Kamis, 17 Desember 2009

Bintang Harapan (1)

Chapter 1
Namanya Chacha


Indra bilang, cewek itu nggak cantik tapi manis. Lucu. Apa sih bedanya cantik dan manis? Entahlah, aku nggak tahu. Tapi kata Indra, kalau cantik bikin bosen ngeliatnya, sedangkan manis nggak ngebosenin. Aneh! Tapi kenyataannya begitu. Buktinya cewek itu. Dia memang nggak cantik. Tetapi setiap kali aku melihatnya seolah mata dan bibirnya tersenyum padaku. Hmm, mungkin karena aku tergila-gila padanya. Entahlah. Pendek kata, aku nggak pernah bosen-bosen memandangnya.

Ya, Rossa Anastasya alias Chacha. Cewek manis itu hampir tiap hari hadir dalam mimpiku. Tiap saat, tiap detik wajahnya singgah di benakku. Ah... Inikah cinta? Dan hari ini, sengaja aku datang lebih awal dari biasanya. Aku Ingin menatap wajahnya lama-lama. Aku ingin melihat senyumnya. Aku ingin... ugh! Aku tersentak kaget.

Cewek itu sudah datang. Langkahnya oiii... betapa anggunnya. Matanya, bibirnya... duuhh! Begitu menawan. Aku benar-benar terpana. Chacha... Chacha... betapa aku ingin memilikimu.

Sekarang Chacha duduk di bangkunya. Cantik dan mengagumkan, lalu mengeluarkan buku dari tasnya. Sedetik kemudian, dia asyik membaca catatannya. Aku terus memperhatikannya. Diam-diam, aku merasa beruntung menempati bangku yang paling belakang. Kalau tidak, aku tidak dapat memperhatikannya sepuas hati.

Ooops! Terkejutnya aku, malunya aku. Seolah tahu dirinya diperhatikan, Chacha menengok ke belakang. Ia menatapku dan tersenyum manis. Aih... aih! Betapa aku melayang-layang karenanya.

Gugup, kubalas senyumannya. Dan entah darimana keberanian itu. Tiba-tiba saja aku telah duduk di sampingnya.

”Belajar apa?” Tanyaku gugup.

”Sejarah.”

Ooo... merdu sekali suaranya.

”Mmm... Lo murid baru ya?” Aku semakin gugup. Dalam hati, aku memaki diriku. Pertanyaan apa itu? Sudah jelas, dia memang murid baru di kelasku... kok pake nanya sih??

”Iya, Lo?” Chacha balik tanya.

”Murid lama.” Sahutku sambil berusaha menata denyut jantungku yang riuh kaya’ pasar ikan sedang kebakaran.

”Gue Rossa Anastasya, panggil aja Chacha. Lo?” Chacha memecah keheningan. Busseet! Masa’ sih, nggak tahu nama teman sekelas? Keterlaluan! Tapi... mungkin karena baru seminggu dia masuk sekolah ini, makanya dia nggak tahu namaku. Apalagi, nama Adrian di kelas ini ada 2 orang. Adrian ginting yang gendut dan aku Adrian ganteng. (Paling nggak gue lebih keren ketimbang Adrian ginting. Narsis mode on. Hehehe...)

”Adrian Yudhistira. Panggil aja Ryan.” Jawabku kemudian.

”Gue pernah denger nama lo waktu diabsen, tapi nggak pernah tahu kalo’ itu nama lo. Malah, kaya’nya... gue nggak pernah ngeliat lo deh.”

Astagaaa!!! Dia nggak pernah ngeliat aku, teman sekelasnya? Makhluk keren begini? Aku terlongo, sedikit keki. Tapi bibirku hanya tersenyum biar terlihat cool.

”Oh... jelas aja, gue kan’ duduknya di belakang. Dan lo... lo jarang banget nengok ke belakang. Lo selalu asyik sama buku-buku lo itu.” Kataku.

Chacha tertawa kecil. Ahh, tawanya begitu enak didengar. Seperti nyanyian merdu.

”Iya sih! Gue emang terlalu sibuk sama buku-buku gue. Sampe-sampe nggak merhatiin keadaan di sekeliling gue.”

”Makanya, mulai hari ini jangan terlalu serius. Lo belum kenal temen-temen yang lain kan? Ntar, gue kenalin deh Ok?” Aku menawari diri. Sok baek gitu loh!!!

Chacha mengangguk dan tersenyum. Uff! Lagi-lagi aku terpana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar