Rabu, 30 Desember 2009

Pastikan Dia Jangan Menunggu (4)

Chapter 4
Virgo Dan Tasya


“Virgo!”

“Kapan balik dari Amsterdam?”

“Kemarin. Aku tadi telpon kamu, tapi katanya kamu keluar. Jadi hari ini aku kesini.”

Tasya masih saja cantik, seperti dulu. Lebih cantik malah. Tapi membuat Virgo merasa sangat asing.

“Kamu masih suka ngelukis, Go?”

“Seperti yang kamu lihat.”

“Aku dengar kamu sudah lulus. Selamat, ya? Kapan wisudanya?”

“Bulan depan.”

Genggaman tangannya pun sudah terasa lain. Tasya yang kembali sekarang sudah terasa lain. Tasya yang kembali sekarang bukan seperti Tasya yang dilepasnya pergi dulu.

“Tempat ini tidak pernah dibereskan, ya?” Tasya mengalihkan pembicaraan. Mencoba mencairkan kedinginan Virgo.

“Kadang-kadang.” Kalau Beby datang dan Virgo tidak sedang melukis. Virgo akan berselonjor di sofa panjang, mendengarkan kicauan petasan injak itu dan membiarkan gadis itu menata paviliunnya sesuka hati.

“Virgo, gimana kalau kita keluar aja?”

“Sorry Sya, aku capek banget.”

“Aku temenin di sini, ya?”

“Nggak usah, kamu nggak liat apa tempat ini kotor banget.”

“Nggak pa-pa. Aku pengen ngeliat kamu ngelukis kaya’ dulu lagi.”

Bagaimana bisa, sementara suasana di antara mereka tidak lagi sama seperti dulu?



***



“Kenapa cita-citamu berubah?” tanya Virgo dua tahun yang lalu saat Tasya memutuskan berangkat ke Amsterdam.

“Kesempatan ini jarang sekali datang, Go. Aku nggak bisa mengabaikannya begitu saja, ketika tawaran ini disodorkan padaku.”

“Dan karena itu, berarti kita harus berpisah?”

“Cuma sementara!”

“Tapi kamu bahkan nggak bisa memastikan kapan akan kembali. Gimana kalau kamu nggak kembali?”

“Aku pasti kembali.”

“Sampai kapan?”

“Nggak lama!”

“Setahun, dua tahun, sepuluh tahun ? Atau kamu pengen aku nungguin kamu seumur hidup ?”

“Virgo!”

“Kuliahmu sudah setengah jalan, Sya.”

“Bisa kulanjutin lagi, kalau aku kembali.”

“Asal kamu kembali belum jadi nenek-nenek.”

“Kamu nggak suka aku pergi?”

“Ya! Aku nggak suka kamu membuang semua yang sudah kamu miliki cuma untuk mengejar sesuatu yang baru. Yang nggak pasti!”

“Aku nggak membuangnya, Go. Aku cuma menunda. Aku nggak akan pernah tahu, kalau aku nggak pernah mencoba.”

“Gimana kalau kamu gagal?”

“Aku bisa kembali, dan meneruskan kuliahku yang di sini.”

“Asal kamu tidak terlambat. Asal pintu belum tertutup rapat saat kamu kembali.”

Virgo tidak bisa mengerti. Tidak bisa memahami. Tasya sudah punya segalanya. Keluarga. Cita-cita yang bakal diraihnya dalam dua tahun mendatang. Virgo yang mencintainya, yang didapatnya setelah menyingkirkan tidak sedikit saingan.

Dan sekarang Tasya bermaksud meninggalkan semua demi sebuah kesempatan ke Amsterdam. Hanya karena gadis itu menerima tawaran untuk hidup dan belajar musik di Negeri Kincir Angin itu. Tawaran dari salah seorang Oomnya!

Musik?! Astaga! Virgo tahu betul, Tasya tidak pernah berminat pada dunia yang satu itu.

“Aku nggak bisa menghalangimu. Aku cuma berharap, kamu sudah kembali sebelum semuanya terlambat.”

Termasuk dalam hal memperoleh kembali hati Virgo.



***



“Beby siapa, Go?” Tasya meraih diktat Beby yang tergeletak di atas sofa.

“Adik tingkat di kampus.” Virgo mengambil diktat itu dan meletakkannya di atas lemari.

“Dia sering kesini ya? Kok bukunya ada di sini?”

“Bukan urusanmu.”

“Tentu saja urusanku kalau semua belum terlambat.” Tasya menatap Virgo sambil tersenyum.

“Belum terlambat kan, Go?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar