Sabtu, 29 Mei 2010

Sepi Malam Minggu Yang Indah (1)

Chapter 1
Malam Minggu


Pukul 7 malam. Yasmine duduk termangu di teras rumahnya. Angin malam mengelus wajah mulusnya, mesra. Sepertinya ingin mengajak gadis itu bercumbu. Tapi Yasmine tidak peduli dengan angin genit itu. Rambutnya yang lembut dan tergerai sebahu dibiarkannya menutupi sebagian wajahnya. Yasmine memang sedang kesal. Betapa tidak, di malam Minggu seindah ini dia hanya berteman dengan sepi. Padahal, dia ingin seperti Indy, sahabatnya yang juga teman sebangkunya.

Indy tidak pernah kesepian bila malam minggu tiba. Ada Edo, pacar setianya yang selalu menemani dan mengajaknya pergi menikmati malam minggu.

Dulu, ketika Yasmine baru saja menginjakkan kakinya di bangku SMA, dia tidak pernah merasa sepi seperti ini. Hobinya membaca dan menulis cerpen telah menghabiskan waktu malam minggunya. Bahkan dia selalu merasa kekurangan waktu.

Ilham yang muncul di kepalanya terus mengalir seperti air bah. Sampai-sampai dia merasa kewalahan. Apalagi, kalau lagi musim ulangan. Wah, Yasmine sampai bingung. Soalnya, dia harus memilih belajar atau menulis cerpen? Padahal dia ingin keduanya berjalan lancar.

Tidak heran, bila malam minggu tiba, Yasmine selalu menyambutnya dengan gembira. Sebab dia ingin lekas-lekas menumpahkan sang ilham itu di atas kertas folio. Malam Minggu memang waktu yang paling tepat karena dia dapat mengetik tanpa ada yang menganggu. Dan, Yasmine menikmati semua itu.

Tapi itu dulu. Sekarang, Yasmine mulai merasakan betapa menjemukan malam minggunya. Hanya bergelut dengan buku dan Laptop. Lagian, dia juga ingin menceritakan tentang kencan malam minggunya pada Indy, seperti yang dilakukan Indy setiap hari Senin tiba.

Malam kian merangkak. Jam di ruang tamu berdentang. Suaranya mengusik Yasmine yang masih melamun. Gadis itu mendesah. Tangannya menyibak rambut hitamnya yang dipermainkan angin. Perlahan, ia bangkit dari duduknya, masuk ke dalam rumah.

Di ruang tengah, Yasmine melanjutkan lamunannya. Ia berkhayal, andai saja ada pemuda tampan yang mengunjunginya malam ini. O, betapa bahagianya!

Sedang asik-asiknya berkhayal begitu, terdengar suara motor sport meraung-raung. Yasmine segera beranjak ke depan. Dari balik tirai jendela, dia melihat seorang pemuda tengah mencopot helmnya. Mendadak, Yasmine merasa dadanya berdebar-debar. Apalagi pemuda itu kini memijit bel yang terletak di samping pintu pagar.

Sesaat, nada-nada manis yang ditimbulkan oleh bel itu menggema di seluruh ruangan. Yasmine menenangkan dirinya, lalu melangkah keluar.

“Hai, Wa! Kok, tumben kemari?” Sapa Yasmine setelah ia tahu siapa pemuda itu. Dewa adalah kakak kelasnya. Cowok tampan bertubuh jangkung itu sudah lama naksir Yasmine. Yasmine tahu itu. Cuma, dia merasa kurang sreg dengan cowok itu. Baginya, Dewa terlalu urakan. Pakaiannya tidak pernah rapi. Selalu jins belel dengan kaos tanpa lengan. Sepatunya apalagi, ampun dekilnya! Padahal, Yasmine adalah gadis yang menyukai kerapian.

“Ah, cuma iseng aja. Daripada bengong di rumah.” Ujar Dewa membalas sapaan Yasmine.

“Ayo masuk deh,” Yasmine membuka pintu pagar.

“Kok, sepi Yas?” Dewa mengedarkan pandang sambil mengikuti Yasmine masuk ke ruang tamu.

“He eh,” Yasmine mengangguk. “Papa dan mama pergi menghadiri pesta pernikahan putri sahabat papa.

“Kak Sony sudah sejak sore sibuk dengan pacarnya.”

“Kamu kok nggak sibuk seperti Sony?” Tanya Dewa memancing seraya duduk di sofa.

“Ah, gimana mau sibuk. Pacar aja belum punya kok. “ Yasmine tersipu.

“Kalau ada yang mau jadi pacarmu, diterima enggak?” Pancing Dewa lagi.

Yasmine diam. Dia mulai dapat meraba ke arah mana pembicaraan Dewa. Terlebih lagi melihat tatapan mata Dewa yang menusuk.

“Aku ambilin minum dulu ya?” Kata Yasmine akhirnya berusaha mengelak. Dewa mengangguk. Dipandanginya tubuh semampai Yasmine yang masuk ke ruang dalam.

Beberapa saat kemudian, Yasmine muncul dengan dua gelas sirup merah.

“Silakan minum, Wa.” Katanya.

“Manis sekali sirup ini,” Dewa tersenyum setelah meneguk minuman itu. “Semanis orang yang membuatnya.”

“Wah, Bik Inah pasti senang dipuji begitu.” Yasmine tertawa kecil. Dia tahu, sebenarnya pujian itu ditujukan untuknya. Tapi, bukankah bik Inah yang disuruhnya membuat minuman itu? Sedang dia sendiri, cuma ingin menghindar dari tatapan Dewa, lalu berpura-pura masuk membuat sirup.

Dewa ikut tertawa kecut. Dia tidak menyangka kalau minuman itu dibuat pembantu Yasmine.

“Yas, boleh nggak setiap malam Minggu aku kemari?” tanyanya kemudian.

Yasmine ingin mengangguk, tapi entah kenapa dia menjawab “Boleh saja tapi….,”

“Tapi apa?”

“Tiap hari kan kita ketemu di sekolah.”

“Betul. Cuma kalau di sekolah rasanya enggak bebas.”

Yasmine terdiam. Keheningan menyergap.

“Yas, kamu mau kan jadi pacarku?” pertanyaan Dewa membuyarkan hening. Ditatapnya Yasmine dengan mata penuh pijar bintang.

Yasmine menunduk. Rasanya terlalu cepat Dewa mengucapkan kalimat itu. Terlalu tiba-tiba meski dia mendambakan seorang cowok tapi bukan begitu caranya. Lagipula, dia tidak merasakan adanya debar-debar manis mendengar kalimat itu. Padahal Indy pernah bilang, kalau kita jatuh cinta sama seseorang, pasti kita merasa berdebar-debar bila dia mengucapkan kata cinta atau kata lainnya yang menjurus ke situ. Tapi, aku tidak merasakan hal itu, pikir Yasmine. Aku ragu, apakah aku juga menyukai Dewa.

“Dewa….,” Yasmine mengangkat kepalanya setelah membisu beberapa saat. “Aku…eh, beri aku waktu untuk menjawabnya.”

“Oh, tentu Yas.” Dewa tersenyum. “Aku akan menanti jawabanmu.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar