Sabtu, 15 Mei 2010

Rokok (5)

Chapter 5
Hantu Rokok


Suatu sore di hari ke tujuh Clara menjalani kehidupan ganda alias menjadi gadis perokok di siang hari, Bik Inah menghampirinya sambil melirik kiri kanan seolah takut ada yang mencuri dengar.

"Non, Non, tahu nggak? Hiii...." Bik Inah bergidik.

"Apaan sih, Bik? Hiii itu apa?" Clara bingung.

"Kayaknya rumah ini ada hantunya, deh...." Bik Inah mencengkeram lengan Clara sambil terus mengedarkan pandangannya, seolah berharap sekaligus tidak berharap menangkap sosok si Hantu.

"Ah, Bibik jangan nakut-nakuti aku dong!" Clara balik memegang erat bahu Bik Inah. "Bibik kok bisa bilang begitu?"

"Lha, iyalah, Non! Mosok akhir-akhir ini tiap siang sehabis Bibik bangun tidur, ada bau rokok di sekitar dekat kamar Si Non. Hiii...." Matanya menatap kamar mandi 'surga' Clara, sebelum berlanjut dengan kalimat sepolos bocah. "Kan di rumah ini nggak ada laki-lakinya. Ada juga Si James," Bik Inah menunjuk burung kakatua jantan milik Tante Olivia, si empunya rumah.

"Ah, Bapak tukang bangunan sebelah rumah barangkali, Bik, yang ngerokok. Terus asapnya masuk ke rumah sini," Clara mengurai dusta, berusaha mewajarkan sikapnya dengan berusaha mengalihkan perhatian. "Oh ya Bik, boleh minta dibuatkan jus alpukat, ya? Sekarang."
Bik Inah mengangguk, tak lagi melanjutkan 'tema' hantu yang merokok!

Clara bicara dalam hati," Wah, gawat nih kalau Bik Inah ketakutan. Bisa-bisa dia pensiun dini." Dahinya mengerut, berpikir keras, "Tapi kok... masih tercium ya bau asapnya?"

***

Malam itu Tante Olivia datang mengunjungi para penyewa kamar di rumahnya, dan Clara memberanikan diri mengajukan usulan bahwa ia akan menambah exhaust fan di kamar mandi dari koceknya sendiri. Dan supaya tidak mencurigakan, ia juga menambah exhaust fan di dua kamar mandi lainnya.

Tante Olivia senang bukan kepalang dan sangat memuji Clara atas perhatiannya. Teman kost lainnya pun gembira dan memandang Clara seolah ia adalah pahlawan yang baru saja pulang membawa kemenangan karena berkat Clara sirkulasi udara kamar mandi dan toilet akan lancar sehingga kenyamanan hidung dapat terjaga terutama bila pengguna kamar mandi sebelumnya baru saja menunaikan 'panggilan alam'.

Entah bagaimana mulainya, Tante Olivia mulai bernostalgia tentang suaminya yang meninggal akibat kanker paru-paru yang disebabkan oleh rokok. Jadilah cerita berulang-ulang itu terdengar lagi. Para wanita muda di sekitarnya hanya dapat tersenyum kecut sambil memutar otak bagaimana cara menghilang terbaik dari ruangan tersebut.

"Ah, nggak mungkinlah aku akan terkena kanker paru-paru. Toh hanya satu batang per hari. Maksimal tiga," Clara berusaha menenangkan diri dalam hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar