Senin, 01 Maret 2010

Abadi Untuk Selamanya (2)

Chapter 2
Dia, Yang Selalu Hadir Dalam Mimpiku

Senin pagi yang suram. Mentari tidak menampakkan diri karena tertutup awan kelabu. Mungkin ia pun takut padaku, takut jika aku menghancurkan keceriaan paginya seperti aku menghancurkan hati laki-laki yang akhir-akhir ini mengusik mimpiku. Kalau saja Rendy tahu, bahwa hatikupun sehancur hatinya. Hanya saja aku terlalu pengecut untuk mengakuinya. Aku sudah terlanjur menutup hatiku rapat-rapat. Tak ada celah sedikitpun untuk sesuatu yang bernama cinta karena di hatiku sudah terisi penuh oleh sesuatu yang bernama luka. Namun entah bagaimana caranya, cinta itu mulai menyelinap masuk ke lorong hatiku. Dan itu karena Rendy.

Aku menyeret kakiku yang terasa berat menuju kelasku. Tak kuhiraukan beberapa wajah yang kukenal menyapaku karena aku sedang tenggelam dalam kesedihanku sendiri. Kupandang langit pagi yang terlihat muram. Mungkin langit tahu perasaanku saat ini karena ia ikut menangis bersama jiwaku. Namun suara tangisan langit tak dapat mengalahkan bunyi bel sekolah yang tiba-tiba meneriakkan gemanya dengan lantang, memaksa murid-murid masuk ke dalam kelas walau dengan enggan.

Kubiarkan tanganku menopang kepalaku, menunggu sang pendidik melangkahkan kakinya ke dalam kelas. Namun yang ditunggu tidak kunjung tiba sehingga sang waktu membiarkan pikiranku melayang kepada seseorang. Rendy, dia yang akhir-akhir ini sering hadir di mimpiku, dia yang tak pernah lelah mengetukkan jemari cintanya di pintu hatiku, dia yang tak henti-hentinya menunggu balasanku.

Kutatap kertas putih dihadapanku, lalu kubiarkan tanganku menorehkan suara hatiku.

Dia pergi,
Membawa tawaku... cintaku… mimpiku…
Meninggalkan luka… benci… dan sesal

Dan kini kau datang,
Mengembalikan yang telah hilang
Dan mengusir sepi

Tapi…
Aku terlalu takut membuka mata
Dan terbangun dari mimpi
Aku terlalu pengecut untuk melihat kenyataan
Aku takut…

Ketika sadar,
Semuanya kosong

Bel tanda istirahat berbunyi dan aku masih saja termenung. Kutolak beberapa ajakan teman yang ingin ke kantin. Aku hanya ingin menenggelamkan diri dalam angan-angan. Kutatap pintu di depan kelasku. Disanalah biasanya dia berdiri memandangku dari kejauhan, menatapku dengan senyuman dan melambai-lambaikan tangannya padaku. Saat itu aku tak mengacuhkannya. Namun kini, tak kutemukan siapapun disana.

Tidak lama kemudian, yang dinantipun telah datang. Sang guru langsung saja melantunkan kalimat penuh makna yang sama sekali tidak kumengerti karena aku terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri. Hari ini waktu merangkak sangat lambat, rasanya seperti seabad ketika akhirnya bel pulang sekolah berbunyi.

Tubuhku bejalan lemah tanpa jiwa. Kulihat langit tak lagi bersedih. Sepertinya langit telah menemukan kebahagiaannya karena ia menunjukkan lengkungan warna-warni indah sebagai tanda keriangan hatinya. Mataharipun tidak malu-malu lagi memancarkan sinarnya. Kicauan burung-burung seakan melengkapi kegembiraan cakrawala. Sedangkan aku tidak bisa seperti mereka, aku sudah terperosok ke dalam lubang yang kugali sendiri.

Kuhentikan langkahku disini, ditempat dia biasa berdiri untuk menunggu dan menanti kehadiranku yang tak pasti. Mataku terus mencari sosok yang begitu berarti, namun dia tak ada kali ini. Aku kecewa. Ada apa dengan diriku? Bukankah selama ini aku selalu menghindari dia yang selalu menghampiri?

Aku hendak melangkah pergi, lalu kulihat di kejauhan sosok yang tak lain adalah dirinya. Rendy berada jauh di depanku. Melangkah pelan dengan kepala tertunduk. Kuikuti langkahnya beberapa meter di belakangnya, hanya sekedar ingin memuaskan hati. Dia berjalan tanpa semangat. Mungkin hatinya sedang risau, seperti hatiku saat ini. Andai kudapat menghilangkan duri dihatinya, andai dapat kuhapus kabut disanubarinya, andai… ah, itu semua hanya andai yang tak mungkin terjadi.

Mataku terus memandangnya tanpa henti, hingga tiba-tiba kudengar seseorang berteriak padaku dan sedetik kemudian tubuhku terhantam sesuatu hingga ku terlempar dan terhempas ke bumi dengan keras. Tubuhku terasa sangat sakit. Kurasakan perlahan-lahan tulangku melebur. Perih. Sangat perih. Kepalaku terasa pening. Samar-samar kulihat beberapa pasang mata memandangi di sekelilingku. Salah satunya adalah mata yang sangat kukenal, mata yang selama ini menatapku dengan penuh cinta.

Rendy mendekatiku dan duduk disampingku. Dia mengangkat kepalaku dengan hati-hati dan menyandarkannya di lengannya. Dia membelai lembut wajahku yang penuh darah sambil terus memanggil namaku. Tiba-tiba dingin merasuki tubuhku, penglihatanku mulai berpendar, kulihat sinar putih yang terus mendekatiku.

Kugunakan sisa tenagaku untuk mengambil kertas berisi curahan hatiku dari kantung bajuku dan kuberikan kertas itu padanya. Pandanganku mulai gelap dan akhirnya menjadi hitam pekat. Masih terdengar ditelingaku dia meneriakkan namaku dengan pilu sebelum semuanya sunyi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar