang ia anggap sempurna di matanya.

Biarkan Waktu... (2)

Chapter 2
Perhatian Dimas


Yang barusan itu tadi baru prolog.

Yang jelas selama ini Kamila memang jatuh cinta banget dengan Dimas, kakak kelasnya yang di mata Kamila cakepnya nggak ketulungan. Bahasa romantisnya, kharisma dalam diri Dimas luar biasa.

Tapi Kamila tahu kalau Dimas sudah punya cewek.

Ya, Kamila dan Dimas memang sangat dekat dan bersahabat. Kamila merasa mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang luar biasa dari Dimas. Setiap pagi selalu ada SMS masuk dalam hp Kamila. Walau hanya sebatas bertanya, how ‘bout this day?

Tapi hal kecil seperti itu bagi Kamila udah luar biasa.

Maklum, semua itu nggak pernah ia dapetin dari Andhika, yang udah jadi cowoknya sejak kelas 1 SMP. Andhika terlalu cuek. Asyik dengan dirinya sendiri. Nggak pernah perhatian pada Kamila apalagi manjain.

Dan perhatian Dimas bagi Kamila adalah hal yang sangat luar biasa. Hingga Kamila tahu kalau ternyata Dimas memang sering melakukan itu pada beberapa temen cewek lain.

Itu yang membuat Kamila kecewa.

Biarkan Waktu... (1)

Chapter 1
Perasaan Kamila


“Gue down banget, Sya…” kata Kamila dengan tangan terus mencorat-coret buku diary-nya pada Syafa, sahabat karibnya. Syafa menatap Kamila bingung.

“Subhanallah. Kenafa?” Tanya Syafa.

“Duh, Sya… ayo dong latihan. Kamu sudah di Indonesia. Bukan tinggal di Arab Saudi lagi. Kok masih juga nggak bisa ngucapin huruf p?” ucap Kamila gemes.

“Allahu akbar. Duh, gue nggak bisa. Gue kan keturunan Arab, Mil….” Jawab Syafa polos.

“Iya. Tapi kan nggak harus seperti itu. Bilang Pizza, Fizza. Nggak papa jadi nggak fafa….”

“Iya, iya….Gue coba deh. Trus ngafain lo down lagi? Kayak listrik aja sering down? Nanti gue fasangin stabilizer, baru tahu rasa….” Kata Syafa lagi. Tetep pake f. Bukan p.

“Sya, lo tahu kan kalau gue ada hati sama si Dimas?”

“Astaghfirullah…. Ya tahu dong. Lo kan naksir banget si Dimas…”

“Iya, trus?”

“Ternyata, I am only one of them. He treats me not as special as I look at him, I am like another girl he has….” Kata Kamila dengan mata berkaca-kaca.

Syafa berdiri.

“Mau ke mana! Gue belum selesai curhat….”

“Ambil kamus. Gue nggak ngerti kalau lo ngomong fake bahasa Inggris…”

“Nggak usah deh, nggak usah. Gue terjemahin. Maksud gue, ternyata bagi Dimas gue bukan satu-satunya cewek yang dekat dengan dia. Gue bukan cewek spesial si Dimas….” Kata Kamila sedih.

“Nggak fafa, Mil… Dimas memang bukan cowok elo kan? Kamu bilang dia hanya teman tapi mesra….”

“Tapi gue cinta Dimas, Sya….”

“Iya. Tafi lo juga udah jadian sama Andhika dan Dimas udah punya cewek, Stella….”

“Iya… Tapi rasa ini nggak bisa gue enyahkan. Gue suka mikirin dia. Dia nyaris sempurna di mata gue, Sya. Dia cakep, keren, pinter, jago basket….”

“Gue ngerti, Mil. So what gitu loh… Lo harus ‘bumbata’. Buka mata buka telinga. Si Dimas udah punya cewek. Biar namanya kayak pengharum ruangan, tapi Stella juga manusia….”

“Trus gimana dong, Sya…. Gue nggak bisa lari dari rasa ini. Setiap saat gue pengen ketemu dia, pengen sms dia, pengen denger kabar dia….”

“Nggak fafa…. Lo jangan mellow ya? Lo musti terus fufuk rasa cinta lo pada Andhika. Lo kan belum putus sama Andhika….”

“Sya, gue sedih…. Ajak gue ke mana aja lo pergi. Biar suntuk gue ilang….”

“Masyaallah. Ke mana? Lihat fentas tari ferut?”

“Ih, yang bener dong. …”

“Subhanallah… Mil, saran gue, mending lo ngomong sama Dimas apa adanya….”

“Bahwa gue cinta dia? Nggak, Sya. Cukup rasa itu gue aja yang miliki. Gue memang harus terima kenyataan bahwa Dimas bukan milik gue….” Kata Kamila.

“Bagus. Kata fak ustad, kamu adalah cewek yang sabar. Sabar itu dicintai Allah. Berarti kamu hamba yang dicintai Allah. Subhanallah…. Alhamdulillah. Allahu akbar….” Kata Syafa panjang lebar.

“Sya… lo banyak zikirnya kalau ngomong. Lo emang udah ngebet banget pengen jadi ahli surga ya nanti…” kata Kamila.

“Amin, amin. Betul. Abi gue yang ngajarin. Di mana-mana kita kan harus berzikir. Ingat Allah….”

“Tapi lebih baik disimpan dalam hati aja zikirnya. Nanti orang bilang, mentang-mentang keturunan Arab…. Dikira riya’ lho…”

“Innalillah. Betul lo, Mil. Alhamdulillah lo udah ingetin gue….”

Biarkan Waktu... (Sinopsis)

Biarkan Waktu…
Created By Sweety Qliquers
(Samarinda, Rabu <> 120510, 0848AM)



Biarkan Waktu…
Chapter 1 Perasaan Kamila
Chapter 2 Perhatian Dimas
Chapter 3 Harapan Kamila
Chapter 4 Biarkan Waktu Yang Menjawabnya


Sinopsis

Yang jelas selama ini Kamila memang jatuh cinta banget dengan Dimas, kakak kelasnya yang di mata Kamila cakepnya nggak ketulungan. Bahasa romantisnya, kharisma dalam diri Dimas luar biasa.

Tapi Kamila tahu kalau Dimas sudah punya cewek.

Ya, Kamila dan Dimas memang sangat dekat dan bersahabat. Kamila merasa mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang luar biasa dari Dimas. Setiap pagi selalu ada SMS masuk dalam hp Kamila. Walau hanya sebatas bertanya, how ‘bout this day?

Tapi hal kecil seperti itu bagi Kamila udah luar biasa.

Maklum, semua itu nggak pernah ia dapetin dari Andhika, yang udah jadi cowoknya sejak kelas 1 SMP. Andhika terlalu cuek. Asyik dengan dirinya sendiri. Nggak pernah perhatian pada Kamila apalagi manjain.

Dan perhatian Dimas bagi Kamila adalah hal yang sangat luar biasa. Hingga Kamila tahu kalau ternyata Dimas memang sering melakukan itu pada beberapa temen cewek lain.

Itu yang membuat Kamila kecewa.



Tokoh Biarkan Waktu…

Syafania Kirana (Syafa)
Sementara itu di rumahnya yang bergaya Timur Tengah, Syafa baru saja selesai sholat, masih pake mukena, berdoa dengan khusyu’ untuk sahabatnya, “Ya Allah, jika Dimas adalah yang terbaik bagi Kamila, fertemukan mereka dalam naungan cinta sejati-Mu….”
Dan Syafa pun juga tak kalah menangis, tergugu.
Kini masing-masing hanya mampu menunggu waktu….

Kamila Callystania (Kamila)
Sama persis seperti yang dirasakan Kamila. Ketika ia hanya ingin ucapkan, Dimas I love U, itu juga sangat berat baginya. Sementara Kamila sangat suka cowok yang energik, nggak males, care dengan dia. Dan semua itu nggak pernah ia dapetin dari Andhika yang terlalu asyik dengan dirinya sendiri.

Tapi keduanya mencoba bertahan, menjaga komitmen masing-masing yang sudah terbangun terlebih dahulu. Tanpa diucapkan secara langsung melalui kata-kata, keduanya memiliki sikap yang sama. Mencoba setia dengan apa yang sudah dijalani. Mengorbankan perasaan dan rasa cinta yang lebih kuat tercipta. Andai keduanya tahu saat itu keduanya sama-sama dalam konflik batin yang amat dalam…. Ingin menyatukan cinta dalam satu kebersamaan, namun dipupuskan agar tidak menyakiti hubungan yang sudah lebih dahulu terbangun….


Dimas Prasetya (Dimas)
Cinta itu memang misteri yang tidak dapat terpecahkan oleh siapa pun. Andai Kamila tahu, sebenarnya pertemuan tadi, Dimas ingin mengatakan pada Kamila, bahwa ia sangat mencintai Kamila. Andai mungkin Dimas lebih memilih Kamila daripada Stella. Tapi Dimas mencoba tetap setia pada komitmennya dengan Stella.

Berhari-hari Dimas kepikiran sosok Kamila yang di mata Dimas sangat mandiri dan smart. Dimas hanya ingin Kamila tahu bahwa ia, sangat mencintai Kamila. Walau Dimas tahu, saat ini keduanya nggak mungkin bisa bersatu…. Tapi ternyata hari itu mulut Dimas terasa terkunci. Ia tak mampu mengutarakan isi hatinya.

Dalam hati Dimas berkata, andai Kamila tahu betapa ia merasa kurang nyaman dengan Stella karena Stella bukan cewek idamannya. Stella bener-bener seperti kucing anggora yang hanya suka dandan dan sangat manja. Sementara cewek idaman Dimas adalah cewek yang mandiri dan nggak manja-manja amat.

Tapi keduanya mencoba bertahan, menjaga komitmen masing-masing yang sudah terbangun terlebih dahulu. Tanpa diucapkan secara langsung melalui kata-kata, keduanya memiliki sikap yang sama. Mencoba setia dengan apa yang sudah dijalani. Mengorbankan perasaan dan rasa cinta yang lebih kuat tercipta. Andai keduanya tahu saat itu keduanya sama-sama dalam konflik batin yang amat dalam…. Ingin menyatukan cinta dalam satu kebersamaan, namun dipupuskan agar tidak menyakiti hubungan yang sudah lebih dahulu terbangun….

Akhir Perjalanan (3-End)

Chapter 3
Akhir Dari Segalanya


9 Mei pukul 17.05

Bima tersenyum lebar dan melonjak gembira. Ia tak perlu menunggu terlalu lama. Dilihatnya gadis itu tengah menyeberang jalan dan susah-payah berkelit dari padatnya lalu lintas di depan Balaikota pada sore hari.

“Adelia!” Bima berteriak sambil melambaikan tangannya ketika gadis itu telah berhasil menyeberangi jalan.

Adelia, gadis itu, memutar kepala untuk menemukan darimana panggilan itu berasal. Demi dilihatnya Bima berdiri di bawah pohon rindang itu, tanpa ragu lagi Adelia berlari menghampirinya.

Di bawah pohon yang rindang itu keduanya berpelukan erat. Erat sekali..

TAMAT
Copyright Sweety Qliquers
www.mininovwl-lovers86.blogspot.com


Akhir Perjalanan (2)

Chapter 2
Keyakinan Bima


Di Indramayu bis malam antar kota itu berhenti di restoran untuk memberi kesempatan pada semua penumpang untuk makan malam. Bima dan Adelia duduk berhadapan di salah satu sudut, menyantap menu pilihan masing-masing.

“Kenapa nggak ngajak cowokmu untuk menemanimu? Atau jangan-jangan kalian backstreet?”

“Oh, no! Nggak gitu! Dia cowok yang super-sibuk dengan kuliah dan seabreg kegiatan akademisnya. Tapi giliran dia yang punya mau, aku yang harus mengalah.”

“Kasihan. Itu namanya egois, maunya memang sendiri. Kamu pasti tertekan jadi pacarnya.”

“Biasa aja.” Adelia mengaduk-aduk isi piringnya dengan gerakan sendok yang tak beraturan.

“Mungkin sudah saatnya kamu mengalihkan perhatian.”

“Maksudmu?” Adelia menatap cowok tampan di depannya tanpa berkedip.

“Mungkin kamu lebih tepat jika punya cowok yang lebih fresh. Yang masih SMA, yang nggak terlalu sibuk dan... tampan seperti aku.”

Adelia terbelalak dan kemudian melemparkan segumpal tisu yang persis mengenai wajah Bima.

“Kamu memang cowok yang aneh dan bikin aku suka kaget-kaget dengan candamu.”

“Tapi suka, kan?”

“Suka,” jawab Adelia tanpa bisa dibendung. “Tapi... Sony juga baik dan setia.”

“Baik dan setia...? A-ha! Bukankah kamu habis bertengkar dengannya lagi?”

Adelia tersentak. Wajahnya seketika merah padam.

“Sorry, Del. Tadi aku membuntuti kamu pas kamu ke toilet dan aku menguping pembicaraanmu lewat telpon.”

“Kamu jangan suka menguping kemudian berprasangka buruk,” desis Adelia.

“Apa yang kamu pikirkan jika kamu mendengar nada ucapan yang keras dan bentakan?” desak Bima.

“Kadang pacaran memang nggak selalu mulus. Ada aja kerikil-kerikil kecil yang.... Ah, cuma kesalahpahaman kecil yang nggak berarti.” Adelia masih mengaduk-aduk isi piringnya dan kemudian menyingkirkan piring itu. Ia minum air putih segelas penuh.

Setengah jam kemudian bis malam meninggalkan Indramayu. Bima dan Adelia kembali duduk berdampingan, mengabaikan waktu dan jam tidur, untuk bicara. Mereka bicara tentang sekolah, pelajaran ekstra kurikuler yang membosankan, musik, televisi, film Indonesia yang semakin latah dan banyak lagi. Sesekali tawa keras Bima membangunkan seorang ibu tua yang telah tertidur tak jauh dari posisi mereka. Sesekali pula jeritan kaget Adelia mengusik orang-orang di depannya.

“Kenapa kita nggak ketemu setahun yang lalu ketika kamu belum punya Sony? Apakah Solo terlalu luas?”

“Pasti karena kita nggak berjodoh.”

“Kamu yakin bahwa Sony adalah jodoh kamu? Sony yang temperamental itu? Kenapa kamu nggak berpikir bahwa jodohmu baru saja kamu temukan?”

“Ah, jangan kelewatan!”

“Siapa yang tahu, Del? Mungkin aja perjumpaan kita yang nggak kita duga ini adalah sebuah awal...”

“Sadarlah, Bim! Ada Sony yang pagi nanti menjemputku di terminal!”

Tiba-tiba Bima berteriak dan mendorong wajah Adelia ke jendela. “Lihat! Ada bintang jatuh! Mintalah sesuatu, Del. Make a wish!”

Adelia menegaskan pandangannya ke luar jendela, ke langit malam yang pekat di luar sana.

“Tadi aku sempat melihatnya, Del! Sebuah bintang jatuh. Cukup besar dan sinarnya amat tajam.”

“Dan kamu mengucapkan permintaan dalam hati?”

“Ya. Aku ingin suatu hari kita ketemu dan...”

“Lupakanlah, Bim! Kita hanya bertemu dan berteman selama perjalanan ini. Setelah turun dari bis ini di terminal Solo nanti, kita akan saling melupakan. Nggak ketemu, nggak berhubungan. Nggak ada telepon, meski sekedar say hello. Cerita kita berakhir pagi hari nanti.”

“Ya, baiklah. Aku menghormati keinginanmu. Tapi... aku akan menunggu kamu pada tanggal 9 Mei, jam 5 sore di depan Balaikota Solo. Kamu paham tempat itu?”

“Kamu?”

“Ya. Tepat sebulan lagi, aku menunggumu. Jam 5 sore, aku pasti ada di depan Balaikota pada tanggal 9 Mei nanti. Aku siap untuk kecewa jika kamu nggak datang menjumpaiku. Tapi... datanglah jika kamu memang ingin bertemu denganku.”

“Lupakanlah angan-angan gilamu itu, Bim. Kamu akan melakukan hal sia-sia yang hanya akan membuatmu kecewa. Aku memiliki Sony.”

“Kamu akan merindukan aku.”

“Aku akan melupakan kamu karena hari-hariku selalu terisi Sony. Kita cuma punya semalam yang menyenangkan dan harus dilupakan.”

“Andai nggak ada Sony, kamu akan datang menjumpaiku?” Adelia terlihat bimbang dan akhirnya ia benar-benar tidak menjawab.

Bima menghela nafas panjang. “Aku akan menantimu di depan gedung Balaikota. Di bawah pohon yang rindang itu ... 9 Mei pukul 5 sore waktu Indonesia bagian barat.”

Adelia tetap membisu.

Waktu seolah berlari lebih cepat dari lajunya bis malam antar kota. Setidaknya itulah yang Bima rasakan ketika tahu-tahu bis telah memasuki batas kota Solo bagian barat.

Adelia mengambil ponsel-nya dan menelpon seseorang.

“Aku sudah hampir tiba. Kamu udah di terminal, kan?”

Kurang dari setengah menit Adelia sudah mengantongi kembali teleponnya.

“Mana nada-nada rindu itu, Del? Cowok setiamu tetap kesal dan uring-uringan? Menjemputmu dengan setengah hati?”

Adelia tertunduk, menyembunyikan mendung di wajahnya. Untunglah suasana di dalam bis amat temaram. Andai lampu di dalam bis dinyalakan, pastilah Bima mengetahui sepasang mata yang buram itu.

“Aku menunggumu di tempat itu, Del ...” bisik Bima. “Kamu boleh datang atau tidak sama sekali. Aku siap kecewa.”

Pukul 5 pagi. Bis malam antar kota itu akhirnya memasuki terminal Tirtonadi Solo. Bima meraih dan menjabat tangan Adelia sebelum Adelia meraih tas punggungnya yang ada di bawah bangku.

“Sampai ketemu sebulan lagi, Del ...”

“Terima kasih untuk perjalanan yang menyenangkan,” bisik Adelia seolah tak menghiraukan ucapan Bima.

Bima membiarkan Adelia mendahuluinya turun dari atas bis. Bima membuntuti langkahnya dengan jarak yang cukup jauh.

Bima melihat gadis itu melangkah lesu. Rambut panjangnya tergerai dipermainkan oleh angin pagi yang bertiup cukup keras. Seseorang menyeruak dari segerombol orang di tepian sana. Cowok itu berdiri menunggu. Bima yakin, cowok itu adalah Sony. Adelia menghampiri cowok itu, menyentuh lengannya dengan ragu. Keduanya telah berdiri berhadapan dan kini saling bicara. Bima terus melangkah dan sebentar kemudian melewati keduanya. Bima tak ingin menoleh apalagi menyapa Adelia. Ia terus melangkah dan membisu, meski hatinya amat ingin meneriakkan nama Adelia.

Serangkaian kalimat terdengar lapat-lapat di telinga Bima.

“Lain kali kamu harus bicara, Del! Emangnya kamu ini siapa? Wonder Woman, hah?!”

Bima menoleh dan melihat Adelia tengah ditunjuk-tunjuk wajahnya oleh Sony. Adelia hanya menunduk dalam-dalam.

Bima mempercepat langkahnya, keluar dari terminal dan menghampiri taksi. Ia benar-benar tak ingin menoleh lagi.

Akhir Perjalanan (1)

Chapter 1
Teman Seperjalanan


Bima berdiri memberi jalan setelah yakin gadis itu memang hendak duduk di sebelahnya. Ia sengaja mengalah, mempersilakan gadis itu duduk di dekat jendela. Setahunya, penumpang bis lebih suka duduk di dekat jendela. Sebuah tindakan awal yang diharapkan bisa menumbuhkan simpati.

Bima tersenyum lagi.

“Kok senyum-senyum sendiri?” tegur gadis itu setelah duduk dan seketika membuat Bima makin lega dan gembira. Setidaknya ia punya teman seperjalanan yang tidak hanya cantik tetapi juga ramah dan suka bicara. Bima berharap, perjalanan semalam dengan bis antar kota ini tidak membosankan seperti biasanya.

“Kok kamu nanya begitu?” Bima balik bertanya.

“Heran aja,” kata gadis itu sambil menyempurnakan posisi duduknya. “Kamu senyum-senyum terus.”

“Aku cuma merasa senang dan lega aja. Bukankah lebih enak duduk berdampingan dengan seorang cewek cantik yang enak diajak bicara daripada seorang nenek yang tidur mendengkur?”

Gadis itu tersenyum tipis. “Jangan berharap lebih.”

“Maksudmu?”

“Mungkin aku akan tidur dan mendengkur lebih keras dari dugaanmu.”

Sebuah jawaban yang bagi Bima mengisyaratkan keramahan sekaligus kecerdasan.

“Kamu ke Solo?”

“Tentu aja. Memangnya bis ini mau ke mana?”

“Bisa aja kamu turun di Pekalongan, Semarang atau ...”

“Yogyakarta. Kamu?”

“Sama.”

“Tinggal di Solo?”

“Sekolah di sana. Aku tinggal bersama tanteku yang single parent. Sebulan sekali aku kembali ke rumah. Kamu?” Hati Bima semakin gembira. Jelas, ia punya teman seperjalanan yang enak diajak bicara.

“Aku tinggal di Solo.”

“Jadi kamu pulang setelah mengunjungi Jakarta? Seorang diri, cewek secantik kamu... nggak takut?”

“Aku sudah beberapa kali melakukan perjalanan seperti ini. Ada salah seorang sepupuku yang menikah dan aku menghadiri pestanya.”

“Sendiri?”

Gadis itu tersenyum getir. “Mewakili ortu yang... biasa, sibuk!”

“Kamu cewek pemberani.”

Gadis itu mengeluarkan ponsel dari saku jins-nya. Menelepon seseorang.

Ia bicara cukup keras untuk mengimbangi bisingnya terminal Pulogadung yang menerobos ke dalam bis.

“Aku udah di atas bis dan segera berangkat. Jangan lupa jemput ya.... Jam berapa? Entahlah... nanti aku telepon setelah dekat Yogyakarta.” Gadis itu menutup sebelah telinganya. “Apa? Apa? Jangan gitu, dong! Please, kamu harus jemput aku. Nanti aku telepon lagi pas berhenti makan.”

Gadis itu menyudahi pembicaraan dan sesaat terlihat kesal.

“Kakakmu yang juga sibuk?” usik Bima.

“Cowokku.”

“Ooo...”

“Dia masih marah dengan kencan kami terganggu karena aku harus berangkat ke Jakarta agak mendadak.”

“Dia pasti menyesal.”

“Kenapa?”

“Sayang kalau sampai kehilangan gadis secantik kamu.”

Gadis itu menoleh dan menatap Bima sambil mendekap mulutnya untuk menyembunyikan tawa kecilnya. “Kamu merayuku? Sudah tiga kali kamu memujiku. Kamu tipe cowok yang gampang mengobral pujian!”

“Hanya ingin jujur aja.”

“Cewekmu pasti senang menerima pujianmu.”

Bima tertawa sengau. “Kami putus dua bulan yang lalu. Sekarang aku jomblo. Coba tebak, kenapa aku putus sama pacarku?”

“Kamu selingkuh? Mengobral pujian untuk cewek lain?”

“Bukan! Semakin lama dekat dengannya aku semakin nggak bisa memujinya.”

Gadis itu mengkerutkan keningnya, pertanda ia agak sulit mengartikan ucapan Bima.

Percakapan semakin seru. Mereka telah bertukar nama. Bis antar kota itu telah meninggalkan senja Jakarta.

“Kenapa aku nggak boleh tahu nomor telponmu, Del?”

“Nggak usah, Bim. Aku udah ada yang punya dan nggak ingin menebar benih masalah.”

“Pikirmu aku ini biang masalah?” Bima menyeringai. “Cowokmu cemburuan?”

“Jujur, kamu cowok yang menyenangkan, setidaknya sebagai teman seperjalanan. Tapi aku nggak ingin kamu muncul di antara aku dan Sony.”

“Kamu takut aku akan menyaingi Sony-mu? Membuatmu bimbang?”

“Jangan takabur!” Adelia berkata sengit.

Bima tertawa puas.

Akhir Perjalanan (Sinopsis)

Akhir Perjalanan
Created By Sweety Qliquers
(Samarinda, Selasa <> 110510, 0410PM)



Akhir Perjalanan
Chapter 1 Teman Seperjalanan
Chapter 2 Keyakinan Bima
Chapter 3 Akhir Dari Segalanya


Sinopsis

Bima berdiri memberi jalan setelah yakin gadis itu memang hendak duduk di sebelahnya. Ia sengaja mengalah, mempersilakan gadis itu duduk di dekat jendela. Setahunya, penumpang bis lebih suka duduk di dekat jendela. Sebuah tindakan awal yang diharapkan bisa menumbuhkan simpati.

Bima membiarkan Adelia mendahuluinya turun dari atas bis. Bima membuntuti langkahnya dengan jarak yang cukup jauh.

Bima melihat gadis itu melangkah lesu. Rambut panjangnya tergerai dipermainkan oleh angin pagi yang bertiup cukup keras. Seseorang menyeruak dari segerombol orang di tepian sana. Cowok itu berdiri menunggu. Bima yakin, cowok itu adalah Sony. Adelia menghampiri cowok itu, menyentuh lengannya dengan ragu. Keduanya telah berdiri berhadapan dan kini saling bicara. Bima terus melangkah dan sebentar kemudian melewati keduanya. Bima tak ingin menoleh apalagi menyapa Adelia. Ia terus melangkah dan membisu, meski hatinya amat ingin meneriakkan nama Adelia.

Bima tersenyum lebar dan melonjak gembira. Ia tak perlu menunggu terlalu lama. Dilihatnya gadis itu tengah menyeberang jalan dan susah-payah berkelit dari padatnya lalu lintas di depan Balaikota pada sore hari.

Di bawah pohon yang rindang itu keduanya berpelukan erat. Erat sekali..



Tokoh Akhir Perjalanan
Bima Antasena (Bima)
“Mungkin kamu lebih tepat jika punya cowok yang lebih fresh. Yang masih SMA, yang nggak terlalu sibuk dan... tampan seperti aku.”
“Kenapa kita nggak ketemu setahun yang lalu ketika kamu belum punya Sony? Apakah Solo terlalu luas?”
“Kamu yakin bahwa Sony adalah jodoh kamu? Sony yang temperamental itu? Kenapa kamu nggak berpikir bahwa jodohmu baru saja kamu temukan?”
“Siapa yang tahu, Del? Mungkin aja perjumpaan kita yang nggak kita duga ini adalah sebuah awal...”
Tiba-tiba Bima berteriak dan mendorong wajah Adelia ke jendela. “Lihat! Ada bintang jatuh! Mintalah sesuatu, Del. Make a wish!”
“Ya, baiklah. Aku menghormati keinginanmu. Tapi... aku akan menunggu kamu pada tanggal 9 Mei, jam 5 sore di depan Balaikota Solo. Kamu paham tempat itu?”
“Ya. Tepat sebulan lagi, aku menunggumu. Jam 5 sore, aku pasti ada di depan Balaikota pada tanggal 9 Mei nanti. Aku siap untuk kecewa jika kamu nggak datang menjumpaiku. Tapi... datanglah jika kamu memang ingin bertemu denganku.”




Adelia Florenza (Adel)
“Kamu memang cowok yang aneh dan bikin aku suka kaget-kaget dengan candamu.”
“Kamu jangan suka menguping kemudian berprasangka buruk,” desis Adelia.
“Kadang pacaran memang nggak selalu mulus. Ada aja kerikil-kerikil kecil yang.... Ah, cuma kesalahpahaman kecil yang nggak berarti.” Adelia masih mengaduk-aduk isi piringnya dan kemudian menyingkirkan piring itu. Ia minum air putih segelas penuh.
“Lupakanlah, Bim! Kita hanya bertemu dan berteman selama perjalanan ini. Setelah turun dari bis ini di terminal Solo nanti, kita akan saling melupakan. Nggak ketemu, nggak berhubungan. Nggak ada telepon, meski sekedar say hello. Cerita kita berakhir pagi hari nanti.”
“Lupakanlah angan-angan gilamu itu, Bim. Kamu akan melakukan hal sia-sia yang hanya akan membuatmu kecewa. Aku memiliki Sony.”