Kamis, 07 Januari 2010

Malam Sejuta Bintang (8)

Chapter 8

Dua Hati Yang Tersakiti




Saat aku siuman di rumah sakit

Aku melihatmu tertidur pulas di samping ranjangku

Aku sangat gembira

Rasanya ingin mengulurkan tangan

Membangunkanmu

Tapi yang muncul di depan mataku

bukan wajahmu

Aku sudah ingat semua

Ada kau, ada Keysha

Aku tidak tahu harus bagaimana

Tapi setiap deretan kenangan itu menjelas

Aku sadar betapa besar cintaku padamu…Melati



(Marvel Andromedha)

Dilema Rindu Cinta Sejati



***



“Marvel... tunggu!”



Suara lunak separuh mendesis itu menghentikan jemari Marvel yang hendak menekan tuts nomor pada pesawat telepon kamar hotel.



“Ada apa?” tanyanya lembut.



Melati menelungkup di atas tempat tidur. Mengarahkan tangan kanannya ke arah gagang telepon yang hendak diangkat oleh Marvel tadi. Dibukanya phone address pada ponselnya, mencari nama Rossa Anastasya (Kak Chacha).



“Sekarang giliranku. Biar aku yang menelepon Kak Chacha dan Keysha,” urai Melati sembari menggeser posisi tangan Marvel menjauh dari pesawat telepon.



“Aku kangen sekali dengan mereka.”



“Memang, kupikir sebaiknya kamu yang menghubungi Chacha dan....”



“Marvel...!”



“Ayo? Apalagi? Cepat hubungi mereka....”



Melati menatap wajah tegas yang tengah menunduk itu. Ia tahu, Marvel masih menyimpan kenangan bersama Keysha. Meski ia tidak mencintai Keysha, tapi benang merah kebersamaan dan hari-hari panjang yang dijalaninya bersama gadis tomboi itu semasa ia menderita amnesia memang masih mengiang dalam ingatan. Tidak mudah memupus memori serangkaian hari yang telah mereka lalui bersama. Sebab Keysha adalah bagian dari takdirnya.



“Ya, ampun!” Marvel menepuk dahinya.



“Sejak pulang dari Taman Century Flower sore tadi, ternyata kita belum mandi. Hm, sebaiknya aku mandi dulu sembari kamu menelepon Chacha dan Keysha.”



Melati mengangguk lalu mengurai senyum simpul di bibir, mengekori tawa yang terdengar dipaksakan pemuda itu. Ia tahu Marvel sedang mengalihkan pembicaraan mereka tentang Keysha. Dan dua titik airmatanya nyaris membasahi pipinya ketika pemuda itu berbalik memunggunginya, berjalan gontai menuju kamar mandi hotel.



Mungkin pemuda itu masih terluka dengan dilema hatinya. Tapi pilihan itu telah diputuskannya tanpa penyesalan. Ketegasan untuk memilih cinta pertamanya sudah tentu merupakan hal tersulit untuk seseorang dengan dua kenangan pada dua masa.



Ya, Tuhan!



Melati menggigit bibirnya. Tak sedikit pun berani membayangkan rasa perih yang dirasakan pemuda itu. Bilur-bilur luka masa lalunya adalah tragedi mencekam. Mentari Olivia dan Chintya Bella (gadis yang dijodohkan Mentari Olivia dengan Marvel) adalah salah satu dari sekian banyak lara itu. Apakah takdir terlalu kejam mempermainkan Marvel?!



Melati menggeleng. Ia sendiri tidak tahu. Hanya, ia yakin hati Keysha pasti hancur. Jemarinya membeku di atas tuts nomor pesawat telepon. Sama halnya dengan Keysha, Aditya juga menjadi korban takdir.



Dan ketika satu tuts nomor internasional telah ditekannya, kembali ada ragu menguak di benaknya. Dapatkah ia membendung airmata yang diyakininya bakal membanjiri dialognya dengan Keysha?



Tinggal dua hari lagi momen indahnya bersama Marvel akan terwujud. One moment in time. Hanya terjadi sekali dalam seumur hidup. Haruskah ia membiarkan Keysha tercenung dan hanya mengenang cinta masa lalunya berbahagia dengan gadis lainnya? Tidak! Semestinya gadis bangsawan itu menyaksikan pernikahan pemuda yang pernah dicintainya untuk terakhir kalinya. Suatu momen indah yang mungkin pernah diidam-idamkannya suatu saat dulu.



Seberapa besar pengorbanan Keysha pada Marvel, sungguh Melati tidak tahu. dia tidak dapat menakar seberapa banyak pengorbanan Keysha pada Marvel. Tapi jauh di lubuk hatinya, dia dapat meraba keagungan cinta seorang Keysha. Bahwa, dia mampu mengorbankan perasaannya sendiri. Merelakan hatinya melepas pemuda yang dicintainya sepenuh jiwa pada gadis lain demi kebahagiaan pemuda itu kelak. Menyisakan waktunya yang tinggal tiga bulan untuk mempertemukan Melati Ananda dan Marvel Andromedha. Dan Keysha-lah yang menghadapi Prahara Cincin Meteor itu. Dia bahkan berani menerjang si Pencuri cincin meteor tanpa mempedulikan keselamatan nyawanya sendiri. Menyimpan baik-baik cincin meteor itu agar Marvel terhindar dari marabahaya dan petaka seperti yang dijelaskan dalam legenda cincin meteor tersebut.



Apakah pertemuannya dengan Marvel di Pandewa ini merupakan suratan takdir? dia sendiri pun tak tahu. Jalan-jalan kenangan di Pandewa memenuhi benaknya dengan beragam kisah. Tempat-tempat teduh. Bangunan-bangunan Kuno. Danau Sagrada Familia. Air Mancur Guell. Pesta kembang api. Karnaval. Candle light dinner diiringi lagu 'Te Quiero Te Quiero'. Kado gaun putih dari Marvel sesaat sebelum berangkat ke Taman Century Flower. Cincin meteor. Semua kenangan itu membaur dalam kenangannya.



Lalu muncullah gadis dari Ferindo itu…Keysha setahun lalu. Mengawal pemuda itu mencari jatid irinya yang hilang karena amnesia. Dirawatnya pemuda itu dengan segenap kasih. Mencintainya sepenuh hati. Menerima keinginan Mentari Olivia untuk dipertunangkan dengan Marvel, sebagai bagian dari sandiwara dan siasatnya agar dapat menyatukan seorang gadis bernama Melati Ananda dengan ahli waris Continue Enterprise itu.



“Melati!” Terdengar teriakan yang berbaur dengan guyuran air dari dalam kamar mandi.



“Apakah kamu sudah menghubungi mereka?”



Melati terkesiap. "I-iya, iya. Aku lagi mencari nomor mereka di HP-ku.”



Kembali terdengar guyuran. Serta merta jemarinya yang lembut menekan tuts nomor pesawat telepon. Dilekatkannya gagang telepon pada daun telinganya. Ada nada panggil beberapa kali sebelum dijawabi oleh suara merdu. Suara khas Chacha!



“Halo....”



“Halo, Kak Chacha!”



“Siapa, ya?”



“Ini aku, Melati!”



“Hei, Melati! Apa kabar?”



“Baik, Kak Chacha. Kak Chacha sendiri bagaimana?”



“Hm, biasa. Sibuk.”



“Jangan terlalu capek, Kak Chacha. Rileks sedikit kenapa, sih?”

Suara merdu tersebut terdengar menderaikan tawa. Melati mengekori tawa itu dengan lantun lembut.



“Eh, Melati... aku dengar dari Zinc 3, kamu berada di Pandewa ya?”



“Iya, Kak Chacha. Sebenarnya aku mendapat tugas memandu wisata ke Pandewa ini dari Avianca Travel, perusahaan biro perjalanan umum tempatku bekerja. Tapi... saat ini aku bersama Marvel.”



Terdengar suara deheman yang disengaja. Melati jadi risih. Wajahnya langsung memerah.



“Wah, wah. Mengulang romantika hujan meteor, ya?”



Wajah Melati bertambah merah seperti habis terbakar. Ia tersenyum tanpa sadar. Semua sahabatnya sudah tahu kisah tentang hujan meteor tersebut. Mulanya kisah tentang hujan meteor itu hanyalah dirinya dan Marvel yang tahu.



Saat itu ia dan Marvel masih menghadapi serangkaian kendala sehingga hubungan mereka senantiasa pasang surut. Selain rintangan terberat dari Mentari Olivia yang tidak ingin putranya berpacaran dengan seorang gadis dari kaum bawah, ia dan Marvel juga menghadapi kendala besar saat terlibat cinta segitiga dengan Aditya. Akibat prahara cinta segitiga tersebut, ia dan Marvel dilingkupi kebimbangan. Dan ketika mereka memutuskan untuk menuntaskan masalah itu suatu hari di atas balkon rumah, maka diambillah suatu kesimpulan bahwa cinta mereka akan bersatu selama-lamanya jika pada saat itu ada meteor yang melintas. Pada kenyataanya, setelah ikrar mereka terucap, malam itu langit memang tengah mengucurkan hujan meteor.



“Melati....”



“Eh, uh... Kak Chacha....”



“Kamu melamun, ya?”



“T-tidak.”



“Mana Marvel?”



“Lagi mandi. Kak Chacha mau bicara?”



“Tidak usah. Sampaikan saja salamku.”



“Beres, Kak Chacha.”



“Well, tumben kalian mau telepon aku jauh-jauh di Paris nih?”



“Sorry, Kak Chacha. Kami bermaksud mengundang Kak Chacha ke Pandewa.”



“Oya? Hm, aku tahu. Mungkin kalian mau menikah, ya?”



“Hm, bagaimana ya?” Melati menggantungkan kalimatnya, wajahnya menyumringah.



“Ya, memang iya, Kak Chacha!”



Suara di seberang sana terdengar seperti terlonjak kaget. “Ka-kamu tidak sedang membohongi aku, kan?!”



“Mana pernah kami membohongi Kak Chacha, sih?”



“Oh, thank's God! Akhirnya...”



“Kak Chacha harus datang, ya?”



“Pasti. Peristiwa paling bahagia buat kamu dan Marvel harus aku hadiri. Hei, Melati... aku akan membawa sekaligus gaun-gaun keren hasil rancangan desainer top di sini. Kamu harus memakainya pada saat acara pernikahanmu nanti. Wah, pokoknya dijamin kamu pasti jadi tambah cantik!”



“Kak Chacha tidak usah terlalu berlebihan. Aku tidak perlu gaun-gaun semewah itu, kok.”



“Tapi....”



“Aku akan mengenakan gaun putih yang diberikan Marvel tempo hari saat janjian dan menunggunya di Taman Century Flower setahun lalu. Kak Chacha masih ingat, kan?”



Suara Chacha seperti terdengar mengangguk. “Well, kalau begitu terserah kamu. Yang penting aku sangat gembira mendengar berita aktual kalian. Hm, aku turut merasakan kebahagiaan kalian.”



“Acaranya besok lusa pagi. Di Taman Century Flower. Kak Chacha datang, ya?”



“Oke. Mungkin aku langsung berangkat hari ini. Kebetulan acaraku tidak terlalu padat.”



“Terima kasih, Kak Chacha. Bye.”



“Bye.”



Telepon ditutup. Melati menghela napas. Ia masih tersenyum-senyum sendiri. Meski baru berkenalan dengan gadis berprinsip keras itu beberapa saat setelah menjalin tali persahabatan dengan Zinc 4, tapi Chacha sangat bersahaja. Ia sebenarnya merasa sedih saat menyaksikan Aditya memutuskan hubungannya dengan Chacha. Entahlah. Aditya yang kelewat posesif, ataukah Chacha yang terlalu menganggap sepele cinta mereka. Yang pasti hubungan mereka memang telah berakhir.



Dan, Keysha!



Melati menepuk dahinya keras tanpa sadar. Dia mesti menghubungi gadis itu. Mengabarinya sesegera mungkin berita gembiranya bersama Marvel. Mumpung masih ada waktu. Sebelum detak-detak sang waktu yang bergerak cepat tak menyisakan kesempatan lagi untuk mereka bertemu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar