Jumat, 23 April 2010

Cinta Tak Harus Memiliki (5-End)

Chapter 5
Kenyataan Pahit


Kalung berliontin hati itu masih ku timang-timang. Tak kusangka setelah sekian lamanya kini aku bisa berhubungan dengannya lagi. Ini adalah hal yang kunantikan selama 5 tahun lamanya. Tinggal menghitung hari untuk bisa bertemu dengan pujaan hati yang selama ini membuatku menutup pintu hati pada lelaki lain.

Hari yang dijanjikan itu telah tiba. Malam pada saat Virgo menelphoneku untuk pertama kali, dia memintaku untuk bertemu. Katanya ada hal penting yang harus dibicarakan. Mungkinkah kelanjutan hubungan yang tertunda? Ah jantungku sepertinya tak ada di tempat lagi, membayangkan kebahagiaan yang tiada terkira.

Dari jauh aku sudah mengenali laki-laki yang duduk di kafe itu. Dia adalah Virgo. Laki-laki yang tidak pernah hilang dari ingatanku. Albumnya terlalu sulit untuk terhapus dari dasar hatiku. Dia masih seperti dulu. Tampan dan macho. Hanya sekarang dia terlihat lebih mapan dan berwibawa. Dadaku semakin berdegup kencang saat beberapa meter aku berdiri di belakangnya. Aku tak tahu bagaimana memulai pembicaraan. Waktu lima tahun telah membuat semua tiba-tiba terasa asing dan beku. Seperti tidak pernah bertemu sebelumnya.

Pertemuan itu adalah awal hubungan seriusku dengan Virgo. Tanpa menunggu waktu lama kami merencanakan pernikahan yang terkesan begitu cepat. Tapi penantian selama lima tahun itu terlampau lama untuk di lewatkan dengan pernikahan yang tertunda.

Kami menyiapkan pesta pernikahan yang sangat mewah. Undangan tersebar kesegenap penjuru. Dari saudara, kerabat, teman, dan tetangga semua kami undang. Diam-diam aku juga mengundang Callysta. Aku sudah kangen padanya. Aku juga tidak sabar ingin melihat anak yang dilahirkannya lima tahun yang lalu. Anak dari seorang laki-laki bajingan dan tidak bertanggung jawab.

Hari pernikahan itu telah tiba. Semua tamu undangan sudah hadir dan tengah menikmati pesta yang sangat meriah. Kebahagiaanku saat itu tak bisa di ukur oleh apapun. Aku dapat meraih cintaku dengan sempurna. Kini aku telah menjadi milik Virgo seutuhnya.

Diantara semua tamu undangan aku tidak melihat sosok Callysta. Apa mungkin aku sudah tidak mengenalinya lagi? Pikirku. Aku terus menunggunya sampai pesta selesai tapi sosok itu tidak datang juga. Aku mulai putus asa. Mengapa Callysta tidak menghadiri pestaku? Padahal dulu aku tak pernah ketinggalan menghadiri pesta ulang tahunnya.

“Non… tadi di depan ada seorang wanita, dia hanya menitipkan surat ini untuk non…” kata bi Inah sembari memberikan sebuah amplop berwarna putih. Dadaku berdebar-debar saat kubuka amplop itu. Aku tak sabar ingin tahu isi surat dari wanita misterius yang dikatakan bi Inah. Mungkinkah dia Callysta…? Rasanya tidak mungkin. Tapi kemungkinan itu ada benarnya juga. Surat itu memang dari Callysta.

Dear Luna sahabatku,

Aku minta maaf karena aku tidak bisa hadir di hari pernikahanmu. Ada hal yang membuatku tidak bisa berada bersamamu di hari yang membahagiakan ini. Aku hanya bisa berdoa semoga kamu hidup bahagia bersamanya. Ada satu hal yang harus kamu tahu, dulu kamu selalu bertanya siapa laki-laki yang tega merenggut masa depanku, jawabannya berada di depan matamu Kamila.
Semoga kamu bahagia bersama laki-laki pilihanmu.


Salam sayang dari sahabatmu.
Callysta


Di hari yang paling membahagiakan ini airmata mengalir deras di pipiku. Tak kusangka semua ini berakhir dengan kepedihan. Laki-laki brengsek itu kini telah menjadi bagian hidupku, suamiku. Aku tak tahu hari seperti apa yang akan ku lewati bersama laki-laki yang telah menghancurkan masa depan sahabatku. Kalung berliontin hati itu menjadi saksi bisu kepedihan hati di hari istimewa ini. Hati yang terluka bagai teriris sembilu oleh dusta dan kepalsuan.




TAMAT
Copyright Sweety Qliquers
www.mininovel-lovers86.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar